Pretty Devil

Pretty Devil
Part 68



“Mungkin.” Roxy menjawab dengan kedikan bahu. Dia juga tidak terlalu yakin akan memakai hadiah pernikahan yang diberikan padanya atau tidak. Pria itu terkesan cuek saja. Bahkan tubuhnya telah terbalut kaos putih polos dan celana boxer.


Roxy sudah tiduran di atas ranjang, melihat sang istri yang masih sibuk sendiri memilih pakaian. “Cepat ganti, lalu ke sini, tidur denganku.” Ia menepuk sisi ranjang yang kosong.


Geraldine melirik suaminya dengan bibir mencebik. “Apa enaknya malam pernikahan hanya tidur saja.”


Pada akhirnya, Geraldine tak jadi memilih pakaian untuk tidur. Dia harus memberikan pelajaran pada Roxy yang tidak mau menyentuhnya. Enak saja dianggurkan seperti makanan basi. Tidak bisa dibiarkan.


Geraldine berdiri menghadap sang suami, masih memakai bathrobe. Di dalamnya hanya polos tanpa memakai sehelai benang pun. Bibirnya menyeringai memberikan sinyal. “Kau mau langsung tidur tanpa meniduriku dulu?”


Wajah Roxy masih nampak tenang, tapi alis terangkat hingga kening mengernyit saat istrinya memperlihatkan sisi bak Pretty Devil. “Iya, kita cukup berpelukan saja malam ini. Aku akan bercinta denganmu setelah kandunganmu masuk trimester dua,” jelasnya sangat santai. Tetap tidak goyah pendiriannya, walau tahu jika Geraldine sejak hamil mulai memiliki hasrat yang lebih tinggi dibanding dirinya.


Dalam hati Geraldine menyesal sudah hamil duluan sebelum menikah. Dia jadi tak memiliki moment malam pertama. Tapi, tetap harus mendapatkan sentuhan malam ini, bagaimana pun caranya.


“Oh, ya? Bahkan setelah melihat tubuhku pun kau tak berminat menyentuh?” tantang Geraldine.


Tangan Geraldine sembari menarik tali bathrobe untuk melonggarkan kain tersebut. Ia membuka lebar sisi kanan dan kiri, menunjukkan setiap lekuk tubuh dari atas sampai bawah tanpa terkecuali. Menanggalkan kain yang ada di tangannya hingga kini mata suaminya bisa bebas menjajah setiap sudut kulit mulusnya.


Roxy tetap bergeming, ingin memalingkan pandangan supaya tidak ada yang meronta di bawah sana, tapi kepalanya terasa berat. Pria itu pun berangsur turun dari ranjang. Dia berjalan dengan sorot mata terus tertuju pada Geraldine, tidak ada kedipan sedikit pun.


Geraldine menyunggingkan senyum. “Apa aku bilang, kau pasti tidak tahan jika mendiamkan tubuhku,” ujarnya penuh percaya diri. Dia sudah yakin kalau Roxy mengayunkan kaki ke arahnya untuk langsung menerjang, memberikan sebuah ciuman, lalu digendong ke atas ranjang, dan terjadilah malam yang pasti menggairahkan.


“Pakai bajumu, nanti sakit.” Roxy dari arah belakang langsung menyampirkan sebuah mantel dan memberikan setelan piyama tidur. Pria itu lalu kembali tidur begitu saja di ranjang.


Gigi Geraldine mengerat hebat. Sudah dipancing pun tidak mau menyentuhnya. Maka, dia yang harus maju terlebih dahulu. “Aku tidak mau memakai ini.” Dia melemparkan setelan piyama di tangannya, dan menyingkirkan mantel yang menutupi tubuhnya.


“Aku ingin kau!” Geraldine melangkah mendekati ranjang.


Sudah tahu seperti itu, tapi Roxy hanya terdiam. Lalu, wanita dengan gairah yang tinggi itu langsung mengungkung sang pria. Geraldine menyambar habis bibir sang suami, mencium dengan memaksa untuk dibalas.


Geraldine pikir, Roxy akan mendorongnya atau menolak. Tapi, ternyata pria itu juga membalas. Kini, keduanya saling menarik lidah satu sama lain. Tentu ada sunggingan senyum di bibirnya pertanda kemenangan.


“Kau sungguh ingin melakukan itu malam ini?” tanya Roxy saat ciuman berakhir. Dia mengusap lembut pipi istrinya.


Kepala Geraldine mengangguk. “Ya, kau menyiksaku jika kita berada di dalam ruangan yang sama tapi tak melakukan apa pun.”


“Baiklah, akan ku lakukan dengan lembut.” Roxy membalikkan keadaan, kini Geraldine yang ada di bawah kungkungannya. Dia tidak mau jika sang wanita yang memimpin karena tahu jika istrinya pasti tidak sabar dan takut kalau melakukan secara berlebihan. Jadi, ia yang mengalah dan menurut saja.


Malam itu, terjadilah apa yang diinginkan oleh Geraldine. Tidak berlangsung lama, setidaknya keduanya bisa mencapai titik nikmat bersama.