
Semua yang dikatakan oleh Roxy adalah benar. Geraldine memang memutuskan untuk mencampakkan pria itu dan menjauh karena tidak mau terkesan seperti tidak memiliki harga diri. Setelah dipikir-pikir memang apa yang dikatakan oleh Alesha ada benarnya juga. Dia sangat mudah memberikan tubuh pada Roxy tanpa mendapatkan apa pun. Bahkan wanita malam saja masih mendapatkan bayaran dari pelanggan, sementara dirinya? Gratis!
Oh tidak bisa. Geraldine sangat tak mau kalau ia bagaikan wanita murahan. Harga diri sangat dijunjung tinggi. Itulah sebabnya menempuh jalur sekarang. Jika ia terus berada di dekat Roxy, tidak bisa menjamin kalau hidupnya akan berhasil menahan hasrat yang setiap kali muncul hanya dengan menatap pria itu.
Seperti sekarang, ada debaran yang menggebu dirasakan oleh Geraldine. Walaupun ia dan Roxy saling memandang dalam jarak yang lumayan. Tapi, pesona pria itu tidak bisa dibantah lagi, memang luar biasa tampan.
Namun, sebisa mungkin Geraldine masih tetap berada dan menjunjung tinggi egonya. Dia mau pria itu yang berinisiatif memperjuangkannya. Sehingga berusaha keras untuk melawan diri yang ingin sekali menarik Roxy menuju kamar, lalu mencumbu pria itu untuk menghilangkan kerindungan yang sudah mendalam.
Geraldine tetap menatap sinis pria yang kini sedang duduk dengan wajah datar. Dia bisa melihat ada raut lelah di sosok Roxy.
“Lantas, kalau kau sudah tahu alasanku, mau apa? Semua itu tak berguna lagi sekarang. Intinya, aku tidak ingin lagi berurusan denganmu!” tegas Geraldine.
“Oh, ya? Tapi ku rasa mulut dan hatimu tidak sejalan.” Roxy tersenyum miring, berdiri kian mendekati sang wanita.
Pria itu menahan pinggul Geraldine yang hendak menghindar lagi. Langsung meletakkan telapak tangan di dada wanitanya. “Kau berbedar, bukankah itu sudah jelas pertanda kalau saat ini sedang senang atas kedatanganku ke Los Angeles? Aku berhasil menemukanmu setelah melewati semua halangan yang sengaja diberikan oleh daddymu, pasti semua itu atas permintaanmu.”
Geraldine menepis tangan Roxy yang seenaknya menyentuh dada. “Namanya manusia dan masih hidup, tentu saja jantungku berdebar, kecuali kalau kau mengharapkan aku mati!” Ada saja caranya mengibarkan bendera permusuhan.
Geraldine teringat kalau Roxy memiliki niatan buruk padanya, balas dendam. Bisa jadi semua yang dilakukan oleh pria itu memang sengaja ingin memberikan kesan yang bagus di matanya. Lalu pada akhirnya akan memberikan luka sebagaimana dia melakukan itu dahulu. Tidak bisa dibiarkan, keturunan Giorgio tak mau kalah.
“Aku harus percaya dengan semua ucapanmu?” Geraldine terlihat meremehkan seraya mendorong dada Roxy sekuat yang ia bisa, hingga pria itu terhuyung sedikit ke belakang. “Aku tak akan kalah dengan aksi balas dendammu itu, mau kau berhasil menemukanku di sini, semua sudah percuma, telah berakhir. Kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi, paham?!”
“Kau dan aku bukan sedang berkompetisi siapa yang menang atau kalah. Bagaimana bisa aku tega melakukan balas dendam dan menyakiti wanita yang ku cintai? Tak sampai hati, semua rencana yang pernah ku katakan padamu hanyalah sekedar niat yang tak akan pernah terealisasikan karena sekarang tujuanku sudah berbeda.” Roxy memaksa untuk menggenggam tangan Geraldine. “Bagaimana caranya agar kau percaya dengan kata-kataku itu? Kalau memang anggapanmu kita sedang berkompetisi, biarlah aku yang kalah karena gagal membalaskan dendam karena cintaku lebih besar dibandingkan sakit hati yang pernah kau berikan.”
...*****...
...Bestie ... udah terjawab ya alasan Betadine mencampakkan Roxy karena dia gak mau terlihat murahan, menjunjung harga dirinya biar gak terkesan jelek banget karena gratisan mulu sama Roxy. Jadi, aku mau umumin pemenangnya juga nih. Selamat buat dua akun di bawah ini....
...Tolong dm ke instagram aku ya @heynukha buat klaim hadiahnya. Aku tunggu...