
Roxy dan Geraldine sepakat untuk tidak melakukan apa pun pada orang tua yang tak memiliki hati nurani. Mereka akan membiarkan Tuan Alphonse tetap hidup tanpa keluarga. Bukankah memang itu yang diinginkan pak tua sadis itu? Istri saja tega dibunuh, anak sampai mendapatkan luka cambuk saat tahu kebusukan yang dilakukan. Jadi, untuk apa repot-repot membunuh kalau pada akhirnya mati perlahan tanpa ada yang perhatian justru lebih menyakitkan.
Selagi semua dalam jangkauan mata Roxy di Helsinki, maka tidak ada yang berani macam-macam. Begitulah sebabnya Geraldine selalu mengurung iparnya di dalam apartemen tanpa memberi tahu kode akses pintu. Jadi, Alesha tidak bisa keluar masuk sesuka hati.
Terhitung sudah satu bulan wanita itu tinggal bersama. Tapi Alesha selalu cemberut dan protes tiap kali tak diizinkan keluar.
“Sekalian saja masukkan aku ke dalam penjara jika begini ceritanya,” keluh Alesha sembari menghempaskan tubuh secara kasar ke atas sofa. Dia menatap sembari mencebikkan bibir sebal ke arah ipar dan kakaknya yan baru saja keluar kamar.
“Oke.” Geraldine menatap tanpa ragu sembari mengeluarkan ponsel dan ayunan kaki menuju ruang makan untuk sarapan.
“Halo, kantor polisi wilayah Helsinki?” Geraldine berbincang di telepon, mengikuti kemauan iparnya.
Alesha dan Roxy menatap bersamaan pada wanita yang usia kandungannya kini sudah berada di bulan ke sembilan. Keduanya mengerutkan kening.
“Kau menelepon polisi sungguhan?” tanya Roxy sembari mengangsurkan makanan ke depan istrinya.
Kepala Geraldine mengangguk dan menunjukkan layar ponsel. “Adikmu minta dimasukkan ke penjara, maka akan ku lakukan.”
“Woi! Gila, aku hanya mengucapkan kalimat sarkas.” Alesha langsung bangkit. Dia berjalan cepat dan merebut ponsel di tangan sang ipar, melihat layar dan ternyata memang benar kalau Geraldine sedang menghubungi pihak berwajib. Jemari lekas menekan tombol merah sebelum ia benar-benar dimasukkan ke penjara.
Alesha ikut bergabung di ruang makan, menatap sengit pada iparnya. “Aku hanya minta kebebasan, di dalam sini terus seperti tawanan. Bisa gila aku lama-lama kalau tak bersosialisasi.”
Alesha meremas tangan ke hadapan iparnya yang menyebalkan. Rasanya ingin menonjok, tapi ditahan. Selalu saja berhasil membuatnya emosi walau ucapan Geraldine keluar dengan tenang, tapi di situlah letak menyebalkannya.
“Hati-hati jika berbicara dengan kakak iparmu, dia bisa melakukan semuanya,” peringat Roxy. Pria itu hapal betul dengan kelakuan istrinya, bagaimana cara melindungi walau dibalut oleh sisi iblis.
Alesha memutar bola mata malas. “Kau itu kakakku, tapi selalu membela istrimu. Padahal aku hanya ingin menghirup udara segar di luar.” Ia meletakkan kepala ke atas meja, dengan sangat lemas.
“Keluar saja ke balkon, kau bisa mendapatkan angin.” Ada saja jawaban yang diberikan oleh Geraldine.
“Ah sudahlah, jangan ajak aku bicara, malas aku.” Alesha memasang wajah cemberut terus. Terlihat sekali aura anak terakhir, manja dan apa-apa harus dituruti.
Geraldine mengusap bibir menggunakan tisu. “Kau mau bekerja?”
Alesha hanya menjawab dengan anggukan tak bertenaga.
“Mandi dan ganti pakaianmu. Mulai hari ini kau akan jadi asistenku!” titah Geraldine.
“What?” pekik Alesha dan langsung menegakkan duduk. “Tidak ada pekerjaan lain?” Dia tahu bekerja dengan ipar sendiri bukanlah hal yang cukup baik, mengingat bagaimana mereka yang setiap hari adu mulut.
“Bukankah kau bosan di dalam apartemen terus. Pilih mana? Menjadi asistenku atau ku pulangkan ke Milan? Berkeliaran sendiri sama saja kau ingin kembali ke pelukan daddymu yang gila itu.” Enteng sekali mulut Geraldine menghina mertuanya sendiri.