
Roxy masih menemani Geraldine yang enggan pulang ke Helsinki. Jadi, tepat tujuh hari ini ia berada di Los Angeles. Demi cinta, tak masalah, apa pun akan dilakukan. Kecuali kalau disuruh bunuh diri, baru menolak, sama saja tak akan memiliki jika tak ada nyawa.
Oke baiklah, pria itu benar-benar memperlakukan Geraldine sangat baik. Tidak membiarkan tergores sedikit saja. Dilarang melakukan hal apa pun, semua ia yang kerjakan.
“Sudah, kau duduk saja,” ujar Roxy seraya mendorong pundak sang wanita supaya kembali duduk di sofa.
“Aku bosan jika tak melakukan apa pun, juga lapar,” protes Geraldine. Sejak kehadiran Roxy, dia menjadi manusia yang tidak berguna, hanya dibolehkan duduk dan tidur saja. Sungguh menyebalkan dan bukan gayanya.
“Aku yang akan masak untukmu,” tutur Roxy sembari menggulung kaos berlengan panjang hingga memperlihatkan tatonya.
Geraldine menghela napas kasar. “Kita makan di luar sajalah, simple dan tak perlu membuatmu repot,” putusnya secara sepihak.
“Aku tidak merasa direpotkan,” sahut Roxy sembari mengayunkan kaki menuju kulkas.
Geraldine yang sedang berdiri dan saling bersitatap dengan Roxy pun melotot pada sang pria. “Bisa tidak jika kau jangan membantah?”
“Iya, kita makan di luar.” Roxy yang mengalah. Dia mengurungkan niat mencari bahan di kulkas yang bisa digunakan memasak.
Lihatlah pasangan itu, sama-sama dingin dan keras kepala, tapi pada kenyataannya kalau ada yang mau mengalah pun bisa bersatu juga. Roxy tahu kalau sebenarnya dia bisa menolak dan membantah semua keinginan Geraldine, tapi dia tidak melakukan hal tersebut karena cinta membuatnya lebih baik diam dan membiarkan sang wanita yang menang.
“Bagus, cepat ganti pakaianmu, jangan terlalu tampan, nanti banyak yang suka.” Geraldine hilang masuk ke dalam kamar setelah memberikan perintah.
Roxy terkekeh pelan saat mendapati wanitanya cemburu, padahal keluar saja belum. Dia ikut ke kamar karena barang-barang ada di sana.
...........
Dua pasang kaki baru saja turun dari mobil yang disewa dari apartemen tempat mereka menginap. Roxy lekas mensejajarkan langkah dengan Geraldine. Pria itu tidak mengizinkan sang wanita berjalan di tepi jalan yang banyak kendaraan berlalu lalang. Tapi ternyata, ada saja orang yang urakan menggunakan jalur yang tidak semestinya.
Tangan Roxy gesit menarik Geraldine ketika ada pesepeda yang melewati trotoar. Dia merengkuh wanita itu supaya tidak terjatuh atau tersenggol, apa lagi tertabrak. “Ini bukan jalan untuk sepeda!” teriaknya hingga otot di leher sampai terlihat.
Roxy kesal, tentu saja. Hampir pujaan hatinya terjatuh kalau ia tidak cekatakan menyelamatkan. Sebab, Geraldine tengah fokus di layar ponsel, mencari restoran yang enak dan terkenal di dekat tempatnya berdiri saat ini.
“Sudahlah, percuma kau berteriak, tak akan didengarkan. Empati orang di Amerika itu sangat rendah, kebanyakan dari mereka tak peduli dengan orang lain, apa lagi saat di jalan.” Geraldine menggandeng lengan Roxy supaya kembali berjalan.
Roxy yang biasanya tegas saat memimpin, ternyata penurut juga kalau sudah berhadapan dengan Geraldine. Dia membungkam mulut dan mengikuti kemanapun wanita itu melangkah.