
Kini Daddy George sudah duduk di ruang meeting bersama Roxy dan anggota Cosa Nostra lain yang baru pulang dari Denmark juga. Posisinya bisa langsung tertuju pada pria yang sudah dipercaya untuk menjadi pemimpin di sana.
Daddy George tengah melakukan video call bersama Geraldine, mengikuti permintaan putrinya yang sedang banyak mau dan menyusahkan dirinya. Kalau saja tidak menyanyangi darah daging dan cucunya, sudah tak ia pedulikan rengekan sang putri tercinta. Tapi sayangnya, cinta seorang ayah pada anak perempuan adalah sama dengan kasihnya pada istri. Jadi, apa pun akan diusahakan. Walau sedikit menggerutu.
Telinga pria berusia di kepala enam itu tersumpal oleh airpods karena saat ini sedang mendengarkan ocehan putrinya. Geraldine sudah pasti tengah girang bisa melihat Roxy meski dari sebuah layar saja.
Sementara itu, Roxy tengah melaporkan hasil tugas penyelamatan seorang anak pebisnis yang dikabarkan hilang di Denmark. Terus berbicara di depan. Ia menjelaskan dengan serius. Tapi mendadak berhenti karena merasa ada yang mengganjal dan ia tidak suka.
“Maaf, Tuan, bisakah Anda menghargai aku yang sedang berbicara di depan? Anda meminta laporan, sekarang sedang dijelaskan justru sibuk dengan ponsel,” tegur Roxy. Dia memang bisa menuruti perintah, tapi juga berani melawan kalau ada perilaku atasannya yang tidak benar. Merasa tidak menghargai apa yang sedang dilakukan olehnya.
“Aku masih mendengarkanmu, lanjutkan saja,” balas Tuan Giorgio dengan suara tegas tak mau kalah.
“Ini bukan masalah didengarkan atau tidak. Tapi, dengan asyik bermain ponsel, telinga tertutup airpods, tandanya Anda tidak menghargaiku yang sedang berbicara. Kalau memang belum siap mendengarkan laporan, maka jangan meminta.” Roxy menarik kursi, mengakhiri menjelaskan dan duduk. Percuma dia lanjutkan, toh atasannya tidak akan fokus.
“Kenapa berhenti? Lanjutkan!” titah Tuan Giorgio.
“Maaf, silahkan selesaikan dahulu urusan Anda dengan orang yang tengah di hubungi itu. Jika sudah, maka akan ku lanjutkan lagi,” tegas Roxy. Dia menunjuk arah pintu agar Tuan Giorgio meninggalkan ruang meeting. “Silahkan keluar, aku tunggu di dalam sini.”
Kenapa Daddy George sangat suka dengan Roxy dan pasti setuju kalau menjadi menantunya? Lihatlah pria itu, sangat berani menegur dan menentang jika ada yang tak beres. Kalau saja Geraldine sedang tak memiliki rencana dan langsung mau dinikahkan, pasti ia tak perlu susah payah dan repot mengikuti segala kemauan putrinya.
Akhirnya, Daddy George pun mengakhiri video call dengan Geraldine. Tidak lupa melepas airpods juga. “Oke, ayo lanjutkan.”
Barulah Roxy mau kembali menjelaskan laporan tugas tim porche. Sedangkan Geraldine yang nan jauh di benua sana, pasti sedang mengumpat dan menggerutu karena telepon diputus secara mendadak.
Tiga puluh menit berlalu, Roxy selesai melaporkan pada Tuan Giorgio. Satu persatu anggota pun sudah keluar dari ruang meeting. Hanya tersisa dua orang yaitu mereka berdua.
Roxy dengan berani menatap Tuan Girgio dengan sorot tegas. “Kenapa Anda mengarahkan kamera padaku ketika tadi bermain ponsel?”
“Menurutmu kenapa?” Bukannya menjelaskan, justru Tuan Giorgio membiarkan Roxy berpikir sendiri. Ingin tahu seberapa tajam insting orang kepercayaannya.
“Anda sedang melakukan video call dengan Geraldine.” Roxy bukan menebak, tapi dia tahu dari pantulan kaca mata yang dipakai oleh Tuan Giorgio. Tadi ia tajam mengamati ketika menegur.