
Tadinya Alesha ingin marah karena diculik oleh seseorang. Tapi, sekarang justru terlihat sangat senang karena tahu yang membawanya pergi adalah Roxy, kakaknya yang sudah lama sekali tak pernah bertemu. Wanita itu pun memeluk lengan kekar yang sedang fokus mengemudi.
“Aku rindu sekali denganmu,” ucap Alesha, langsung muncul sifat manja seorang adik yang sudah lama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kakaknya.
Roxy berusaha mendorong kepala Alesha supaya menjauh. “Menyingkir! Kau sudah besar, tidak pantas lagi manja seperti itu denganku.”
Alesha berdecak dan mencebikkan bibir kesal. “Kau itu sejak kabur dari mansion jadi menyebalkan dan dingin pada keluargamu sendiri,” gerutunya memasang wajah cemberut.
“Kalau bukan karena kau membuat ulah, sekarang aku tak mungkin datang ke Milan.” Roxy tidak mau banyak basa basi meskipun dengan adiknya. Sebelum ia ketahuan oleh orang tuanya dan mungkin bisa saja sulit untuk kembali ke Finlandia lagi.
“Ulah? Sejak kapan aku membuat masalah? Justru kau yang selalu bermasalah. Bisa-bisanya menyalahkan aku,” kesal Alesha. Baru juga bertemu setelah lebih dari sepuluh tahun tak berjumpa secara langsung, kakaknya justru sangat menyebalkan.
“Ya, tiga bulan lalu kau menemui wanitaku, ‘kan?”
“Wanitamu?” Alesha menaikkan sebelah alis seakan sedang berpikir.
“Geraldine.”
“Oh ... orang yang kau tiduri setiap hari tanpa dibayar? Si wanita murahan itu.” Alesha langsung mengingat karena hanya satu yang menjadi teman ranjang kakaknya.
“Jaga bicaramu!” Pada akhirnya, Roxy hanya bisa menyentak adiknya supaya tidak berkata sembarangan.
“Bela saja orang lain terus, adik sendiri dimarahi. Baru juga bertemu, seharusnya kau itu tanya kabarku dan Daddy, atau ajak ke makam Mommy, bukannya bertanya tentang urusanmu sendiri lalu mengajak bertengkar adikmu,” omel Alesha, bibirnya manyun menggambarkan rasa dongkolnya.
“Aku sudah tahu kabarmu dan Daddy. Jadi, untuk apa bertanya lagi,” tegas Roxy. Tetap saja pria itu tak mau basa basi.
“Dari mana kau tahu? Bahkan tidak pernah pulang atau menginjakkan kakimu di negara ini.”
“Dengan cara yang sama seperti kau mengetahui keseharianku, bahkan sampai kebiasaanku bercinta dengan Geraldine pun kau dan Daddy pasti sudah tahu, ‘kan?” Roxy menarik sebelah sudut bibir sinis. “Kalian membayar mata-mata di Finlandia, benar?”
“Dih, tidak seru kalau bermain denganmu, baru dimata-matai saja sudah ketahuan.” Alesha mencebikkan bibir untuk kesekian kali.
Sejak tadi Roxy masih terus mengendarai mobil tanpa arah karena memang ia tidak memiliki tujuan selain menginterogasi adiknya. “Waktuku tak banyak. Jawab jujur pertanyaan yang akan ku ajukan, atau kendaraan ini melaju kencang?” ancamnya karena tahu kalau adiknya takut jika mengebut.
“Heh, kakak macam apa kau itu!” Alesha bukannya takut atau terintimidasi, justru menoyor pelipis Roxy hingga kepala pria itu sedikit bergerak. “Bawalah dulu adikmu ini makan di restoran, traktir, bukannya mengancam. Memangnya kau pikir aku ini masih anak-anak? Aku sudah tak takut kalau mobil melaju kencang.” Ia menjulurkan lidah sebagai ejekan.
“Akan ku bawa kau ke restoran. Tapi, berikan ponselmu.” Roxy menengadahkan tangan untuk meminta alat komunikasi adiknya. Dia tidak mau kalau Alesha menghubungi Daddynya karena orang yang paling ia hindari adalah Tuan Alphonse.