
“Kenapa kau memilih untuk kabur, menjadi anak jalanan, dan justru nyaman dengan Daddy serta uncleku dibandingkan keluargamu sendiri?” Apa lagi yang membuat Geraldine penasaran tentang Roxy kalau bukan masalah keluarga. Sebagai istri, dia ingin tahu juga terkait masa lalu suaminya. Pria itu sudah tahu semua yang berkaitan dengan dirinya. Sekarang, saatnya ia juga harus melakukan hal sama.
“Mommyku meninggal sejak aku usia lima belas tahun, dan yang membunuh adalah suaminya sendiri.”
“What? Daddymu?” Wajah Geraldine terlihat sangat terkejut mendengar cerita yang bahkan baru pembukaan.
Kepala Roxy mengangguk sembari tangan terus mengusap rambut sang istri.
“Tega sekali, apa dia tak mencintai mommymu?”
“Tidak ada cinta bagi manusia seperti daddyku, yang dia pikirkan hanyalah uang dan segala cara baik atau buruk akan dilakukan.”
“Maksudmu?”
“Mommyku tahu kalau bisnis hanyalah tempat daddyku menyembunyikan uang hasil menjual narkotika. Dia selalu menasehati supaya jangan merusak anak bangsa dengan barang seperti itu. Tapi, daddyku tidak terima, lalu mencari cara untuk melenyapkan mommyku supaya tidak mengatur hidup lagi.” Roxy terdengar menghela napas berat. Matanya mulai berkaca-kaca saat mengingat lagi bagaimana kejadian yang sudah berlalu sangat lama.
Tangan Geraldine terulur untuk menyeka buliran yang meluncur dari ekor mata. Baru pertama kali ini melihat Roxy menangis. Dia pikir pria itu tak akan tahu caranya bersedih. “Kenapa kau bisa tahu kalau daddymu yang melakukan pembunuhan?”
“Aku tak sengaja melihat dia memasukkan sebuah serbuk yang entah apa ke dalam minuman yang selalu diberikan pada mommyku, lalu kesehatan mendadak menurun drastis dan tiga hari kemudian dinyatakan meninggal dunia karena gagal jantung.” Roxy semakin memeluk Geraldine untuk mencari kekuatan melanjutkan cerita keluarganya yang jauh dari kata harmonis.
Geraldine mengusap kepala suaminya dengan penuh kasih, sebagaimana Roxy sering melakukan itu padanya. “It’s ok, kita sudahi sampai di sini saja kalau kau tak kuat melanjutkan ceritanya.”
“Lalu, kau tidak mencoba melaporkan ke polisi?”
“Sudah, tapi daddyku memiliki koneksi di sana. Laporanku tidak diproses. Lalu, ku putuskan untuk kabur saja karena dia jenis manusia gila yang tega membunuh siapa saja kalau menghalangi jalannya.”
“Apa kau mendapatkan ancaman?”
“Jelas.” Roxy sembari mengangguk. “Dia sudah memberikan peringatan supaya aku tutup mulut dan tak perlu ikut campur. Daddyku mempertegas kalau aku harus menurut dengannya karena akan mempersiapkan untuk menjadi penerusnya.”
Geraldine mulai paham titik permasalahannya. “Kau tidak mau dan berakhir membangkang? Kabur, menjadi gelandangan?”
“Ya, daripada hidup dengan didikan orang tua gila, lebih baik aku survive di luar saja.”
“Terus, bagaimana dengan adikmu? Kenapa kau membiarkan dia tetap berada di sisi daddymu?”
“Saat itu aku terlalu muda, membawa adikku ikut kabur justru lebih menyusahkan.” Roxy kembali meletakkan kepala ke bantal supaya bisa menatap wajah Geraldine dengan sangat jelas. “Selagi dia tak tahu apa pun, maka hidupnya aman. Sudah ku peringatkan pada Alesha supaya tidak perlu mencari tahu alasanku memilih pergi.”
Geraldine mengerutkan kening. “Bagaimana jika sebaliknya? Kalau adikmu justru mencari tahu dan dia berakhir di tangan daddymu seperti mommymu?”