
Jangan harap Roxy akan menunjukkan keterkejutan. Pria itu tetap datar biasa saja seolah tidak bersalah. Bahkan menggenggam erat ponsel tuannya secara terang-terangan.
“Sudah ku duga, sejak awal aku curiga karena merasa mudah sekali mengelabuhimu. Ternyata justru aku yang masuk ke dalam jebakanmu,” tutur Roxy. Menatap dengan sangat berani Tuan Giorgio.
“Untuk apa kau mengambil ponselku? Kembalikan!” pinta Tuan Giorgio dengan suara penuh ketegasan. Dia menodongkan tangan ke Roxy.
“Aku hanya meminjam sebentar untuk mencari keberadaan Geraldine karena Anda adalah satu-satunya orang yang tahu dan berhubungan dengannya.” Roxy tidak mau menurut. Masa bodo dianggap lancang dan berani pada atasan, yang penting mendapatkan tujuannya.
“Meminjam tanpa izin namanya mencuri.”
“Mencuri adalah ketika seseorang mengambil barang secara diam-diam dan tidak mengembalikan lagi. Tapi berhubung Anda sudah tahu dan ponselnya ada di depan mata, maka bukan termasuk mencuri.”
Roxy dan Tuan Giorgio justru berdebat kecil. Tapi tentulah pemimpin Cosa Nostra itu tidak mau kalah.
“Jangan menantangku untuk melakukan sesuatu padamu, Roxy!” ancam Tuan Giorgio.
“Tidak perlu mengancamku untuk menjauhkan diriku dari putrimu, Tuan Giorgio, karena itu percuma. Sekalipun jalan yang ku tempuh penuh ranjau, akan ku lewati untuk menemukan Geraldine, wanita yang sedang mengandung anakku.” Roxy menarik sebelah sudut bibir sinis.
Di dalam ruangan itu sangat mencekam karena semua ingin menang. Roxy juga sudah sampai sana, pantang untung menyerah.
Tuan Giorgio menaikkan sebelah alis ketika melihat Roxy berkutat dengan ponselnya. Membiarkan pria itu melakukan sesuka hati.
‘Sayang, kirim lokasimu sekarang, aku akan pergi ke sana, rindu denganmu.’ Kurang lebih begitulah chat yang dikirim oleh Roxy pada istri tuannya.
Setelah mendapatkan balasan, Roxy pun langsung mengirimkan pada dirinya. Lalu baru mengembalikan ke atasannya. “Ini ponsel Anda, sudah tidak butuh lagi, terima kasih.” Berbicara seperti itu sembari meletakkan benda ke atas meja.
Tuan Giorgio tidak tertarik dengan ponselnya lagi. Ia hanya melirik saja ke arah benda tersebut. Justru sekarang mata sedang tertuju pada Roxy yang tengah berdiri setelah berpamitan. “Setelah mengetahui lokasi Geraldine, lalu kau mau apa?”
“Tentu saja pergi ke sana.”
“Jika ku katakan padanya kalau kau tahu keberadaan putriku, kira-kira apa yang akan dia lakukan? Pasti berpindah tempat lagi. Bukankah lebih baik kau membiarkan Geraldine jauh darimu agar tenang?”
“Kita sesama pria, seharusnya tahu bagaimana rasa tanggung jawab pada seseorang. Kalau memang Anda ingin memberi tahu Geraldine, silahkan saja, tetap akan ku cari sampai ketemu!”
Roxy melanjutkan untuk melangkahkan kaki menuju pintu. Tapi ancaman sekali lagi dilayangkan untuknya sebelum berhasil keluar dari sana.
“Jika kau berani pergi menemui putriku, maka bersiaplah untuk ku pecat dari jabatan dan keluarkan dari Cosa Nostra!”
Suara Tuan Giorgio membuat Roxy terpaksa menatap lagi pria berusia kepala enam tersebut. Dengan tatapan tajam dan tak tergoyahkan, dia langsung menanggapi.
“Silahkan pecat sesuka hati! Pekerjaan bisa dicari lagi, tapi berada di sisi wanita yang sedang mengandung anakku? Itu belum tentu terjadi dua kali. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari jika diam saja setelah mengetahui hal sepenting ini!” Roxy berbicara sangat tegas. Tanpa mau dihadang lagi, dia langsung pergi karena akan mencari tiket ke suatu benua lain.