
Suasana sepertinya tidak ramah untuk anak-anak, Daddy Davis langsung meminta para babysitter untuk membawa cucu-cucunya keluar ruangan. Obrolan setelah ini sudah pasti khusus orang dewasa.
Melihat raut wajah istrinya yang murka dan terlihat tidak suka dengan hadiah pemberian Delavar, membuat Roxy juga penasaran dengan isi di dalam kotak genggamannya. Semakin dia lihat secara dekat, lalu diambil dan dinaikkan ke atas. “Vibrator sekss?” tanyanya bingung sendiri.
“Suamiku saja sampai bingung, kita ini suami istri, tapi diberi hadiah bagaikan seorang lajang yang tak memiliki tempat pelampiasan hasrat saja.” Geraldine melemparkan tutup kotak hadiah dan jatuh mengenai kepala Delavar.
Delavar mengaduh sembari mengusap kepalanya. “Kalian pasti membutuhkan itu, percaya saja dengan yang lebih berpengalaman,” kelakarnya diiringi wajah yang cekikikan.
“Uncle ... anakmu tolong dikondisikan, mereka menyumpahiku dan Roxy menjadi janda atau duda, begitu? Sampai memberikan kami alat pemuas ini?” Geraldine mengangkat sebuah benda berbentuk menyerupai alat reproduksi pria. Wajahnya memperlihatkan risi.
“Danesh, tolong toyorkan kepala sepupumu itu,” pinta Dariush karena anak pertama keluarga Dominique yang duduk paling dekat dengan Geraldine.
“Toyor saja sendiri, aku sedang malas,” tolak Danesh. Manusia yang satu ini memang lebih cocok masuk sekumpulan manusia berwajah datar dibandingkan geng absurd.
Delavar mencebik. “Dad, jelaskan pada keponakanmu, fungsi alat itu. Niscaya kalian akan berterima kasih padaku.”
“Oke, oke.” Daddy Davis menepuk punggung Roxy agar pria itu kembali duduk dan menyisakan dirinya yang masih berdiri tegap. “Aku tahu Roxy belum mau menyentuhmu karena kandunganmu masih terlalu muda. Jadi, selama kau tersiksa dengan hasratmu yang tidak tertahankan, pakailah jasa vibrator itu.”
Delavar dan Dariush yang tertawa paling keras. Mereka ini juga manusia-manusia yang sering memanfaatkan peralatan itu. Dahulu.
“Dan Roxy, nanti setelah istrimu melahirkan, kau juga butuh itu karena Geraldine tak bisa kau sentuh selama empat puluh hari,” tambah Dariush.
Geraldine mencebik setelah mendapatkan alasan dari saudaranya. “Bentuknya lebih bagus milik suamiku.”
Dan suasana di dalam ruangan tersebut terus mengalir dengan candaan hingga terasa begitu hangat. Dua keluarga besar tersebut memang selalu bisa menempatkan diri kapan harus serius dan bercanda.
...........
Pukul tujuh malam, mereka baru mengakhiri acara makan. Terlalu asyik sampai lupa waktu. Kapan lagi bisa berkumpul lengkap kalau bukan saat ada acara. Jadi, semuanya memanfaatkan moment supaya semakin membangun rasa kekeluargaan.
“Kita pulang ke apartemenmu saja,” pinta Geraldine saat di dalam mobil dan tengah perjalanan.
“Oke.” Tidak perlu berdebat jika bersama Roxy. Pria itu langsung membawa sang istri menuju arah tempat tinggalnya. Namun, ia mengirimkan pesan pada Tuan dan Nyonya Giorgio kalau mereka tidak kembalu ke mansion supaya tak dicari.
Sesampainya di dalam apartemen, keduanya langsung mandi, bersama. Tapi, Roxy tidak melakukan apa pun pada Geraldine. Padahal tubuh keduanya sudah sama-sama polos. Pengendalian dirinya memang sangat luar biasa.
Lihatlah wajah Geraldine sampai masam ketika keluar dari kamar mandi dan masih memakai bathrobe. Padahal, dia sudah membayangkan kalau malam ini akan terjadi suasana menggairahkan untuk meneruskan kegiatan yang sudah biasa mereka lakukan.
“Jangan bilang kau berencana ingin memakai vibrator pemberian sepupuku daripada menyentuh istrimu sendiri?” sindir Geraldine seraya mencoba mengambil sebuah lingerie tipis kado tambahan dari unclenya.