
Pernikahan Roxy dan Geraldine jauh dari kebiasaan keluarga konglomerat pada umumnya. Mereka ternyata lebih menikmati suasana yang sederhana, hikmat, dan disaksikan oleh keluarga. Cukup. Bahkan setelah mendapatkan sertifikat nikah, mereka tidak ada pembicaraan tentang perayaan hari bahagia tersebut. Sampai pada akhirnya ada salah satu dari keluarga Dominique yang menyeletuk.
Siapa lagi kalau bukan Delavar. “Kalau menikah di Badan Kependudukan dan dadakan, minimal traktir kita lah.”
Kemudian ditambah pria yang tak kalah tampan, Dariush. “Keluar uang sedikit, modal. Sudah menelepon tiga puluh menit yang lalu sampai kita semua harus meninggalkan aktivitas, tak di beri makan juga saksimu ini.”
“Nah, mau buat apa juga uang kalian itu?” sindir Deavenny kemudian dengan suara yang lemah karena kondisi kesehatannya tidak sebaik yang lainnya. Semenjak mengalami Lazarus Syndrome, dia memang memiliki imun tubuh yang kurang baik. Tapi, tenang, selalu dalam pantauan dokter.
Roxy menatap datar satu persatu orang yang memberikan protes padanya. “Meskipun sekarang aku pengangguran, tapi ayo, ku traktir kalian semua,” ajaknya.
Dan hal itu justru membuat yang mendengar seperti terkejut. “Pengangguran?”
“Hm.” Roxy mengangguk membenarkan dan tidak malu mengakui.
Tatapan anak-anak keluarga Dominique beralih pada Geraldine. “Kau menikahi seorang pria yang tak berpenghasilan?” Tanya Delavar dan Dariush. Mereka berdua memang yang lebih ekspresif diantara lainnya.
“Memang kenapa? Aku bisa bekerja,” sahut Geraldine sangat santai.
Dan mereka, seluruh keluarga Dominique terkekeh. Tidak dengan Giorgio family yang—ya hanya datar, huft membosankan sekali dengan keluarga yang satu itu, tidak ekspresif.
Tuan Dominique mendekat dan menepuk pundak keponakannya yang baru saja menikah. “Ya tak masalah, nanti yang ada bukan Ibu Rumah Tangga, tapi Bapak Rumah Tangga.”
Roxy tidak peduli, memang cocok sekali dia masuk ke dalam keluarga minim ekspresi itu. Pria tersebut tidak pernah mempermasalahkan pemikiran orang terhadapnya. Sebab, yang menjalani hidup adalah dirinya.
“Setidaknya aku kehilang pekerjaan karena memperjuangkan wanita yang ku cintai, bukan diakibatkan tak becus bekerja,” jelas Roxy. Dia merangkul Geraldine, lalu mengecup pelipis istrinya.
Seluruh mata kini bergerak menatap Tuan Giorgio yang masih diam dan duduk di dalam ruangan. “Wah ... mertua kejam, membiarkan menantunya menjadi tunakarya.”
“Memangnya sudah ada aku mengeluarkan surat pemecatan?” Namanya bukan Tuan Giorgio jika tak bisa menanggapi dengan tenang.
“Jadi, saya dipecat atau tidak?” Roxy bertanya untuk mempertegas sekali lagi.
“Ya tentu saja tidak, memangnya siapa lagi yang bisa dipercaya untuk memimpin Cosa Nostra?” Tuan Giorgio melirik Gerald, Marvel, Danesh, Dariush, dan Delavar secara bergantian. “Mereka?”
“Tidak, terima kasih, sudah cukup pusing dengan urusan kantor.” Kurang lebih semua menjawab dengan kalimat yang sama.
“Oke, oke, dari dulu memang George sedikit membuat jantungan. Jadi, lebih baik sekarang kita pergi ke restoran untuk makan,” ujar Tuan Dominique supaya semua keluarga besar itu lekas meninggalkan ruangan yang makin terasa bising karena cucu-cucunya sedang saling bersahutan merengek lapar.
Jadilah sekarang mereka semua duduk di sebuah private room dengan ruangan sangat besar supaya bisa menampung dua puluh orang. Mereka berkumpul sudah seperti satu kampung dibawa semua.
“Roxy, sini.” Tuan Dominique berdiri dan melambai. Entah apa yang akan dilakukan pria dengan kharisma tetap kuat meski usia tak lagi muda.