
“Ke perusahaan, Tuan. Sekarang Nona Alesha mulai bekerja,” beri tahu salah satu penjaga mansion tersebut.
“Oh.” Roxy pun tanpa pamit langsung menyelonong pergi begitu saja. Dasar pria tidak sopan, hanya keluarga Dominique dan Giorgio yang ia segani, selain itu dia akan seenaknya.
Pria bertubuh kekar dengan banyak tato itu kembali masuk ke dalam mobil sewaan. Roxy melajukan kendaraan tersebut menuju sebuah gedung yang sudah lama tak pernah disinggahi semenjak ia memutuskan untuk tak terlibat apa pun di negara Italia. Termasuk kewarganegaraan juga.
Roxy tidak ada keinginan ke dalam gedung karena sudah pasti masuknya mudah tapi keluar sulit. Maka, dia cukup turun dari mobil dan mendekati pejalan kaki secara asal.
“Bisa kau membantuku?” Roxy sedang meminta pertolongan pada seorang wanita yang berjalan menggandeng pria. Tapi, dia justru seperti orang yang memaksa karena memasang wajah datar, mata tajam, dan nada bicara mendesak layaknya seseorang yang tidak menerima jawaban penolakan.
Tentu saja membuat pejalan kaki yang diajak bicara jadi takut karena postur tubuh Roxy terlalu kekar dan berotot, sementara mereka kurus. Otomatis keduanya pun mengangguk. “Ya.”
“Bagus. Tolong kalian masuk ke dalam perusahaan itu.” Roxy menunjuk gedung yang dimaksud. “Katakan pada resepsionis kalau Alesha ditunggu seorang pria bernama Roxy di sana.” Ia lalu memberi tahu lokasi yang dimaksud. “Paham?”
“Paham.”
Roxy tak gratis meminta bantuan. Dia mengeluarkan dompet dan memberikan imbalan masing-masing seratus euro. “Kerjakan dengan benar, aku mengawasi kalian.”
“Siap.”
Roxy kembali duduk di dalam mobil sembari memastikan orang yang dibayar untuk memanggilkan Alesha. Dia berjaga di sana supaya bisa segera melaju ketika wanita yang ditunggu mulai keluar.
“Awas saja jika kau penyebab Geraldine menjauh dariku!” Belum juga dipastikan, sudah terlihat geram saja wajah Roxy.
Benar seperti dugaan Roxy, Alesha langsung nampak berjalan keluar gedung. Seorang wanita yang dahulu masih sangat menggemaskan dan sering menghabiskan waktu bersama dengannya, kini telah berubah menjadi gadis dewasa serta cantik. Tapi, di matanya hanyalah Geraldine yang paling memukau.
Roxy membiarkan Alesha supaya berjalan lebih jauh lagi dari perusahaan, agar aksinya tak akan disaksikan oleh security. Setelah dirasa jarak yang ditempuh oleh wanita itu sudah lumayan, dia menghentikan mobil walaupun belum sampai di lokasi yang ia maksud.
Roxy berjalan biasa, tapi tiba-tiba langsung membekap mulut Alesha dan memaksa wanita itu untuk diseret masuk ke dalam mobil.
“Emh ....” Alesha tidak bisa mengeluarkan suara jelas. Tapi dia berusaha untuk memberontak, hanya saja kalah tenaga.
“Diam dan menurut!” tegas Roxy sengaja mengintimidasi. Dia mendorong tubuh Alesha sampai terduduk di samping kursi kemudi. Mengunci sistem pintu supaya tidak kabur.
Kaki Roxy lekas memutar dan berhenti tepat di samping kursi kemudi. Dia langsung masuk, melajukan mobil sekencang mungkin untuk menginterogasi Alesha agar menjawab jujur.
“Beraninya kau menculik aku!” sentak Alesha dengan mata melotot ke arah pria yang baru saja memaksa dirinya.
Tapi, Alesha yang ingin marah pun diurungkan saat menengok dan tahu siapa orang tersebut. “Kak Roxy?”