Pretty Devil

Pretty Devil
Part 37



“Jika aku pergi ke Denmark, lalu siapa yang standby di sini?” tanya Roxy. Bolehlah sesekali membangkang, daripada bertugas dengan rasa penasaran.


“Ada anggota lain,” ceplos Daddy George.


Membuat Roxy memicingkan mata. “Jika masih ada orang lain, untuk apa aku yang pergi bertugas? Akan ku perintahkan dia saja ke Denmark.” Ternyata pertanyaan darinya adalah sebuah jebakan.


“Aku anggotanya, berani kau memberikan perintah pada atasanmu sendiri?” Ternyata tidak mudah menjebak calon mertua, Roxy dibuat bungkam dan akhirnya menurut.


Kaki Roxy pun lekas keluar dari gedung dan menuju mobil yang akan berangkat ke Denmark jalur darat. Matanya terus menatap tajam penuh pertanyaan ke luar jendela ketika kendaraan mulai melaju, Tuan Giorgio masih berdiri di sana.


“Hei, sebelum kita pergi dari negara ini, mampir sebentar ke rumah sakit!” titah Roxy pada orang yang menyupir. Ketika tak ada atasannya, ia adalah kedudukan paling tinggi di sana.


“Tidak ada waktu, besok kita harus sudah sampai.”


Roxy berdecak kesal. ‘Apa gunanya aku dijadikan pemimpin kalau masih harus mematuhi perintah, bukannya mengatur dan mengelola semua aktivitas Cosa Nostra,’ gerutunya dalam hati. Akibat perasaan yang tidak tenang, membuatnya merutuki tuannya.


Kalau saja Tuan Giorgio bukan orang tua dari wanita yang dicintai, sudah pasti tangan Roxy akan berani turun tangan untuk mengikat menggunakan tali ke tiang agar membiarkan dirinya pergi sesuka hati menyelesaikan masalah pribadi. Tapi, sayangnya, atasannya adalah calon mertua yang kini sedang menunjukkan sifat berbeda. Biasanya juga membebaskan dirinya, mendadak jadi banyak mengatur.


...........


Setiap hari Geraldine cemberut, tidak ada senyum. Tapi memang raut wajah wanita itu seperti itu. Hanya saja, sekarang berbeda karena lebih sering melamun. Padahal usia kehamilan juga sudah berada di bulan kedua menjelang tiga.


“Kau itu senyum sedikit kenapa, nanti anakmu jadi ikut-ikutan wajahmu yang terus ditekuk,” ucap Mama Gabby seraya tangan secara sengaja menarik dua ujung bibir putrinya, memaksa agar tersenyum.


“Bagaimana aku bisa senyum kalau setiap hari merasa lemas,” protes Geraldine. Dia melewati waktu dengan tidak nyaman, mual sepanjang hari dan tidak bisa pergi kemanapun karena tak kuat melakukan aktivitas.


“Namanya juga trimester pertama, pastilah berat. Nanti kalau kau sudah berhasil melewati itu, juga lebih enjoy,” jelas Mommy Gabby yang ikut duduk di pinggir jendela seperti putrinya.


Gedung apartemen tinggi itu membuat kedua wanita beda generasi bisa melihat pemandangan di luar sana. Walaupun yang dilihat adalah bangunan-bangunan pencakar langit semua.


“Aku rasanya rindu dengan Roxy, atau anakku yang ingin melihatnya?” Geraldine tiba-tiba mencurahkan isi hati walaupun mata masih melamun ke arah luar. “Setiap hari selalu teringat bagaimana bentuk tubuhnya, hangatnya dekapannya, mantapnya goyangannya—”


Mommy Gabby langsung membekap mulut putrinya yang terus mengoceh. “Kau yang ingin pergi darinya, jadi terimalah konsekuensi. Aku sudah mengatakan kalau melewati masa kehamilan tanpa pasangan itu sulit.”


“Tapi aku juga tak menyangka kalau bisa seberat ini, ah ... lama-lama aku bisa gila memikirkan pria itu, aku merindukan tubuh kekarnya ...!” Geraldine berteriak karena frustasi.


“Pulang saja jika kau tak kuat, jangan memaksakan diri menjaga harga diri kalau pada akhirnya hanya menggerutu setiap hari,” omel Mommy Gabby.