
Sudah satu jam Roxy menggenggam tangan Geraldine, berjalan tanpa tujuan jelas. Keduanya hanya sedang menghabiskan waktu dengan mengayunkan kaki di daerah Beverly Hills. Namun tiba-tiba pria itu mematung dan membuat si wanita berwajah galak juga sama tak bergerak, tapi sembari menatap bingung ke arah Roxy.
“Kenapa?” tanya Geraldine, memastikan tak ada sesuatu yang buruk terjadi, atau mungkin mendadak pria itu melihat musuh dan lain sebagainya.
“Kita pulang saja, ya? Aku tak ingin membuatmu kelelahan di usia kehamilan yang masih muda, takut kalau kau dan anak kita terjadi hal buruk nantinya,” pinta Roxy. Ternyata sejak tadi ia terus mengamati bagaimana cara jalan Geraldine yang mulai melemah, disitulah radar ingin melindungi langsung aktif seketika.
“Aku baik-baik saja, lagi pula hari masih sore, belum malam. Untuk apa juga kita hanya menghabiskan waktu di dalam apartemen tanpa melakukan apa pun.” Geraldine memang sengaja enggan pulang. Dia sadar diri dengan tubuh yang cepat sekali tersetrum hingga terjadi konselet ketika hanya berdua bersama Roxy.
Wanita itu cukup paham bahwa ia menginginkan pria itu menanggalkan seluruh kain dan melakukan yang semestinya ada di bayangannya saat ini. Begitulah kiranya alasan kenapa Geraldine mengajak ke luar saja. Tapi, tentu dia tak mungkin memberi tahu pada Roxy, apa yang akan dipikirkan nanti kalau ketahuan bahwa arus listriknya terlalu mudah terbakar.
Rencana Geraldine justru ingin berjalan di luar sampai lelah. Jadi, saat sudah pulang ke apartemen langsung mengantuk dan tidur.
“Aku selalu menuruti keinginanmu, tapi tolong untuk kali ini dengarkan apa kataku, toh juga demi kebaikanmu.” Roxy mulai berbicara dengan suara tegas tapi tidak menghilangkan kesan hangat.
Geraldine menghela napas mengalah. “Baiklah.”
Dengan malas, wanita itu menyeret kaki, mengikuti Roxy ke arah mobil sewaan mereka berada. Geraldine sepertinya harus mulai belajar mengontrol pikirannya yang terlalu liar supaya tidak menyiksa diri dengan keinginan untuk memenuhi segala fantasi liar di dalam kepala.
Roxy yang melihat sang wanita seperti orang yang lemas tak bertenaga pun akhirnya melepaskan genggaman tangan. Dia menggendong Geraldine agar tak perlu susah payah atau kelelahan berjalan.
Pasrah sajalah, Geraldine mengalungkan tangan di leher Roxy tanpa berdebat sepatah kata pun. Dia menikmati dengan menenggelamkan kepala di leher yang rasanya begitu menggoda dan ingin sekali ia gelitiki menggunakan lidah. Namun, segera menggeleng untuk menepis segala pikiran kotor itu.
...........
Geraldine hanya tiduran di sofa sembari melihat film di Netflix yang terputar dalam layar televisi sebesar lima puluh inch. Dia bingung ingin melakukan apa di dalam apartemen, pekerjaan juga tak ada, jadilah bermalas-malasan saja.
Roxy secara tiba-tiba datang dari arah dapur dengan membawa segelas susu. Menyodorkan ke hadapan sang wanita. “Minum dulu susumu,” titahnya.
“Iya.” Entah setan dari mana merasuki Geraldine, mendadak dia langsung menurut begitu saja. Tubuhnya berangsur berubah menjadi duduk. Perhatiannya jadi fokus pada gelas yang sedang diteguk.
Setelah berhasil menandaskan susu buatan calon suami, Geraldine meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja. Dia lalu kembali menatap televisi dan mengambil posisi tiduran di sofa seperti semula.
Tapi, ada yang aneh, bantal yang tadinya terasa empuk mendadak keras berotot. Mata Geraldine pun memastikan. Benar saja sesuai dugaannya, paha Roxy sudah menjadi bantalannya.
“Kau bisa tidak pindah ke sofa yang masih kosong?” pinta Geraldine sembari menatap Roxy dari bawah.
“Tidak, bukankah enak berbantal pahaku? Sembari ku usap rambutmu dan kau melihat film dengan tenang,” tolak Roxy.
‘Tenang katanya? Bagaimana bisa tenang kalau milikku bisa mendadak berkedut tiap kali di dekatnya. Ku rasa pria ini memang sedang menguji tingkat kesabaranku yang sekecil debu,’ gerutu Geraldine dalam hati.