Pretty Devil

Pretty Devil
Part 42



Menunggu tengah malam, Roxy baru akan beraksi untuk kembali ke rumah sakit. Kalau masih jam kerja, pasti sangatlah ramai dan sulit untuk mengambil data atau masuk ke ruang dokter. Jadi, ia menanti sampai sunyi dahulu.


Kini Roxy telah berada di tempat parkir rumah sakit. Dia tidak menutupi tubuh layaknya pencuri pada umumnya. Cukup topi dan masker saja, pakaian tetaplah rapi seperti biasa.


Kaki Roxy lekas menuju rumah sakit. Pria itu santai saja masuk melalui pintu utama. Melihat ke arah sekitar. Sangat sepi, hanya ada beberapa petugas jaga yang berpencar, ada di IGD juga.


Roxy tidak bertanya apa pun. Dia seakan menjadi penunggu pasien di rumah sakit itu. Langsung masuk ke dalam dan tidak menunjukkan kebingungan sedikit saja. Apa lagi tengah malam, pasti petugas yang jaga pun mengantuk.


Tujuan pria itu adalah komputer di meja pendaftaran. Dia ingin mencari tahu siapa dokter yang ditemui oleh Geraldine supaya lebih mudah untuk mencari data di ruangan tempat wanitanya periksa.


Roxy tidak langsung beraksi. Tapi menanti wanita yang duduk berjaga di meja pendaftaran itu tertidur atau mungkin ke kamar mandi, barulah dia akan mengendap-endap ke sana.


Sampai kesemutan karena Roxy bersembunyi di balik pintu tangga darurat, selama dua jam ia hanya berdiri di sana sembari mengamati seorang wanita yang mulai memejamkan mata.


Menunggu beberapa saat sampai petugas jaga itu benar-benar ketiduran, barulah Roxy melangkah sangat pelan dan hati-hati. Tidak ada suara hentakan sepatu sedikit pun.


Tubuh kekar Roxy berdiri tepat di samping petugas jaga yang terlelap. Melihat ke arah komputer yang masih menyala, ia pun mulai membuka sistem rumah sakit tersebut. Apa lagi dipermudah untuk mencari informasi karena masih ada akun yang login di sana.


Mengetik di keyboard secara perlahan, menulis nama lengkap Geraldine. Tertera ada riwayat periksa di dua dokter berbeda. Pertama umum, lalu kandungan.


Sampai sekarang Roxy belum mengeluarkan suara apa pun. Untung bibirnya tidak gatal untuk berbicara karena terbiasa diam. Jadilah dia berhasil mendapatkan nama dokter yang ditemui oleh Geraldine.


Kaki Roxy pun berhenti tepat di ruang dokter obgyn yang ada di deretan terujung. Dia mencoba untuk membuka pintu, ternyata dikunci. Untung sudah memprediksi ini, jadi mengeluarkan kawat untuk membobol.


Setelah lima menit, akhirnya berhasil. Roxy bisa membuka pintu. Tidak lupa menutup lagi agar pencarian dokumen berjalan lancar tanpa hambatan yang mengganggu.


Roxy tidak perlu meretas CCTV. Toh dia mencuri informasi saja, bukan barang-barang rumah sakit. Pastilah tidak akan ada orang yang curiga. Ia tahu persis bagaimana kerja penjaga ruang kamera pengawas, pasti bosan dan tertidur ketika sudah dini hari. Jadi, dia mengendap-endap seperti sekarang pun tidak mungkin ketahuan.


Menghidupkan lampu supaya bisa mudah melihat di dalam ruangan dokter kandungan. Roxy langsung duduk di depan komputer. Zaman sudah canggih, pastilah semua data dan dokumen pasien terorganisir menjadi satu.


Roxy mengeluarkan alat peretasnya berupa ponsel canggih berisi aplikasi rahasia milik Cosa Nostra. Di sambungkan ke komputer agar ia bisa membuka dengan mudah dan mengakses perangkat milik dokter kandungan tersebut.


Sudah biasa melakukan peretasan seperti itu, Roxy pun berhasil membuka dan ia lekas mencari dengan kata kunci pencarian nama wanitanya. Tidak perlu mengecek satu persatu file, terlalu lama.


Perlu menunggu lima menit karena terlalu banyak dokumen, barulah Roxy menemukan yang dicari. Ia buka file tersebut. Membaca dengan seksama penyakit yang diderita oleh Geraldine.


Tapi, ketika sampai di akhir, dia justru tertegun. Bukan tidak percaya, tapi kaget saja. Ia lanjut melihat dokumen berikutnya, berupa USG.


“Geraldine hamil? Sudah pasti anakku, tidak mungkin pria lain,” ucap Roxy. Akhirnya, setelah berjam-jam dia diam, bersuara juga sekarang walaupun hanya satu kalimat.