
Mike mengirimkan sebuah pesan pada Roxy, Geraldine membukanya dan langsung diperlihatkan pada suaminya. “Yang kau cari.”
Roxy baru melihat ke arah layar ponselnya saat mobil terhenti oleh lampu merah. Ekspresinya biasa saja, tidak terkejut, atau heran, maupun mimik lainnya. Biasalah, memang selalu datar dan sulit dimengerti apa yang tengah dipikirkan.
“Adikmu tanpa dicari ternyata sudah mandiri datang ke Cosa Nostra, sepertinya kemampuannya oke juga sampai tahu di mana letak tempatmu bekerja,” tutur Geraldine. Dia mengunci layar ponsel lagi. Tidak memperhatikan foto Alesha yang lumayan kacau saat Mike mengirimkan pesan.
“Dia dan Daddy sempat memata-mataiku. Jadi, wajar kalau tahu,” jelas Roxy. Tangannya terangat untuk mengusap puncak kepala Geraldine. “Aku tunda dulu mengantarmu ke kantor, ya? Kita pastikan kondisi Alesha sebentar,” pintanya.
“Berhubung dia sekarang iparku walau sangat menyebalkan, tapi baiklah, kita ke Cosa Nostra.” Geraldine menjawab seperti tidak terlalu ikhlas. Sebenarnya malas bertemu adik Roxy yang bermulut tak ada filternya saat menghina. Walau sebenarnya semua yang dikatakan ada benarnya.
Laju kendaraan semakin cepat. Mobil pun tiba setelah perjalanan selama lima belas menit. Roxy tetap tidak melupakan untuk merengkuh pinggul Geraldine saat berjalan masuk ke dalam.
“Mike mengatakan dia berada di mana?” tanya Roxy pada wanita di sampingnya yang sejak tadi memegang ponselnya.
“Ruang meeting.”
“Oke, kau mau ikut menemui adikku atau menunggu di ruanganku saja?” tanya Roxy. Dia tahu bagaimana kesan pertama pertemuan mereka, tidak ada baiknya. Jadi, meminta pendapat yang bersangkutan saja. Sebab, ia tak akan memaksa jika tak mau. Juga tidak terlalu peduli kalau Geraldine benci keluarganya, yang penting tidak dengannya.
“Aku ikut.”
Dua pasang bola mata milik Roxy dan Geraldine pun langsung menangkap seorang wanita yang duduk dengan wajah lebam, seperti di foto yang dikirimkan oleh Mike.
“Roxy ....” Alesha langsung berdiri dan mengambur memeluk kakaknya. Bahkan tidak memperdulikan Geraldine yang masih berada dalam rengkuhan tangan pria tersebut.
Geraldine memutar bola mata malas. Andai tak ingat kalau bocah tengil menyebalkan itu memiliki memar, sudah dia dorong kepalanya agar menyingkir. Tapi, baiklah, dia akan menjadi malaikat untuk sesaat. Apa lagi mendengar Alesha menangis histeris dan mengeluh sakit, cukup membuatnya sedikit iba.
Roxy tidak membalas pelukan. Pria itu pasif dan membiarkan baju perlahan merasakan basah. “Siapa yang melakukan itu padamu?”
“Daddy ....” Ada kepiluan yang bergetar di dalam isakannya.
Roxy menghela napas, sudah diduga, siapa lagi yang berani melakukan perbuatan seburuk itu kalau bukan orang tuanya sendiri. “Kesalahan apa yang membuatmu sampai mendapatkan luka?” Interogasi tersebut dilakukan masih dalam posisi berdiri.
“Aku penasaran dengan alasanmu kabur. Jadi ku coba cari tahu. Dan ternyata justru aku mendapatkan fakta lain. Daddy menjual obat terlarang dan uangnya sengaja dimasukkan ke perusahaan. Pantas saja selalu ganjal setiap kali ada laporan keuangan. Penjualan furnitur perusahaan kita tidak terlalu banyak, namun uang yang masuk lebih dari nominal yang seharusnya,” jelas Alesha.
Geraldine yang mendengar pun menggeleng pelan. “Bodoh, sudah tahu dilarang, masih saja dilakukan,” sindirnya. Akhirnya ia bisa membalas umpatan kasar Alesha ketika mereka bertemu di Milan. Bagaikan mengeluarkan sebongkah batu dari dalam hati.