
Astaga ... Roxy sampai menghela napas sepelan mungkin, wanitanya selalu saja bertanya yang bisa membuatnya berada di posisi terpojok kalau menjawab tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tapi, dia menganggap itu hanyalah sebuah ujian dari cara Geraldine meyakinkan diri. Padahal, wanita itu hanya ingin mencari topik pembicaraan saja supaya tidak selalu merasa bagai tersengat listrik dalam tubuh.
“Habiskan dulu makannya, nanti baru ku jawab,” tutur Roxy. Dia tidak mau kalau kalimat yang akan keluar dari bibirnya bisa membuat mood ibu hamil itu buruk. Daripada nanti Geraldine tak napsu makan, lebih baik biarkan dahulu wanita itu kenyang.
Roxy sudah memotong steak miliknya. Pria itu mengangsurkan piring di hadapannya ke arah Geraldine, mengganti daging yang belum disentuh sama sekali itu. Ia menukar makanan karena dipesankan menu yang sama.
“Aku sudah memotongnya, jadi kau tidak perlu susah payah lagi, langsung dimakan,” ucap Roxy sembari tangannya terulur hingga menyentuh pipi dan mengusap begitu lembut.
Geraldine merasa bagaikan ratu yang dilayani sebaik mungkin oleh seorang raja. Tidak peduli bagaimana berwibawanya Roxy, pria itu sangatlah hangat padanya. Itulah salah satu yang membuatnya suka dan tertarik pada Roxy. Dari banyaknya manusia, hanya seseorang yang kini duduk di depannya yang kuat dan tahan banting menghadapi seluruh sifatnya. Baginya, hal itu sangat langka.
Mereka pun menikmati hidangan steak tanpa bercengkrama. Jadilah makan berlangsung tanpa waktu lama.
Geraldine dan Roxy mengusap bibir menggunakan sapu tangan yang disediakan oleh restoran. Keduanya bersamaan minum cairan yang ada di dalam gelas, tidak ada alkohol karena wanita itu sedang hamil.
“Jadi, apa jawabanmu?” Geraldine mengingatkan kembali sembari meletakkan gelas ke meja.
Mata Roxy begitu berani menatap wanitanya. Keduanya menjadi saling pandang dengan sorot sama-sama kuat. “Karena aku suka tantangan, sedangkan kau wanita yang cukup menantang untuk didapatkan. Disamping wajahmu yang jarang tersenyum, kau adalah seseorang yang memiliki sifat ketus, keras kepala, mandiri, dan senang menguji.” Dia tak lupa dengan hal yang terakhir itu, sejak awal sampai akhir memang ujiannya dari Geraldine tak pernah ada habisnya, termasuk pertanyaan yang terkadang menjebak.
“Kenapa semua yang kau sebutkan terdengar sifat burukku?” Geraldine menaikkan sebelah alis sembari mengusap dagu.
Geraldine memang terlihat buruk saja di luar, tapi jika sudah peduli akan menunjukkan sisi perhatiannya. Dahulu, Roxy pernah ditugaskan misi berbahaya dan tidak sengaja terkena peluru. Saat mengetahui hal tersebut, dia lekas meninggalkan segala pekerjaan dan menemui pria itu untuk memastikan keadaan, merawat hingga benar-benar sembuh.
“Padahal lukaku tak seberapa, tapi kepanikanmu menunjukkan bahwa kau adalah seseorang yang memiliki tingkat kepedulian tinggi,” lanjut Roxy.
Jawaban Roxy sangat memuaskan, rasanya Geraldine ingin memeluk tapi terhalang oleh meja. “Ayo pergi dari sini,” ajaknya sembari menarik tangan sang pria agar beranjak berdiri.
“Mau ke mana lagi?”
“Ke mana saja yang penting hanya berdua.”
“Duduk saja dulu, aku bayar tagihannya.” Roxy menahan Geraldine supaya tidak beranjak.
“Katanya kau dipecat oleh daddyku karena nekat pergi ke sini, biar aku saja yang bayar.” Mereka justru berdebat kecil mempermasalahkan untuk membayar tagihan makan.
“Aku tak semiskin itu, Sayang.” Roxy menjelaskan dengan suara maskulin yang sangat lembut, seraya tangan mengusap puncak kepala Geraldine. “Tunggu saja di sini.”
Geraldine sampai harus menahan napas ketika tangan kekar Roxy memberikan usapan di kepala dan berakhir ke pipi. Jantungnya tidak baik-baik saja.