Pretty Devil

Pretty Devil
Part 79



“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alesha. Tidak tahu dorongan dari mana, ia kembali ke lift untuk membantu iparnya, merangkul supaya tak limbung.


Geraldine mengangguk setelah perut mulai reda. Dia melenggang pelan menuju ruangan. Tumben sekali tidak mendebat Alesha atau memberikan cibiran.


“Kau harus katakan padaku kalau kesakitan, nanti Roxy menyalahkan jika terjadi hal buruk padamu,” pinta Alesha. Sehari ini ia sudah melihat Geraldine berdesis sembari memegang perut sebanyak empat kali, walau jarak lumayan lama.


“Iya.” Sudah, sesingkat itu Geraldine menanggapi.


Jika kalem begitu, justru membuat Alesha was-was. Seperti bukan ipar yang ia kenal. Tapi, sudahlah, dia tiduran saja di sofa dalam ruangan Geraldine, bermain ponsel karena ia tak ada kerjaan jika wanita itu tak pergi kemanapun.


“Hari ini aku akan ke Moritz Corp dan dua perusahaan lain, tolong ambilkan berkas ke sekretarisku,” pinta Geraldine pada Alesha.


Tanpa menjawab, wanita itu lekas berdiri, keluar ruangan, dan mengambil dokumen yang diminta. Kembali lagi untuk meletakkan ke meja kerja sang ipar. “Ini.”


Baru mau kembali duduk ke sofa, Geraldine sudah bangkit saja. “Ayo kita berangkat sekarang, pertemuanku tiga puluh menit lagi,” ajaknya.


“Gila ini orang, sudah hamil besar tapi masih semangat saja mencari uang, padahal sehari tak bekerja pun tidak membuatnya miskin,” cibir Alesha, kepalanya menggeleng dan tak habis pikir.


Dari pagi sampai siang, Geraldine melakukan pertemuan dengan client. Lebih dari satu lokasi yang didatangi. Bagaikan memiliki stok energi banyak, juga ingin menuntaskan tanggung jawab sebelum cuti melahirkan supaya daddynya tidak banyak menanggung bebannya.


Pergerakan kaki Geraldine sangat mudah karena ia selalu memakai sneakers agar nyaman juga tak kelelahan. Walau sebenarnya perut sungguh amat sakit tak tertahankan, semakin sering menerjang, dan bertambah hebat hingga menjalar ke sekujur tubuh merasakan remuk yang sulit didefinisikan. Tapi tetap berusaha bertahan sampai agenda terakhir hari ini selesai.


Geraldine menjabat tangan kliennya setelah keduanya melakukan kesepakatan. Dia langsung pamit undur diri karena ingin lekas pergi ke rumah sakit.


Geraldine tidak bisa menanggapi karena fokusnya saat ini adalah cepat pergi ke rumah sakit terdekat.


“Hei! Kau mengeluarkan air, jangan kencing sembarangan,” tegur Alesha, dia menepuk pundak Geraldine. Memang dasar bocah yang tahunya hanya membuat anak tanpa mengetahui proses melahirkan, sekata-kata sekali.


“Itu air ketuban, bodoh! Aku akan melahirkan,” umpat Geraldine. Masih sempat ia menoyor kepala Alesha.


“What?” pekik Alesha. Aduh ... dia tidak berpengalaman pula menghadapi orang hendak melahirkan.


Alesha ingin meraih ponsel di dalam saku untuk menghubungi kakaknya. Tapi, tangan Geraldine yang mendadak mencengkeram lengannya pun membuat dia lupa akan niat tersebut.


“Bantu topang badanku, takutnya aku pingsan di jalan.” Baru pertama ini Geraldine berbicara dengan nada yang tidak menyulut pertengkaran.


Alesha pun bantu memapah, walau tak tahu cukup berguna atau tidak. Dia membawa Geraldine sampai ke dalam mobil kantor yang mengantarkan mereka pergi.


“Ke rumah sakit, cepat!” Alesha yang memberikan perintah. Dia melihat Geraldine tidak bisa berbicara apa pun selain berdesis menahan sakit.


“Jangan kesakitan, aku jadi ikut merasakan mulas melihatmu seperti itu,” pinta Alesha. Seakan ekspresi wajah Geraldine menular padanya.


Geraldine tidak menanggapi, justru ia meremas paha Alesha ketika kontraksi datang semakin sering.