Pretty Devil

Pretty Devil
Part 25



Roxy tidak terlihat terkejut sedikit pun meski dipergoki oleh Tuan Giorgio, bosnya sendiri. Ia justru dengan gagah memutar tubuh sampai bisa bersitatap dengan orang yang sudah mendidiknya sejak remaja di Cosa Nostra. Tidak lupa memberikan hormat dengan menundukkan kepala.


“Jawab pertanyaanku, apa yang sudah kau lakukan sampai Geraldine berteriak sekencang itu?” Daddy George kembali mengulangi apa yang diucapkan tadi. Kali ini lebih tegas dari sebelumnya.


“Saya baru saja bercinta dengan anak Anda, Tuan. Juga secara sengaja membuang cairan di dalam rahimnya supaya hamil,” jelas Roxy tanpa rasa berdosa sedikit pun ia berkata jujur.


Daddy George tampak tidak kaget karena dia memang tahu kalau Roxy dan Geraldine sudah sering melakukan hal seperti itu. Jadi, bukan sesuatu yang biasa didengar lagi. “Tidak mungkin hanya karena kau bercumbu dengannya sampai membuat putriku terdengar sangat marah.”


“Putri Anda sering mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, tapi secara diam-diam saya ganti menjadi penyubur. Lalu, baru saja saya beri tahu tentang hal itu, Geraldine menjadi murka.”


Tuan Giorgio sampai menggelengkan kepala. Bisa-bisanya orang kepercayaannya sangat lancang. “Kenapa kau melakukan itu tanpa persetujuan Geraldine?”


“Karena aku ingin membuatnya hamil.” Astaga ... lurus sekali jawabannya. Tak ada rasa takut sedikit pun dengan orang tua dari wanita yang dicintai. Mungkin karena ia adalah hasil didikan Tuan Giorgio dan Dominique, jadilah tak jauh berbeda. “Jika Anda tidak terima dengan perbuatan yang saya lakukan, silahkan nikahkan kami, dengan senang hati akan ku peristri Geraldine,” imbuhnya kemudian.


Roxy tahu kalau perbuatannya sangatlah tidak baik. Tapi, dia melakukan itu juga atas dasar cinta. Jadi, sekalipun mendapatkan amarah, tak masalah.


Tuan Giorgio berdecak pelan. Tidak bisa menyalahkan Roxy juga karena pria itu bersedia bertanggung jawab. Harus maklum karena sifat orang kepercayaannya menjadi perpaduan antara dirinya dan sahabat—Daddy Davis dari keluarga Dominique.


“Kau tunggu di bawah, jangan pergi, akan ku panggil Geraldine untuk membicarakan hal ini!” titah Daddy George.


Tentu Roxy langsung mengangguk dan mengayunkan kaki menuruni anak tangga. Setidaknya kalau keluarga Giorgio tahu tentang perbuatannya bisa membantu membujuk Geraldine supaya mau menikah dengannya.


Tangan yang sudah berumur di usia kepala enam itu membuka pintu setelah mendengar suara sahutan dari dalam. Lagi-lagi kepala dibuat menggeleng saat melihat putrinya masih menutup tubuh menggunakan selimut.


“Kau masih polos?”


“Hm.”


“Lekas pakai bajumu dan turun ke bawah, Daddy ingin bicara denganmu!” Setelah memberikan perintah, Daddy George segera menutup kembali pintu dan menyusul Roxy yang sudah menanti di ruang tamu.


Tak berselang lama, Geraldine juga ikut ke bawah. Hanya memakai baju yang semalam. Mata langsung menatap tak suka ketika masih ada Roxy di sana.


“Kenapa kau belum pulang?” tanya Geraldine dengan suara ketus sembari duduk di sofa terpisah dari dua pria yang saling berhadapan.


“Aku hanya mengikuti perintah Tuan Giorgio,” jawab Roxy tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.


Geraldine mencebikkan bibir sekaligus berdecak kesal. Mencium bau-bau tak enak. “Kenapa Daddy memintaku ke bawah?” Pandangan terjatuh pada pria yang membesarkan dirinya.


“Daddy tahu perbuatan Roxy padamu, dia sengaja menghamilimu. Sebagai orang tua, aku risau jika semua itu terjadi. Maka, ku putuskan untuk menikahkan kalian berdua.”