
Geraldine tanpa pikir panjang langsung bergegas keluar dari apartemen. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Roxy. Sampai tak memikirkan penampilan. Wanita itu masih memakai piyama dan sandal yang biasa digunakan untuk di dalam ruangan. Masa bodo kalau ia bagaikan orang gila, yang penting tidak terlambat melihat Daddy dari anaknya yang berada di rumah sakit.
Lihatlah, baru juga berapa jam wanita itu mengusir Roxy dan kini telah panik sendiri mendengar sang pria kecelakaan. Geraldine tidak memiliki kendaraan pribadi selama di Los Angeles. Dia meminta pihak apartemen untuk mengantarkan ke rumah sakit.
“Ku mohon baik-baik saja, jangan terjadi hal buruk denganmu.” Geraldine menggigit jari dengan mata terus melihat ke luar.
Mobil melaju terasa sangat lambat, membuat Geraldine geram sendiri. “Apa tak bisa lebih cepat lagi? Ada orang yang sedang sekarat di rumah sakit,” pintanya dengan suara sangat memaksa.
“Keselamatan kita juga perlu diperhatikan, Nona.”
“Jalan tak terlalu padat, sudah gas saja, jangan takut-takut. Nanti ku bayar lebih mahal.”
“Baik, Nona.”
Daripada mendengarkan omelan sepanjang perjalanan, lebih baik supir itu mempercepat laju saja. Hingga kini kendaraan tersebut berhenti di depan rumah sakit yang sudah disebutkan.
Geraldine lekas turun dan menemui penjaga di resepsionis. “Pasien kecelakaan atas nama Abelard Roxy Alphonse, ada di mana?” tanyanya sangat panik dan tak sabaran.
“Masih di IGD, Nona.”
“Terima kasih.” Geraldine bergegas melangkahkan kaki secara cepat menuju ruangan yang dimaksud.
Tangannya membuka satu persatu gorden yang menyekat setiap brankar. Mencari Roxy berada. Tapi tidak menemukan dan sisa di bagian ujung.
Badan wanita itu sudah lemas ketika kaki terayun ke sana. “Roxy?” panggil Geraldine ketika menyibakkan gorden panjang.
Deg!
Sungguh kali ini Geraldine sulit bergerak dan bernapas. Di depan matanya ada pria dengan wajah pucat dan tangan telah disilangkan ke dada.
“Roxy ... jangan mati,” raung Geraldine seraya menggoyangkan tubuh pria itu supaya bangun.
Tapi tidak mendapatkan respon apa pun, membuat Geraldine semakin cemas. “Bangun! Jangan bercanda seperti ini, aku tidak suka!” bentaknya kemudian.
“Pasti kau hanya mengerjaiku, kan?” Geraldine mendekatkan telinga untuk mengecek napas dan detak jantung.
Saat itu juga Roxy menahan diri untuk tidak mengambil atau mengeluarkan udara supaya tak ketahuan sedang bersandiwara.
Geraldine tak merasakan pria itu bernapas dan detak jantung juga sulit ditemukan. Menggenggam tangan Roxy ternyata sangat dingin.
“Roxy ... jangan meninggalkanku sendiri, bagaimana aku merawat anak kita kalau kau mati duluan.” Geraldine kini sungguh menangis kencang dengan memeluk pria itu. Bahkan sampai terisak.
Roxy masih tetap dalam sandiwaranya, kuat sekali dia menahan napas agar tak ketahuan berbohong. Ini adalah kali pertama ia tidak jujur, demi mendengarkan isi hati dari Geraldine.
“Aku mencintaimu, Roxy, bangunlah! Mari kita besarkan anak ini bersama. Janji, jika kau mau membuka mata sekarang dan tak jadi mati, aku tidak akan mengusirmu lagi. Semua yang ku lakukan karena tidak ingin kau menang balas dendam.”
Geraldine mencium kening sang pria, lalu turun ke bibir. “Ayo buka matamu, bukankah kau sangat merindukan aku sampai jauh-jauh mencari ke sini? Kenapa justru meninggalkan untuk selamanya?”
Dalam sandiwaranya, Roxy menahan tawa. Berhubung sudah tak kuat dan wanita yang sedang memeluknya itu terus menangis serta mengucapkan kalimat cinta, akhirnya ia pun membuka mata dan mulai menanggapi. “Sudah ku duga, kau pasti juga mencintaiku.”