
Butuh waktu tiga belas jam di udara sampai pada akhirnya Roxy menginjakkan kaki di tanah yang sama dengan keberadaan Geraldine. Dia langsung naik taksi menuju apartemen sang wanita. Tidak perlu bertanya ataupun kebingungan untuk mencari unit tempat tinggal yang akan dituju. Sangat ingat secara jelas apa yang dikirimkan oleh Nyonya Giorgio.
Untuk akses lift membutuhkan kunci berupa kartu agar bisa bergerak menuju lantai yang dituju. Tapi, dengan keahlian meretasnya, Roxy bisa mengotak atik sistem hingga ia dapat naik ke lantai dua puluh. Melakukan hal yang sama untuk membuka pintu apartemen nomor dua nol delapan.
Sungguh keahlian yang sangat berguna sekali. Jadi memudahkan Roxy untuk sampai ke dalam tempat tinggal baru Geraldine.
Dada Roxy berdebar hebat penuh kelegaan saat melihat punggung wanitanya di balkon. Begitu senyap langkah kaki memijak di lantai. Dia langsung memeluk tubuh yang sangat dirindukan itu. Tidak perlu mengeluarkan suara, dengan melakukan itu sudah sangat menggambarkan betapa besar rasa ingin bertemunya.
Geraldine yang merasakan ada tangan melingkar di perut pun otomatis mengalihkan pandangan ke bawah. Dia membulatkan mata ketika secara jelas melihat tangan kekar berotot, apa lagi tato di jari dan lengan yang sangat khas milik pria yang selama ini dirindukan.
Masih enggan berbalik badan, Geraldine sudah tahu pasti yang datang adalah Abelard Roxy Alphonse. Aroma wangi dari parfum pria itu tajam menusuk di indera penciumannya. Dia berpura-pura tak senang, padahal saat ini bibir mengulas senyum tipis tanpa disadari oleh Roxy.
‘Berhasil juga kau menemukan aku di sini,’ gumam Geraldine dalam hati.
Pelukan itu tak berlangsung lama. Geraldine mengurai secara paksa tangan kekar Roxy, berbalik dengan memberikan tatapan nyalang tak suka akan kehadiran tamu tak diundang itu. Meski dalam hati berkata sebaliknya.
“Tentu saja karena aku memiliki kecerdasan tinggi, kaki, nyawa, dan uang,” jawab Roxy sangat santai. Meski wajahnya datar biasa saja, tapi percayalah kalau matanya penuh binar bahagia dan rasa rindu yang terbayar lunas setelah berhadapan dengan wanita yang amat dicintai.
“Siapa yang memberi tahu kalau aku di sini?” Geraldine mengayunkan kaki masuk ke dalam. Dia terus berusaha memunggungi Roxy karena menyembunyikan raut yang tidak bisa berbohong kalau sangat senang pria itu datang dan berhasil menemukannya.
“Aku mencari tahu sendiri, kenapa? Bukankah kau senang dan sesuai rencanamu kabur? Kepergianmu ke sini karena ingin mengujiku, kan?” Suara tegas Roxy bagaikan alunan musik merdu di telinga Geraldine, wanita itu bagaikan merasakan ada desiran halus di perut dan dada.
“Sok tahu!” seru Geraldine. Dia duduk di sofa dengan gaya yang angkuh, dengan menyilangkan tangan dan kaki.
“Aku memang tahu, bahkan alasanmu memilih mencampakkanku saat itu, lalu pergi hingga ke Los Angeles. Semua aku sudah mengetahui, jadi kau tak perlu mengelak.” Roxy tetap berusaha mendempel pada Geraldine. Dia tidak memberikan ruang untuk mereka ada jarak sedikit saja.
“Oh, ya? Memang menurutmu apa yang membuatku melakukan ini semua?” Geraldine menatap bagaikan seorang musuh. Kalau Roxy bisa tahu, berarti pria itu memang luar biasa cerdas serta peka dengan apa yang ia rasa dan pikirkan.