Pretty Devil

Pretty Devil
Part 57



Jika sudah berhadapan dengan Geraldine, Roxy yang sangar bak singa itu berubah bagaikan marmut. Perubahan perilakunya sebesar seratus delapan puluh derajat. Luar biasa memang kalau pria telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada seorang wanita.


Namun, tetap saja Roxy nampak gagah berwibawa. Pesonanya tak pernah luntur meski tidak bisa mendebat apa pun keinginan sang wanita. Wujud cintanya terlalu nyata dan bukan semu belaka.


Seharusnya Geraldine bersyukur dicintai oleh pria seperti itu. Mementingkan dirinya di atas segala urusan yang ada. Beruntung ia tak menolak lagi ajakan menikah dari Roxy yang kedua kali. Jadi, sosok tersebut masih bisa dimiliki untuk selamanya.


Keduanya terlibat saling pandang saat ini, berkutat dengan pikiran masing-masing. Mengangumi satu sama lain, walau bibir tidak mengucap sepatah kata pun.


Tangan Roxy selalu menggenggam dan mengusap permukaan kulit Geraldine yang ada di bawah meja. Terasa seperti mimpi bisa kembali berduaan seperti saat ini.


“Apa kau akan terus menatapku sampai matamu terlepas dan tak memesan makanan?” tegur Geraldine. Sejak tadi ia sudah menanti Roxy untuk memilih makan dan minum. Tapi sepertinya pria itu langsung kenyang hanya sekedar menatap wajahnya.


“Aku akan memakan apa pun yang kau pesan,” jelas Roxy.


“Ck! Katakan sejak awal kalau kau mau aku yang memesan sekaligus, sudah sepuluh menit aku menunggumu memilih, ternyata keputusan ada di aku juga. Jika tahu seperti itu, pasti sekarang kita telah makan,” gerutu Geraldine. Dia memanggil waiters untuk memesan.


“Sorry, aku terlalu merindukan wajahmu yang galak itu.”


Geraldine mencebikkan bibir ke arah sang pria. Jangan harap mimiknya akan berubah. Dia tersenyum adalah suatu hal langka.


Meski Geraldine selalu mengajak bicara menggunakan nada ketus, namanya juga iblis cantik, tapi suara yang ditangkap oleh indera pendengaran Roxy bagaikan alunan musik merdu memabukkan.


Oh God ... pria itu benar-benar sudah dimabuk cinta. Nampaknya tidak terselamatkan lagi dari serbuan panah asmara. Entah apa yang sudah dilakukan oleh Geraldine sampai membuat Roxy terus terpana.


“Kenapa? Apa kau tak suka?” Roxy belum juga berhenti, pria itu senang sekali dengan physical touch.


“Tidak—” Geraldine terhenti, dia menggantungkan kalimat karena merasa tak yakin untuk menjelaskan apa yang melanda dirinya. Sentuhan dari Roxy mampu membangkitkan segala kilatan listrik di dalam tubuhnya. Mana mungkin ia menjawab kalau mudah tersetrum. Iblis cantik itu memiliki gengsi lebih tinggi dari gedung paling tinggi di dunia, mungkin berada di lapisan langit ke tujuh.


“Kalau begitu, untuk apa aku berhenti? Kecuali kau tak suka, maka aku tak akan melakukan.”


Geraldine menghela napas panjang. Aduh ... mulutnya enggan mengatakan kalau ada hal lain yang membuatnya kegerahan. Sialan! Dia sampai mengumpat dalam hati.


“Makanan datang.” Geraldine menarik tangannya sendiri, padahal sejak tadi juga ia bisa melakukan itu, tapi memang dasar terbuai saja jadi sedikit bodoh. Untung terselamatkan oleh waiters yang meletakkan makanan ke atas meja.


Dua pasang tangan nampak ada di atas meja, siap melahap makan siang mereka. Geraldine sepertinya ingin membuka suara karena dari tatapan mata terpancar rasa ingin tahu. “Roxy?” panggilnya.


“Hm?”


“Aku ingin bertanya sesuatu.”


“Apa?” Roxy berhenti mengiris steak, beralih menatap wanita di hadapannya dengan sorot meneduhkan serta penuh cinta.


“Dari sekian banyak wanita, kenapa kau mencintaiku?”