
Hawa di dalam ruang tamu di mansion Giorgio terasa horor dan mencekam. Pasalnya empat orang yang kini duduk di sana semuanya berwajah datar. Tak ada satu pun yang menjadi pencair suasana. Dingin menyelimuti dan sunyi menemani obrolan yang belum sempat dimulai.
Roxy hendak melamar Geraldine secara langsung. Bukan, lebih tepatnya meminta izin pada Tuan dan Nyonya pemilik wanita itu. Akan tetapi, sejak ia duduk di sofa dan orang yang ingin ditemui hadir di sana, mendadak lebih tegang.
Roxy sudah biasa berhadapan dengan tuannya, George Gabriel Giorgio yang tak lain adalah Daddy Geraldine. Tapi, itu urusan pekerjaan. Dia bisa santai dan biasa saja. Namun, sekarang adalah urusan yang berbeda. Ini jauh lebih serius dibandingkan biasanya. Jadilah kini ia semakin tegang.
Hanya saja ketegangan itu tidak ditunjukkan secara jelas. Ada untungnya memiliki mimik wajah sedingin salju di Kutub Utara.
Roxy berdeham sejenak supaya tiga orang yang menatapnya dengan sorot mata tak terbaca itu bisa mulai fokus pada apa yang hendak ia katakan. “Kedatanganku ke sini memiliki maksud tertentu,” ucapnya dengan suara tegas penuh wibawa. Siapa saja akan terpesona, tapi sayangnya Geraldine pemenangnya.
“Apa? Mau pamer kalau kau berhasil menemukan dan membawa pulang anakku?” tebak George. Dia sedang mengajak mengobrol santai, tapi wajahnya tidak sesantai manusia pada umumnya. Ya, maklum sajalah, satu keluarga berisi manusia datar semua.
“Bukan, hal itu tak perlu lagi ku katakan karena Anda pasti tahu,” balas Roxy.
Geraldine yang mendengar pernyataan tersebut pun langsung melotot ke arah daddynya. “Jadi, Daddy yang memberi tahu Roxy tentang keberadaanku?” Ia bersungut sedikit marah karena mempermudah sang pria menemukannya, walau sesungguhnya lebih banyak leganya.
Roxy jadi teringat moment itu, ia belum sempat meminta maaf pada Mommy Gabby. Pandangan mata pun berhenti pada wanita yang masih terlihat cantik meski beranak tiga. “Nyonya, aku minta maaf karena saat itu mengirimkan pesan pada Anda dengan kata Sayang.”
“What?” pekik Geraldine. Entah kenapa ia mendadak cemburu, padahal itu mommynya.
“Itu demi mencari kau, aku tak sungguh sayang dengan mommymu, di hatiku hanya ada Geraldine, tak mungkin yang lain.” Roxy langsung menjelaskan sebelum wanitanya kebakaran di dalam hati.
“It’s ok, lagi pula aku juga mengharapkan kau cepat menemukan putriku. Setiap hari dia uring-uringan, marah-marah terus karena merindukanmu,” celetuk Mommy Gabby. Sesantai itu mulutnya membongkar aib anak sendiri.
“Mom ...,” tegur Geraldine, matanya mendelik supaya orang tuanya tidak membuatnya malu di depan Roxy. Tapi Mommy Gabby tidak peduli, toh memang benar seperti itu.
“Baiklah, kembali ke topik yang ingin aku bicarakan.” Roxy berbicara lagi agar semua fokus kepadanya. Ia seakan bisa membuat tiga orang tersebut berhenti bicara. Memang aura pemimpinnya sangatlah kuat.
Roxy menatap satu persatu, mulai dari Daddy George, Mommy Gabby, lalu Geraldine. “Jadi, aku ingin memberi tahu kalau niatku ke sini ingin meminta izin untuk menikahi wanita yang sangat ku cintai, putri kalian, Geraldine Gabriella Giorgio.” Matanya kini terfokus pada Tuan dan Nyonya pemilik mansion. “Apakah diizinkan secara langsung, atau aku perlu mendapatkan ujian lagi? Katakan saja, maka akan ku lalui semuanya.” Dia mengucapkan dengan berani, seakan tak ada halangan yang begitu sulit untuk mendapatkan wanitanya.