
Jika Geraldine tengah pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan yang nampaknya kurang baik, Roxy saat ini justru sedang menanti Mike, tangan kanannya yang katanya sudah menyelesaikan semua perintah. Pria itu kini duduk di kursi sebuah ruangan kerjanya yang ada di gedung Cosa Nostra.
“Masuk!” titah Roxy dengan suara tegas.
Seorang pria bernama Mike pun lekas mendorong pintu dan mengayunkan kaki ke dalam, berhenti tepat di hadapan pemimpinnya. “Informasi yang kau cari, kegiatan Nona Geraldine selama satu tahun terakhir.” Ia meletakkan sebuah iPad. Sudah tak jaman laporan dengan kertas.
Roxy mempersilahkan Mike untuk duduk. Ia menarik iPad, melihat laporan ke mana saja Geraldine pergi dan beberapa rekaman CCTV yang diambil dengan cara meretas. Mendapatkan itu semua butuh waktu sampai satu bulan lamanya karena terlalu banyak negara yang dikunjungi, juga tak mudah mencari tahu di mana saja tempat yang disinggahi.
Selama tiga jam Roxy mengamati, mungkin ada sesuatu yang aneh atau seseorang mencurigakan. Tepat sekali matanya berhenti pada laporan di Kota Milan yang didatangi oleh Geraldine tiga bulan lalu.
Roxy melihat rekaman CCTV dari jalan yang dilewati oleh wanitanya. Ia memperbesar ukuran untuk memastikan. “Dia ada yang mengawasi,” gumamnya ketika yakin betul kalau sebuah mobil terus membuntuti kemanapun Geraldine pergi selama di Milan.
Semakin dilihat secara seksama karena Roxy sangat penasaran siapa yang mencurigakan, bola mata langsung membulat karena dia sangat mengenal orang tersebut. Tangannya terkepal kuat. “Apa mereka yang membuat Geraldine meninggalkan aku?”
Roxy mengembalikan iPad pada Mike. “Kau ada rekaman CCTV di dalam restoran yang dimasuki oleh Geraldine itu?” tanyanya sembari menunjuk tempat yang dimaksud.
Mike mengangguk dan membukakan file yang dimaksud. “Wanita yang mengobrol dengan Nona Geraldine bukan rekan bisnis, orang itu langsung duduk di sana tanpa meminta persetujuan.”
Roxy menghela napas kasar. Dia tidak bisa tinggal diam dan harus memastikan sendiri apakah benar Geraldine menjauhi dirinya karena orang-orang dari masa lalunya. “Aku akan ke Italia, tolong kau berjaga di sini dan kabari jika terjadi suatu masalah. Aku harus menyelesaikan batu-batu yang menghambat percintaanku dengan Geraldine.”
“Baik.”
...........
Roxy disibukkan dengan ambisi ingin memecahkan segala hal yang mencurigakan dan membuat percintaannya kacau. Tapi Geraldine justru terlihat resah saat melihat sebuah kertas yang merupakan hasil pemeriksaan di rumah sakit.
Sembari memijat pelipis yang terus pusing, Geraldine justru mendapatkan ide lebih gila lagi untuk menjauh dari Roxy karena tidak mau kalau pria itu sampai tahu tentang kondisi kesehatannya. Hanya satu yang bisa membantu, Daddynya.
Kini Geraldine sedang menemui orang tuanya yang sedang duduk di taman. “Mom, Dad, aku ingin pergi ke luar negeri,” pintanya.
“Biasanya kau juga pergi tanpa berpamitan,” sahut Mommy Gabby.
“Kali ini bukan untuk bekerja. Tapi, aku ingin mengasingkan diri.”
Pernyataan Geraldine membuat Tuan dan Nyonya Giorgio menaikkan alis. “Bukankah kau memang sering melakukan semua hal semaumu? Tumben sekali mengatakan pada kami.”
“Kali ini berbeda karena aku ingin bersembunyi dari Roxy. Aku tak mau pria itu mengetahui di mana keberadaanku. Tolong, sembunyikan kepergianku,” pinta Geraldine.
“Beri Daddy alasan kenapa harus membantumu? Apakah ini berkaitan dengan alasanmu tidak mau menikah dengan Roxy?” tanya Daddy George.
Kepala Geraldine mengangguk. “Aku akan menceritakan pada Daddy kenapa selama ini memilih untuk menolak Roxy walaupun sudah dua tahun sering bersama. Tapi, tolong rahasiakan dan cukup kita bertiga yang tahu.”