
Geraldine membulatkan mata ketika mendengar Daddynya hendak menikahkan dirinya dengan Roxy. “Aku tidak mau!” Tanpa banyak berpikir, ia langsung menolak.
“Daddy tidak meminta persetujuanmu, ini perintah yang harus dilaksanakan!” tegas Daddy George.
“Kenapa Daddy menjadi pengatur? Bukankah kau selalu membiarkanku bebas? Hidup sesuka hati asalkan bisa mempertanggung jawabkan semua yang ku lakukan? Lantas, ini apa? Tiba-tiba ingin menikahkan aku dengan Roxy. Padahal keluarga kita sudah tahu sejak lama tentang hubunganku dengan pria itu.” Terlihat marah, Geraldine sampai mengingatkan kembali aturan yang dibuat oleh orang tuanya.
“Benar, tapi Roxy sengaja menghamilimu. Bagaimana kalau kau sungguh mengandung? Daddy tak akan membiarkanmu membesarkan sendirian.”
“Nyatanya, sampai detik ini aku tidak hamil, padahal dia mengganti obat kontrasepsiku menjadi penyubur juga sudah lama. Tidak mungkin kejadian hari ini bisa membuatku mengandung, karena itu mustahil!” Geraldine segera berdiri karena sudah tahu arah pembicaraan dengan orang tuanya ke mana. Mau dipaksa seperti apa pun ia tak akan mudah untuk dinikahkan.
“Kenapa kau keras kepala sekali? Sudah bagus aku mau bertanggung jawab menikahimu.” Roxy yang gemas pun akhirnya ikut masuk ke dalam obrolan. Sudah dibantu Tuan Giorgio juga, tapi Geraldine masih sulit sekali diluluhkan. Memang mendapatkan wanita satu itu butuh tenaga dan tantangan yang ekstra.
Geraldine justru menatap Roxy dengan sorot mata curiga. “Kau menghasut Daddyku, ‘kan? Supaya dia mendesakku menikah denganmu? Licik!”
“Kau bisa tanyakan pada Daddymu, apakah aku seperti yang dituduhkan atau tidak,” sahut Roxy.
Bibir Geraldine ditarik sebelah hingga terlihat sinis. “Tidak perlu, aku hanya akan terus menolakmu. Berjuanglah sendiri kalau kau memang ingin menikah denganku, jangan kau cari dukungan dari orang tuaku.”
Mata Geraldine beralih tertuju pada orang tuanya. “Dan Daddy, kalau masih terus mendesakku untuk menerima Roxy, maka Daddy saja yang menikah dengannya.” Setelah mengomel, ia pun mengayunkan kaki meninggalkan ruang tamu. Tidak semudah itu membuatnya mau berumah tangga. Apa lagi dia tahu kalau Roxy memiliki tujuan ingin membalaskan dendam sakit hati yang pernah ia torehkan.
“Aku tak bisa banyak membantumu. Tapi, ku yakin kau orang yang baik dan tepat sebagai pendamping Geraldine. Sekarang hanya butuh berjuang dan buktikan pada putriku kalau kau memang pantas.” Dukungan dari Daddy George merupakan restu yang diberikan. Tapi, tetap pada akhirnya tidak bisa memaksa anaknya untuk mengikuti kemauannya karena yang menjalani hubungan bukan dirinya.
Roxy mengangguk. “Aku akan tunjukkan pada putri Anda kalau tak akan menyerah begitu saja.” Kepalanya menunduk sekilas, lalu kaki terayun keluar untuk mengurus mobil Geraldine yang masih tertinggal di club malam.
...........
Sejak kemarin, Geraldine terus memegangi kepala selama bekerja di depan komputer. Ia memijat pelipis yang rasanya berdenyut. Menyandarkan kepala sebentar untuk istirahat. “Mungkin aku terkena efek radiasi atau terlalu banyak berpikir.”
Geraldine sedang memejamkan mata untuk meredakan otot di kepala yang terasa tegang, tapi tetap saja pusing masih melanda. “Aku tak bisa terus membiarkan ini semakin parah, yang ada pekerjaanku menjadi terbengkalai.”
Geraldine mematikan komputer setelah menyimpan seluruh dokumen. Ia menyambar kunci mobil dan jaket. Mengayunkan kaki keluar ruang kerja.
“Nona, Anda mau ke mana?” Sekretaris Geraldine mengajukan pertanyaan sebelum sang CEO pergi menjauh.
“Ke rumah sakit.”