Pretty Devil

Pretty Devil
Part 55



Ranjang di apartemen sangat besar dan cukup untuk dua orang tidur berjauhan. Tapi, Geraldine dan Roxy justru tidak saling memberikan jarak, sang pria menikmati malam dengan memeluk wanita tercinta yang sengaja membelakangi. Posisi paling nyaman.


Akhirnya, Geraldine bisa merasakan hati, perasaan, dan suasana yang menentramkan juga dengan kehadiran Roxy di sampingnya. Pria itu seakan memberikan kedamaian dalam hidup. Mungkin karena selama ini ia uring-uringan terus dengan diri sendiri, melawan segala keinginan bawah sadarnya, selalu menampik apa yang diinginkan terhadap seseorang yang kini ada di balik punggungnya.


Tangan kekar Roxy terus memberikan sentuhan, mengusap lembut perut Geraldine yang terasa kencang. Mereka tidak melakukan aktivitas bercinta, walau sesungguhnya sangat ingin. Tapi, tahan sebentar, Roxy harus konsultasi dahulu dengan dokter kandungan bagaimana baiknya. Dia tidak mau menuruti napsu tapi berujung petaka bagi anaknya.


Padahal, Geraldine sangat mengharapkan hal itu, penyatuan tubuh yang lama didambakan. Akan tetapi, dia enggak menerjang dahulu, tidak mau menunjukkan bahwa dirinya sangat agresif. Sehingga yang bisa dilakukan sekarang hanyalah cemberut, kesal sendiri.


“Dasar tidak peka!” Tiba-tiba mulut Geraldine mengeluarkan sebuah umpatan. Dia berdecak seraya memukul bantal kosong di depan matanya, membayangkan itu adalah Roxy yang sejak tadi hanya mengusap perut saja, bahkan tidak turun sedikit pun ke area yang lebih sensitif.


“Kau baik-baik saja, Sayang?” tanya Roxy. Dia menghentikan pergerakan tangan, sedikit menaikkan posisi kepala dengan menompangnya supaya bisa melihat wajah Geraldine.


“Ya!” jawab Geraldine dengan suara ketus. Haish! Dia kesal bukan main, pria itu puas dengan mengusap perut, sementara dirinya tidak.


Mendengar nada yang kurang enak, Roxy yakin kalau Geraldine dalam suasana hati buruk. Dia tidak membalikkan tubuh sang wanita, tapi dirinya yang berpindah menjadi di sisi hadapan kesayangannya.


“Aku yakin kau menjawab pertanyaanku dengan kebohongan, tak mungkin kalau baik-baik saja tapi wajahmu tidak menunjukkan rasa senang adanya aku di sampingmu.” Roxy sedikit demi sedikit maju dan tangan bersemayam pada pinggul ramping.


“Entahlah, pikir sendiri,” sinis Geraldine. Wanita itu lalu membalikkan tubuh dan kembali membelakangi lagi sang pria.


Mengingat betapa tidak pekanya pria itu sudah membuatnya ingin marah, rasanya mau sekali menjambak rambut Roxy, mengarahkan kepala manusia itu untuk melakukan gerakan layaknya kucing yang memandikan anak. Argh ... Geraldine rasanya ingin mengumpati diri sendiri karena terlalu mudah berhasrat ketika ada di dekat Roxy. “Memang sialan!” umpatnya pelan.


Geraldine harus menepis segala pikiran yang sudah mengotori dan mencemari isi kepala. Mungkin karena kebiasaannya juga keseringan bercinta dengan Roxy, sehingga wanita itu selalu mengingkan hal tersebut. Lebih tepatnya sudah ketagihan dengan tubuh Roxy, tercandu-candu.


Roxy tetap pada pendiriannya. Melihat tingkah Geraldine yang merajuk justru nampak menggemaskan di matanya. Kali ini tangannya menyisir rambut panjang dan wangi. “Tunggu sampai kita menikah, lalu konsultasi dengan dokter, aku ingin memastikan kalau berhubungan intim di saat hamil muda boleh atau tidak. Bukannya aku tak peka, tapi ingin menjaga kalian juga. Jika menuruti hasrat, aku takut terjadi hal buruk nantinya. Juga ingin membuktikan padamu kalau kau berharaga, aku menginginkanmu bukan sekedar di atas ranjang saja.” Dia berusaha menjelaskan, mengakhiri dengan kecupan di pundak sang wanita dan berakhir memeluk kembali.


“Risiko memiliki pria yang kaku, ya seperti inilah,” decak Geraldine pelan. Berusaha menerima penjelasan dari Roxy.