
Tubuhnya ada di depan mata, tapi bisa menyentuhnya pun tidak. Bukan menyentuh hanya sekedar luarnya, tapi seluruh dari dirinya. Geraldine tersiksa bukan main. Semenjak hamil, dia menjadi orang yang mudah sekali terbakar gairah jika bersama Roxy. Padahal, sebelumnya pun masih bisa mengontol dan tak separah sekarang. Kali ini sungguh membuatnya frustasi.
Geraldine rasanya ingin menyeret sang pria keluar dari apartemen. Dia mau menarik manusia meresahkan itu untuk kembali ke Helsinki, lalu melangsungkan pernikahan sesegera mungkin, dan melanjutkan prosesi yang semestinya terjadi pada pasangan suami istri.
Oh damnn it! Geradine mengeram dalam hati saat pikiran liar terus saja menghantui dan mencemari dirinya.
Sial! Ingin sekali mencuci otak supaya kembali suci dan bersih bagaikan bayi baru lahir. Tapi, usianya sudah terlalu tua untuk hal itu, bayangkan saja kepala tiga tapi polos? Oh itu cukup memalukan dan tak masuk akal. Dari sekian banyak saudaranya, baik kandung ataupun sepupu, hanya dirinya yang belum menikah dan kini justru terjebak oleh hasrat yang tak bisa ditepis dari dalam benak.
Saking kesalnya dengan kondisi saat ini, Geraldine mengambil koper, membuka benda itu, lalu mulai memasukkan seluruh barang-barangnya. Masa bodo kalau sewa apartemennya masih sisa sepuluh bulan lagi. Dia tidak tahan jika terus seperti ini.
“Yakin mau pulang ke Helsinki sekarang? Kandunganmu masih terlalu muda, apakah tak berisiko jika naik pesawat?” Roxy menghampiri Geraldine dan memastikan sekali lagi.
Mereka sudah berdebat tentang hal itu selama satu jam. Geraldine ngotot mau pulang, sedangkan Roxy belum. Pria itu ingin menanti usia kandungan wanitanya masuk trimester dua dan benar-benar aman untuk perjalanan udara yang jaraknya jauh.
“Ck! Bisa tidak kita hentikan pertengkaran masalah ini? Aku benar-benar tersiksa kalau tak segera pulang,” gerutu Geraldine sembari mendaratkan pantat di ranjang dan berhenti mengemasi pakaian.
“Sorry, aku hanya mencemaskanmu.” Roxy mengusap punggung sang wanita. Dia sesungguhnya tahu kalau Geraldine sangat menginginkan hal lain dalam dirinya, begitu juga dengannya. Tapi, sekuat tenaga dilawan demi kebaikan bersama juga. Ia cukup yakin jika hamil muda terlalu riskan jika mendapatkan guncangan yang berlebihan.
“Katanya kau ingin menikah denganku, kapan?” Geraldine menatap Roxy dan menagih pria itu dengan sorot yang menginginkan jawaban segera.
“Sekarang aku sudah sangat siap.” Geraldine berbicara dengan suara menantang. Dia cukup berani untuk melakukan itu pada Roxy.
Roxy terdiam sejenak untuk membaca keinginan terbesar sang wanita yang terpancar jelas dari sorot mata. Ada gairah yang menggebu di sana. Bukan ia bermaksud mempermainkan, tapi tunggu satu bulan lagi sampai masuk trimester dua.
Pada akhirnya Roxy yang mengalah, sebelum wanita berubah pikiran dan menolaknya mentah-mentah. “Baiklah, kita pulang ke Helsinki sekarang.”
...........
Perjalanan selama sepuluh jam dari Los Angeles ke Helsinki, Roxy tak pernah tidur karena menjaga Geraldine. Dia harus siaga karena tekanan udara di dalam pesawat berbeda dengan di daratan.
Pesawat akhirnya mendarat dengan sempurna dan mereka selamat sampai tujuan. Roxy membawa Geraldine untuk naik taksi, mengantarkan wanita itu sekaligus akan membicarakan tentang pernikahan pada Tuan dan Nyonya Giorgio.
“Kau langsung masuk saja, aku yang akan mengurus semua barangmu.” Roxy menahan Geraldine yang hendak menanti koper dari dalam bagasi. “Aku ingin sekaligus bertemu daddymu,” imbuhnya kemudian.
Ah ... tidak bisa dibiarkan, jantung Geraldine langsung memompa darah dan tak sabar. Roxy terlalu macho dan memabukkan. Nampaknya ia benar-benar jatuh cinta pada pria itu.