
Geraldine berteriak frustasi saat vibratornya ternyata tidak menyala. “Sialan! Kenapa harus rusak di saat yang tak tepat!” geramnya sembari melempar alat yang sudah tak bisa dipakai untuk membantu memuaskan hasrat yang kian menanjak.
Bercedak kesal, kaki Geraldine tak bisa diam karena area sensitif di bawah sana terus mengeluarkan cairan pelumas tanpa diberikan ransangan terlebih dahulu.
Efek obat peningkat gairah membuat daerah reproduksi Geraldine terus berkedut. Menginginkan mendapatkan hentakan yang begitu mantap. Meskipun tak akan menimbulkan efek sampai kehilangan nyawa, tapi tetap saja membuatnya sulit untuk tidur sebelum terpuaskan.
Kaki Geraldine tidak bisa diam sejak tadi. Dia mencoba menahan agar pelumas alami tak keluar lagi. Tapi tetap saja sulit. Itu sudah otomatis dari dalam sana.
Geraldine mengacak-acak rambut sampai berantakan. “Argh ... dasar Roxy tidak peka!” Suara yang dikeluarkan begitu lantang. Tak tahu saja kalau pria yang diumpati sedang berada di luar kamar.
Mendengar teriakan sang wanita, Roxy menarik dua sudut bibir membentuk senyum simpul. Dia bukan tidak ingin membantu, tapi biarkan Geraldine menurunkan ego. Setidaknya ia tetap berjaga andai saja pujaan hati menyerah dan akhirnya menginginkan dirinya.
Di dalam kamar, Geraldine kelimpungan sendiri. Membolak balikkan badan bagaikan daging panggang, namun tetap saja terasa tak nyaman. Disaat seperti itu, mendadak telinga mendengar dering ponselnya. Segera meraih tas yang ada di lantai.
Bibir Geraldine berdecak ketika membaca ada nama Roxy tertera di layar. Dia tidak mengabaikan, justru mengangkat tapi menyapa dengan sinis. “Kenapa?!”
“Jika kau membutuhkan bantuan, aku ada di depan kamarmu.”
“Tak butuh, aku sudah bermain dengan vibrator!”
“Aku mendengar semua keluhanmu bahkan umpatanmu, vibratormu mati.”
Harus tahan, jangan sampai kalah. Geraldine tidak akan memohon pada Roxy, kecuali pria itu datang padanya langsung memberikan bantuan. Akan tetapi, sudah satu jam berlalu, ia tetap saja masih seperti belatung yang tak bisa diam.
“Shitt!” umpat Geraldine karena nampaknya pertahanan diri harus dituntuhkan. Dia tidak bisa terus terjaga selama semalaman. Bisa pusing jika sampai seperti itu.
Akhirnya Geraldine pun menurunkan kaki, berjalan biasa saja menuju arah pintu. Dia tidak sempoyongan karena tak banyak minum alkohol, juga obat laknat itu tidak memberikan efek sampai manusia kehilangan akal sehat, hanya membuat daerah reproduksi berkedut dan berlendir layaknya saat siap mendapatkan hujaman.
“Semoga kau masih di luar,” harap Geraldine. Tangannya segera menarik handle pintu dan bernapas lega. Ternyata Roxy sangat setia berdiri di depan kamarnya padahal sudah lebih dari satu jam berlalu.
Roxy tidak mengucapkan apa pun. Dia hanya berdiri tegak dengan wajah datar tertuju pada sang pujaan hati, menanti Geraldine mengatakan sesuatu.
‘Ini di mansion keluargaku, pasti aman dan tak akan ada yang bisa melihat juga.’ Geraldine memantapkan dalam hati sebelum pada akhirnya ia mengeluarkan suara untuk pria gagah di hadapannya.
“Aku membutuhkan bantuanmu, aku tak bisa tidur.”
Mendengar kalimat tersebut, tanpa banyak kata, Roxy langsung menerjang sang wanita. Pria itu menahan tengkuk dan mencium Geraldine dengan sangat membara sembari mendorong tubuh semampai masuk lagi ke dalam kamar.
Roxy sangat merindukan itu, bercinta, berbagi kehangatan kulit satu sama lain. Sudah lama ia tak menghirup aroma wangi sang pujaan hati. Meskipun keduanya sedang saling berperang lidah begitu menggelora, tapi tak lupa menutup pintu supaya tidak ada yang bisa mengganggu prosesi yang akan terjadi.