
Pada akhirnya Alesha tidak memiliki pilihan selain tinggal bersama dengan iparnya. Sudah satu minggu ini ia hanya berada di dalam apartemen tanpa keluar satu langkah pun.
Suasana di apartemen juga pastinya selalu ramai oleh keributan adu mulut Geraldine dan Alesha yang tidak pernah menunjukkan keakuran. Jadi, kalau biasanya di sana hening, kini tak ada lagi sunyi karena sudah pasti ada saja yang akan diperdebatkan. Walau ujungnya dimenangkan oleh si ibu hamil juga.
Mereka baru berhenti ketika salah satu masuk kamar, dan itu lebih sering dilakukan oleh Alesha karena selalu mendapatkan gertakan untuk dipulangkan ke Milan kalau masih banyak bicara.
Sementara Geraldine, kalau iparnya telah menyerah, baru ia mengajak suaminya kembali ke singgah sana dan melakukan ritual seperti biasa. Bercinta, tentu saja, memang apa lagi kesukaan wanita itu kalau bukan menumbuk karena perutnya besar jadi selalu memilih posisi di atas.
Kamar Alesha tepat bersebelahan dengan suami istri tersebut. Jadi, suara-suara sialan selalu masuk ke dalam gendang telinga karena terlalu keras.
“Sekalian saja pakai microphone, supaya seluruh unit mendengar desahann gila kalian,” teriak Alesha. Dia mengambil bantal dan menutupi kepalanya.
“Kalau tidak ingat sedang menumpang, sudah ku dobrak pintu kalian, ku seret keluar supaya tidak mencemari otakku yang sedang tak ada lawan mainnya.” Alesha mengeram kesal karena Geraldine dan kakaknya dengan segala suara erotis justru semakin menjadi-jadi.
Sangat tidak ramah di telinga, Alesha menyetel musik kencang dan didengarkan menggunakan AirPods. Tadinya ingin memakai speakers supaya iparnya terganggu juga saat bercinta, tapi ia tidak punya.
Sementara pelaku utama justru baru selesai dengan ronde pertama dan terakhir di malam ini. Geraldine langsung ditarik tidur dalam dekapan Roxy. Mereka menetralisir pernapasan yang terengah-engah agar lebih normal, baru dilanjutkan oleh sebuah obrolan.
Berbincang setelah bercinta merupakan waktu paling enak. Sebab, suasana hati keduanya sedang baik. Jadi, lebih mudah untuk berkomunikasi.
“Daddymu benar mencari Alesha?” tanya Geraldine sembari menggerakkan jemari untuk mengusap tato di dada suaminya. Meski terkesan sering bertengkar dengan sang ipar, tapi ia tetap memperdulikan adik Roxy tanpa diketahui oleh yang bersangkutan.
“Kenapa tak coba laporkan ke polisi lagi? Sekarang kau memiliki kekuasaan juga dukungan dari keluargaku, bukankah lebih mudah?”
“Tidak bisa, orang tuamu dan unclemu bukan pemain di dunia gelap lagi, mereka bersih. Jadi, aku tak ingin mengotori apa yang telah merka usahakan supaya berubah ke jalan baik.” Roxy memutarkan tubuh Geraldine membelakanginya supaya bisa ia peluk dan usap perut dengan nyaman.
Geraldine mengangguk paham. “Lalu, bagaimana cara mengakhiri kegilaan orang tuamu? Sepertinya dia bukan tipe yang mudah sadar.”
“Hanya kematian yang akan membuatnya berhenti.”
“Kalau begitu, lakukan saja.” Geraldine menyeletuk tanpa dipikir dahulu.
Membuat Roxy reflek menggigit punggung istrinya yang belum tertutup apa pun. “Sembarangan,” omelnya.
“Daripada hidup membuat orang lain tidak nyaman, bukankah lebih baik diantarkan saja ke neraka secara cepat?” tutur Geraldine sangat santai. Bahkan tidak memikirkan bahwa mereka sedang membicarakan mertua sendiri.
Roxy bergeleng kepala, wanita yang ia pilih dan nikahi memang terkadang sadis. “Kalau aku melakukan sesuai saranmu, apa bedanya suamimu ini dengan dia? Sama-sama pembunuh keluarga sendiri, dan aku tidak mau.”
“Ya, ya, kalau begitu jangan kau yang melakukan, tapi suruh orang lain saja.” Geraldine mendapatkan cubitan di bibir hingga ia mengaduh karena terkejut.
“Sudah, biarkan saja dia hidup di Milan. Selagi adikku ada di Helsinki, daddyku tidak mungkin berani menyentuh. Toh dia memiliki riwayat penyakit jantung, lama-lama juga mati sendiri tanpa aku turun tangan.”