
Setelah tahu di mana lokasi keberadaan Geraldine, Roxy saat itu juga langsung mengemasi barang dan membeli tiket ke Los Angeles. Pantas saja dicari di benua Eropa tidak akan ketemu, ternyata pergi ke Amerika.
Yang ada di dalam pikiran Roxy hanya Geraldine dan anaknya saja. Masa bodo kalau aksi nekatnya ini akan membuatnya menjadi pengangguran. Tenang, dia tak akan langsung miskin dalam waktu sekejap saja. Uang tabungan sangatlah banyak, tempat tinggal tetap juga ada. Jadi, sekalipun setelah menemui wanitanya yang kabur, ia bisa menghidupi mereka dalam waktu lima tahun.
Roxy tak akan risau mendapatkan ancaman pemecatan. Toh dia memiliki keahlian, bisa memanfaatkan itu untuk membuka lapangan pekerjaan atau mencari pekerjaan. Jadi, sekarang begitu santainya pria itu di bandara menanti dipersilahkan masuk ke dalam pesawatnya yang akan mengantar menuju Los Angeles.
Sementara itu, Geraldine semakin resah dan gelisah karena sudah satu minggu belakangan daddynya tidak mau membantu. Dia sangat ingin melihat wajah Roxy. Tapi, orang tuanya yang stay di Helsinki sana selalu menolak permintaannya agar melakukan video call ketika rapat bersama pemimpin Cosa Nostra.
Hal itu membuat si ibu hamil tersebut menggerutu terus. Hingga membuat Mommy Gabby yang selalu melihat mimik putrinya menjadi ikut sebal.
“Jangan seperti anak remaja baru hamil kau itu,” omel Mommy Gabby. Saat ini ia sedang berjalan-jalan dengan Geraldine. Tapi wajah putrinya ditekuk dan masam terus.
“Memang aku sudah tidak remaja, tapi baru pertama kali hamil.” Ada saja yang bisa Geraldine timpali.
“Senyum sedikit, memang cantik wajahmu itu walaupun terlihat galak, tapi anakmu bisa-bisa takut melihat mommynya.” Mommy Gabby sengaja menarik ke atas bibir sang putri supaya tidak terlalu kaku.
“Ck! Sudahlah, aku ini sedang sebal dengan suamimu, tidak mau membantuku melihat wajah Roxy.” Geraldine melihat bangku besi di depan sana, ia pun duduk untuk menghilangkan pegal di kaki.
Begitu juga dengan Mommy Gabby yang ikut di samping Geraldine. “Kalau aku jadi daddymu, sudah pasti melakukan hal yang sama. Hampir tiap hari meminta video call secara diam-diam ketika bersama Roxy, memangnya kau tak tahu kalau Roxy sempat menegur daddymu? Harga dirinya sebagai pemimpin sampai dipertaruhkan di depan anak buahnya sendiri.”
“Namanya demi anak, berkorban sedikit tak apa lah.”
“Coba kau saja yang melakukan itu. Demi anak, lupakan rencana dan egomu.” Mommy Gabby menarik sebelah sudut bibir, mengembalikan kata-kata putrinya.
Dan hal itu berhasil membungkan mulut Geraldine yang menggerutu terus sepanjang hari. “Sudahlah, aku mau pulang ke apartemen saja.” Dia lekas berdiri dan meninggalkan sang Mommy.
Semalam, Mommy Gabby menghubungi suaminya, menanyakan apakah jadi datang ke Los Angeles atau tidak. Tapi, sungguh tercengang ketika mendapatkan jawaban kalau ternyata yang kemarin mengirimkan pesan adalah Roxy. Lalu Tuan dan Nyonya Giorgio saling mengobrol melalui telepon. Diceritakanlah semua kejadian dan betapa teguh serta kuatnya tekad Roxy.
Maka dari itu, Mommy Gabby pun berencana untuk pulang saja ke Helsinki. Lagi pula dia sudah melihat kesungguhan dari calon menantu juga. Jadi, apa lagi yang harus dirisaukan? Putrinya saja yang perlu menurunkan ego demi menjunjung tinggi harga diri.
Jadi, pagi ini Mommy Gabby membawa koper berisi barang-barang. Menemui Geraldine yang setiap pagi berjemur di balkon.
“Mommy mau ke mana?” tanya Geraldine sembari memicing ke arah koper.
“Pulang ke Helsinki, aku merindukan suamiku.”
“Oh ... hati-hati.” Geraldine berdiri dan memeluk orang tuanya. Dia tidak akan menghentikan mommynya untuk pulang. Toh berani juga sendirian di sana. “Apa perlu ku antar ke bandara?”
“Tidak, kau di sini saja, sudah ada orang suruhan daddymu yang menjemputku,” tolak Mommy Gabby. Dia mengusap perut Geraldine yang masih rata. “Baik-baik di sini sendiri, kalau takut, nanti ku bilang daddymu agar memberikan orang untuk menjaga di sini.”
“Aku bukan anak kecil yang harus diawasi terus, Mom.”
“Baiklah, aku pergi dulu.” Mommy Gabby melambaikan tangan seraya mengayunkan kaki keluar.
Satu jam setelah kepergian mommynya, Geraldine masih di balkon. Dia berdiri tepat di pembatas, melamun melihat ke arah depan.
Tapi, telinga menangkap jelas ada seseorang yang membuka pintu apartemennya. Tanpa berbalik, dia mengajukan pertanyaan dengan suara teriak. “Ada barangmu yang tertinggal, Mom?”
Bukan mendapatkan jawaban, tapi Geraldine justru merasakan ada tangan yang tiba-tiba memeluk dari belakang.