
Geraldine dan Roxy saling menikmati rasa tubuh satu sama lain. Keduanya memang sedang merindukan penyatuan seperti saat ini. Rasanya sudah lama sekali tak bercumbu mesra, padahal baru satu bulan saja lamanya kedua manusia yang kini polos itu tak berjumpa.
Tapi, sangat terbayar dari peluh yang bercucuran keluar dari pori-pori, menandakan betapa menggelora kegiatan bercinta dini hari. Baik Geraldine maupun Roxy, keduanya saling meliukkan tubuh, bergonta-ganti posisi supaya tidak membosankan.
Meskipun Roxy berdiri menanti satu jam lebih lamanya di depan kamar Geraldine, tapi dia seakan tak memiliki rasa lelah. Semua terbayar saat mendengar suara erotis yang dikeluarkan dari bibir sang wanita. Mata yang terpejam dengan wajah menunjukkan sedang keenakan itu membuatnya semakin menumbuk dengan ritme cepat.
Namun, Roxy mendadak berhenti memaju mundurkan pinggul. Membuat Geraldine mendengus kecewa.
“Kenapa kau menyudahi?” protes Geraldine yang masih belum mendapatkan titik puncak kepuasan.
“Jawab pertanyaanku, apa kau masih membutuhkan aku?” Roxy harus memanfaatkan situasi untuk mendapatkan setidaknya segelintir informasi.
“Jika aku tak membutuhkanmu, untuk apa kita melakukan ini sekarang?” decak Geraldine. Tangannya menyentuh pinggul sang pria untuk ia gerakkan sendiri sesuatu yang masih bersarang di bawah sana.
“Lantas kenapa kau saat itu mencampakkan aku? Lalu menolak lamaranku?” Tatapan Roxy yang tajam bercampur gairah dan rasa penasaran itu tak lepas dari kedua bola mata wanita yang dicinta.
Geraldine rasanya ingin mengumpati pria itu sekarang juga. “Kau jangan merusak suasana, Roxy! Cepat selesaikan proses bercinta kita!” sentaknya seraya mendorong tubuh kekar yang ada di atasnya.
Jika Roxy tak segera membuatnya sampai ke puncak, maka Geraldine sendiri yang akan melakukan. Dia merubah posisi menjadi di atas sang pria, dan kini dirinya yang memimpin permainan.
Geraldine membekap mulut Roxy supaya tak banyak mengeluarkan suara lagi. Bisa-bisa dirinya hilang selera kalau pria itu terus mengajak mengobrol. “Diam dan nikmati saja.” Ia mengeluarkan suara berupa desakan.
Roxy tak mendapatkan informasi apa pun dari mulut Geraldine. Wanita itu sungguh menutup mulut serapat mungkin. Pasti ada sesuatu yang ditutupi, sampai ia tidak diberi tahu. Padahal, Geraldine sering menjadikan dirinya tempat bercerita dalam hal apa pun. Tapi, untuk masalah satu itu tidak pernah mau memberi tahu. Jadilah semakin yakin bahwa ada yang janggal dan pernah terjadi pada wanitanya. Jika prediksi tak salah, juga menyangkut tentang dirinya.
Merasakan hendak mengeluarkan sesuatu, Roxy balik mendorong tubuh Geraldine. Secara sengaja ia berhenti dan membiarkan miliknya masuk lebih dalam lagi supaya para pejuangnya bisa berenang bebas mencari sel telur agar bisa dibuahi.
Entah Geraldine sadar atau tidak jika Roxy sudah menanam sesuatu, tapi wanita itu saat ini sedang memejamkan mata dengan napas terengah-engah.
Kesempatan bagus bagi Roxy untuk menghilangkan kerinduan. Setelah dirasa miliknya kembali ke bentuk jinak, ia pun merebahkan tubuh di samping sang wanita. Memeluk Geraldine supaya tak teringat untuk mengkonsumsi obat kontrasepsi.
“Kenapa kau tidak pernah mau menjawab pertanyaanku dengan jujur tentang alasanmu meninggalkan aku?” tanya Roxy seraya membelai lembut punggung mulus Geraldine.
“Bukankah kau orang hebat sampai diberikan kepercayaan oleh Daddyku? Buktikan kalau memang orang tuaku tak salah memilihmu. Kau cari tahu sendiri apa penyebabnya,” jawab Geraldine seraya membalikkan tubuh hingga memunggungi sang pria.
“Jika aku berhasil mencari tahu, apa yang akan kau berikan padaku?”