Pretty Devil

Pretty Devil
Part 24



Meskipun semalam mereka terlibat adu mulut dan saling menantang, tapi tetap saja pada akhirnya terlelap berdua. Roxy tidur di kamar Geraldine, dan sang wanita juga tidak mengusir. Mungkin sudah terlalu kelelahan serta mengantuk. Jadi, biarkan saja mengarungi lautan mimpi bersama.


Pagi harinya, Roxy yang paling awal membuka mata. Pemandangan yang sangat indah ketika baru bangun langsung mendapati orang yang dicintai ada di hadapannya.


Roxy cukup diam saja dan mengagumi iblis cantik tersebut. Tidak mau mengganggu tidur Geraldine. Sebab, kalau sudah bangun, belum tentu wanita itu mau dipandang secara bebas seperti saat ini.


“Ku colok matamu jika terus menatapku seperti itu!” ancam Geraldine ketika ia bangun langsung mendapati Roxy terus memandang dirinya.


“Silahkan saja.” Roxy justru semakin membulatkan mata, tangan juga berani membelai pipi mulus sang wanita. Ancaman bukan menjadi ketakutan, justru sebuah tantangan baginya.


Telapak Geraldine mendorong wajah Roxy supaya memberikan jarak. “Pulang sana!” usirnya. Dia memang kejam dan tajam berbicara, tapi untuk menyakiti fisik Roxy, tentu tidak sampai ke hati.


“Ternyata kau itu hanya anggun ketika tidur, dan ganas saat bercinta, kalau sudah bangun langsung kembali dalam mode tak berperasaan,” ucap Roxy seraya dengan santai turun dari ranjang, memunguti pakaian yang berserakan dan memakai di depan Geraldine yang sedang melotot ke arahnya tanpa berkedip.


“Berisik,” cibir Geraldine. Di bibir memang berucap seperti tak senang, tapi dalam hati tengah berdebar tak keruan.


Sebelum keluar, Roxy kembali menghampiri sang wanita yang masih berbaring di tutupi oleh selimut tebal. “Terima kasih sudah mengobati kerinduan akan rasa dari tubuhmu. Semalam sudah ku keluarkan di dalam sini.” Tangan kekarnya menepuk bagian perut rata Geraldine dengan bibir menyeringai dan perlahan kepala mendekat ke telinga sang pujaan hati. “Sudah terlambat untuk kau meminum obat kontrasepsi. Bersiaplah hamil anakku.” Bukan hanya wanita itu yang bisa membuatnya kesal, tapi ia pun juga dapat membalas dengan perbuatan yang lebih lagi.


“Yang menyebalkan justru paling berkesan.” Roxy beranjak menjauh dari ranjang. Tapi, ketika sampai di paling ujung, ia menarik selimut hingga tubuh polos Geraldine terekspose memenuhi indera penglihatannya. “Kau sangat cantik ketika seperti itu.”


“Dasar pria cabul!” geram Geraldine seraya melemparkan bantal ke arah Roxy. Dia kesal, pria itu bisa sekali memunculkan amarahnya.


Tapi, Roxy masih terlihat datar dan biasa saja. Ia justru santai meletakkan batal ke lantai. Akan selalu diingat wajah kesal Geraldine, karena memang tipenya seperti wanita itu, lebih menantang dibandingkan sosok lemah lembut.


Roxy yang telah berada di ambang pintu pun belum menutup sepenuhnya. Masih bisa melihat Geraldine dari sana. “Satu lagi, aku lupa memberi tahu jika obat yang kau konsumsi selama ini bukanlah pencegah kehamilan, tapi sudah ku tukar dengan penyubur kandungan.” Setelah itu barulah ia merapatkan kayu, dan bisa mendengar suara teriakan dari dalam.


“Roxy ...! Kau bedebah! Sialan! Licik!”


Mendengar kalimat umapatan tersebut, Roxy justru mengulas senyum. Entah kenapa dia senang ketika bisa membalas sakit hati yang ditorehkan oleh Geraldine dengan cara membuat wanita itu marah.


“Kau apakan anakku sampai berteriak seperti itu?!”