
Roxy merasa pertanyaan dari Geraldine adalah sebuah jebakan. Wanita itu senang sekali mengujinya, entah dengan sebuah pertanyaan ataupun penolakan dan tindakan. Berhubung ia sudah biasa menghadapi sifat pujaan hatinya, jadi langsung paham dan tahu bagaimana harus menjawab agar tidak salah atau membuat suasana hati wanitanya buruk.
Tubuh kekar pria itu berangsur berdiri. Roxy kembali mengusap lembut pipi Geraldine dan menatap lekat penuh keteduhan serta memancarkan ketenangan. “Tidak ada yang harus ku pilih diantara keduanya, kau penting dan berharga untukku, begitu juga dengan anak kita. Sebab, kalian adalah satu kesatuan yang tak bisa ku abaikan begitu saja,” jelasnya dengan suara yang sangat meyakinkan. Tapi memang begitulah kejujuran sedang diutaran.
Geraldine menarik dua sudut bibir hingga tersenyum simpul. Tentu ia puas mendengar jawaban tersebut. Jadi, memang tak ada salahnya untuk menerima Roxy. “Kau sungguh tak sakit, kan?” tanyanya memberikan perhatian sembari menelisik kondisi pria di depannya, dari ujung kepala sampai kaki tanpa terlewat sedikit saja.
Kepala Roxy terlihat menggeleng. “Tidak, aku tak kecelakaan sungguhan, hanya sandiwara saja untuk melihat reaksimu.”
Jari Geraldine terulur, mencubit lengan kekar sang pria. Dia gemas tapi juga tak bisa marah karena yang dirasakan saat ini hanyalah ingin tetap berada di samping Roxy. “Menyebalkan sekali mengerjaiku.”
Roxy langsung menangkap dan menggenggam tangan Geraldine. Mengecup permukaan kulit yang begitu halus. “Maaf, hanya itu satu-satunya cara melihat kejujuranmu. Jangan marah,” pintanya.
Mau marah bagaimana? Malam ini Roxy terasa lebih romantis berbicara dengannya. Tentulah ia yang memang memiliki perasaan pada pria itu menjadi mudah luluh. Ah ... memang dasar Geraldine saja yang tak bisa menahan gejolak dada, perut, dan juga yang ada di bawah sana untuk menolak pesona Roxy yang sangat kuat memancarkan karisma, ketampanan, dan wibawa seorang pemimpin.
“Jika kau tak sakit, ayo kita pulang ke apartemenku saja, temani aku tidur,” ajak Geraldine. Pada akhirnya, runtuh sudah egonya. Di hati sudah tidak ada lagi keraguan, cukup lega dan puas karena Roxy menempatkan dirinya di atas segalanya.
Geraldine yang menangkap raut pria di sampingnya pun mencebikkan bibir sebal. “Jangan tersenyum di tempat umum, terlebih kalau sampai ada orang lain melihat,” omelnya saat keduanya telah masuk ke dalam taksi.
“Kenapa? Aku menunjukkan sedikit rasa senang karena kita sudah berdamai dan kau mau menikah denganku, apakah tak boleh?”
“Hish ... aku benci menjawab dan mengatakan kejujuran ini, tapi kau lebih tampan saat tersenyum.” Geraldine memalingkan wajah ke arah kaca supaya tidak memperlihatkan mimik galaknya yang memudar.
“Percayalah, sepanjang hidupku, senyum ini baru terbit ketika bersamamu saja. Jadi, tak ada kesempatan orang lain melihatnya.” Roxy mencoba meraih wajah sang wanita agar menatap dirinya kembali. Hati saat ini sedang berbunga-bunga karena Geraldine ternyata bisa cemburu juga.
Roxy memaksa kepala Geraldine untuk bersandar di bahu kokoh, meski wanita itu tak terlalu butuh juga, tapi tidak ditolak. Jadi, dia merasa senang sepanjang perjalanan menuju apartemen.
“Kau harus meminta izin daddy dan mommyku jika ingin menikahi putrinya,” beri tahu Geraldine.
“Aku adalah pria yang tak mungkin seenaknya membawa anak orang lari dan menikah tanpa persetujuan. Jadi, tanpa kau minta pun sudah pasti akan ku lakukan.”