
Dua bocah itu tidak bisa diam terus. Menyerocos, mengeluarkan semua yang sudah pernah Geraldine keluhkan. Tiba-tiba calon pengantin wanita itu menyesal sudah menjadikan keponakannya tempat mencurahkan isi hati. Tidak bisa dipercaya untuk tutup mulut. Rasanya ingin sekali mengambil lakban untuk menutupi Faydor dan Galtero yang sejak tadi menelanjangi seluruh umpatannya di depan Roxy.
Merasa kuwalahan, Geraldine pun menengok ke arah kembarannya yang duduk di belakang. “Ge, amankan dua setan cilikmu ini!” titahnya dengan suara rendah tapi sengaja ditekan.
“Kenapa? Kau merasa malu sering menggunjing calon suamimu dan sekarang diungkap oleh mereka?” Gerald mengucapkan tanpa ekspresi, tapi senang juga menyaksikan kembarannya yang berwajah tegang serta merah akibat kesal.
“Ge ...!” Geraldine menekankan sekali lagi. Pasti kembarannya senang sekali melihatnya terpojok karena dahulu ia sering melakukan seperti itu pada Gerald.
“Faydor, Galtero, sini.” Daripada menyaksikan keributan di detik-detik menjelang pernikahan, lebih baik Cathleen yang maju dan memisahkan anak-anaknya dari sang ipar.
Geraldine baru bisa bernapas lega setelah tak ada suara keponakannya yang tidak bisa diam. Ia lalu menegakkan posisi duduk dan melihat ekspresi Roxy. Ternyata pria itu biasa saja. “Kau tidak marah, kan? Setelah mendengar ocehan Faydor dan Galtero?”
Kepala Roxy menggeleng, sembari tangan terulur untuk menggenggam tangan calon istrinya yang ada di atas paha. Ia mengusap permukaan kulit dengan begitu lembut. “Tidak, aku sudah tahu kalau kau suka mengumpatiku. Asalkan apa yang kau ucapkan tadi memang sungguh berasal dari lubuk hatimu.”
Geraldine terdiam sejenak, menaikkan sebelah alis karena sedang berpikir. Ucapan apa? Dia tidak merasa mengucapkan apa pun pada Roxy. Tapi, setelah mendapatkan jawaban, ia mengangguk dan bersuara. “Aku mencintaimu?”
“Ya, apakah itu benar?” Roxy menatap dan mengunci sorot mata Geraldine.
“Tentu saja, kalau bohong, mana mungkin aku mau menikah denganmu.”
Kini, Geraldine bisa melihat senyum Roxy. Ternyata, pria itu justru semakin tampan saat gembira.
Merasa ditatap dan diperhatikan, Roxy pun meraih tengkuk calon istrinya. Belum juga mengucapkan janji karena masih menunggu keluarga Dominique, dia sudah menyosor saja, mencium hingga terjadi perang lidah. Bahkan pintu terbuka pun tidak membuat mereka mengakhiri ciuman tersebut.
“Belum,” jawab Tuan Giorgio.
“Belum? Tapi mereka sudah saling menempelkan bibir?” Kaki Tuan Dominique terayun mendekati Geraldine dan Roxy. Dia memisahkan dua manusia yang pasti melupakan kalau di dalam sana ada banyak orang. “Hey! Menikah dulu baru berciuman!”
Geraldine berdecak. “Uncle ... kau mengganggu saja,” gerutunya.
Sedangkan Roxy berdeham dan memasang wajah santai. “Sebelum menikah pun aku sudah menanam benih.”
“Dasar anak muda ... untuk kau bertanggung jawab. Kalau tidak, sudah pasti mati ditangan tuanmu sendiri.”
Roxy hanya diam dan tidak menanggapi.
Ruangan yang tidak terlalu besar juga tak kecil itu langsung penuh diisi oleh dua keluarga besar. Petugas dari Badan Kependudukan yang akan menikahkan Geraldine dan Roxy pun telah masuk.
Sepasang mempelai pun dipersilahkan untuk berdiri. Mereka menghadap depan dan ada seseorang yang berpakaian jubah hitam. Suasana mendadak hening karena semua sedang fokus.
“I do.” Geraldine dan Roxy mengucapkan kalimat itu secara bergantian setelah petugas mengucapkan sebuah janji.
Riuh tepuk tangan menggema di dalam sana sebagai ucapan selamat setelah keduanya dinyatakan resmi menjadi suami istri.
Meski sudah sering melakukan ciuman. Tapi, tetap saja kali ini terasa berbeda. Moment yang dihadapi sangat membuat hati lega, gembira, dan segala gundah gulana sirna. Setiap sesap yang mereka lakukan di depan semua orang itu terasa lebih hikmat, tanpa gairah, tapi saling mengungkapkan cinta dari lembutnya tarikan lidah satu sama lain.