Pretty Devil

Pretty Devil
Part 66



Roxy tidak mungkin hanya diam saja saat tuannya memanggil. Ya ... walaupun ada perasaan yang tidak enak. Sebab, jika Tuan Dominique yang memintanya berdiri dan datang menghampiri, itu pertanda ada sesuatu hal yang pasti akan di luar nalar. Berbeda dengan bosnya yang satu lagi, atau bisa dibilang mertuanya.


Roxy teringat kalau Tuan Dominique selalu meroasting dirinya tiap kali bertemu. Entah membuat tentang keluarganya yang dijadikan bahan candaan, hubungan buruknya dengan daddynya yang selalu digunakan sebagai pembicaraan, kekakuannya dan sifat penurutnya yang selalu dihasut supaya sedikit membangkang. Masih banyak lagi. Tapi, dia tahu kalau semua itu hanya sekedar cara untuk mereka mendekatkan diri dengan ia yang teramat lurus hidupnya.


Tubuh tegap Roxy berdiri di samping Tuan Dominique. Dia tidak berbicara apa pun. Tapi, langsung mendapatkan rangkulan dan tepukan.


Rasanya berada di dalam keluarga besar itu sangatlah nyaman. Dia diterima dengan baik, dan kehangatan justru melebihi keluarga aslinya.


“Aku tidak menyangka, anak pungut kita akhirnya jadi menantu,” kelakar Tuan Dominique sembari menggoyangkan bahu Roxy dengan penuh semangat.


Roxy tidak tersinggung dengan panggilan itu. Toh memang seperti itu kenyataannya. Dia hanyalah anak remaja yang diambil dari jalanan, lalu dibesarkan dan dididik sepenuh hati, sampai rasa sayangnya pada dua keluarga itu sangatlah besar.


Pria yang baru saja resmi menikah itu mengulas senyum dan menggangguk. Dia selalu bingung jika sudah menghadapi keabsurdan tuannya yang satu itu. Berbeda dengan Tuan Giorgio, ia merasa lebih satu frekuensi dengan keluarga itu. Begitulah sebabnya perasaannya bisa terdampar pada sosok wanita keras kepala yang ketus.


“Ubahlah panggilanmu itu, jangan sebut anak pungut, dia ku sayang dari dulu seperti anak sendiri.” Lihat siapa yang memprotes, Mommy Diora—istri Tuan Dominique.


Roxy selalu hanya diam dan membuat sepasang suami istri itu berdebat sendiri karena membelanya. Tapi, kali ini tentu saja tidak. “Tak masalah, aku senang mendengarnya.”


Coba saja bayangkan andai yang hadir di sana hanya manusia berwajah datar. Pasti di dalam private room itu hanya ada diam, makan, lalu pulang. Mana ada berbincang hangat seperti saat ini.


“Del, kau sudah membawa kado pernikahan untuk mereka?” tanya Daddy Davis sembari melirik ke arah Delavar. Dia tidak melepaskan rangkulan.


“Tentu saja, meski dia menghubungi mendadak, tapi ku sempatkan untuk membeli hadiah.” Delavar berdiri sembari membawa kotak. “Tapi, sepertinya ini lebih cocok ku berikan pada Geraldine.” Ia berhenti tepat di samping sepupunya dan meletakkan di depan meja.


“Aku yang membelikan untuk Roxy.” Tiba-tiba Dariush berdiri dengan membawa kotak yang sama persis. Dua manusia itu memang paling klop jika urusan dibawah pusar. “Ini.” Tangannya mengulurkan pada Roxy yang berdiri di samping daddynya. Lalu kembali duduk.


“Oke, coba sekarang buka,” titah Tuan Dominique, walaupun ia sudah tahu apa isi di dalamnya.


Geraldine dan Roxy menarik simpul tali hingga memudahkan mereka membuka. Melihat isi di dalamnya dengan dahi keduanya yang mengernyit.


“Untuk apa kau memberiku hadiah seperti ini?” Geraldine yang protes.