
Ekor mata Alesha melirik ke arah samping saat ia mendapatkan sindiran. Tangisnya langsung reda ketika melihat wanita yang sudah pernah dihina habis-habisan olehnya. “Kau, belum putus juga dengan kakakku?” tanyanya sembari melepas pelukan dan terfokus pada Geraldine.
Oke, saatnya menyombongkan diri. Geraldine melipat kedua tangan di dada dan mengangkat dagu. Tubuhnya lebih tinggi daripada adik Roxy. “Kau sangat mengharapkan aku meninggalkan kakakmu? Tapi sayangnya, Roxy tak mungkin mau ku tinggalkan.”
“Dia istriku, kau jangan sembarangan lagi menghinanya,” peringat Roxy. Tangannya semakin mempererat rengkuhan untuk menunjukkan kemesraan.
Alesha membuka lebar mulut dan mata membulat seakan terkejut. “Kenapa kau tidak meminta izin pada keluargamu dulu kalau menikah? Setidaknya tanya persetujuanku sebagai adikmu,” protesnya.
Geraldine mengkomat kamitkan bibir, mengejek Alesha yang cerewet. Tapi dalam hatinya senang karena akhirnya ada moment di mana ia bisa membalas membuat wanita itu kesal. Kakinya sembari terayun untuk menuju kursi dan duduk setelah Roxy menarikkan satu untuknya.
“Aku menikah dengan siapa pun bukan urusanmu, ini hidupku dan semua keputusan ada ditanganku,” tegas Roxy sembari menghempaskan pantat tepat di samping istri tercinta.
“Tetap saja, kenapa harus wanita seperti dia yang kau pilih?” protes Alesha. Wajahnya cemberut, duduk di hadapan kakak dan iparnya.
“Memangnya aku kenapa? Ada yang salah denganku?” Geraldine menegakkan duduk hingga dada nampak lebih membusung. Ada senyum bak iblis yang tercetak di wajah cantiknya.
“Aku tidak suka saja denganmu.” Lebih tepatnya Alesha merasa kalau iparnya akan membalas segala hinaannya yang pernah terjadi. Was-was saja, mana Roxy terlihat lebih sayang Geraldine dibanding dirinya. Ia sampai menelan ludah karena membayangkan tidak ada yang akan berpihak padanya.
“Oh ... sedihnya tak disukai adik ipar.” Suara Geraldine lebih cenderung pada ejekan. “Padahal aku kaya, loyal, tidak pelit, dan yang pasti bukan dari keluarga berbisnis gelap.” Sunggingan senyum puas karena bisa membungkam mulut Alesha pun tak tahan untuk diulas.
Geraldine dan Alesha saling beradu pandang. Terlihat ada peperangan diantara kedua wanita itu. Roxy langsung menangkap gerak gerik tersebut. Tangan kekarnya mengusap perut sang istri supaya lebih relax dan tidak emosian. Tapi, sorot matanya tertuju pada adik.
“Jangan bertengkar dengan istriku, mulai sekarang kau harus menghargainya sebagai ipar,” tegur Roxy.
Geraldine tertawa puas, Roxy membelanya dibandingkan adik sendiri. Memang cinta pria itu sangat luar biasa. Sementara Alesha masih dengan wajah tidak terima.
“Aku datang ke sini mencari perlindungan seorang kakak dari mara bahaya, tapi justru diperlakukan seperti ini? Tega selali.” Alesha menggelengkan kepala seakan tak percaya.
“Siapa yang tahu niatmu datang ke sini benar-benar karena bahaya, atau hanya sandiwara untuk membuat Roxy mau kembali pada keluargamu,” sinis Geraldine. Dia harus memastikan tujuan wanita itu. “Mengingat kau dan daddymu pernah memata-matai suamiku di sini, haruskah aku langsung percaya dengan alasanmu?”
“Hei, perebut kakak orang!” Panggilan yang diberikan Alesha sangatlah spontan, memang begitu bukan? Geraldine merebut kasih sayang kakak satu-satunya. “Mana ada orang bersekongkol tapi masih dihajar sampai babak belur?” Dia mempertegas dengan menunjuk wajah, lalu memperlihatkan punggung yang ada bekas cambukan.
“Make up sekarang sangat canggih, bisa membuat kulit seperti lebam,” sahut Geraldine begitu santai dan meremehkan.
“Emosi aku menghadapi istrimu,” keluh Alesha.