Pretty Devil

Pretty Devil
Part 62



Daddy George sampai menatap Roxy dengan sorot tidak percaya. “Kau meminta ujian dariku?” tanyanya sekali lagi.


“Tidak, aku hanya memastikan saja, siapa tahu butuh pembuktian lagi seberapa besar rasa cinta dan tanggung jawabku pada satu-satunya putri keluarga Giorgio, sebelum merelakan dan melepasnya untuk dipercayakan padaku,” jelas Roxy. Ia tahu betul bagaimana tuan-tuannya, semua memiliki sisi ingin melindungi anak perempuan.


Jadi, sebagai seorang pria sejati, dengan senang hati Roxy akan melakukan segalanya demi meyakinian calon mertua. Ia bukan pengecut yang tak berani menghadapi segala situasi atau memilih lari dari tanggung jawab setelah menghamili anak orang.


“Kalau ku katakan supaya kau menemui orang tuamu dan membawanya datang ke pernikahan, apa kau mau?” tantang Daddy George. Dia tahu seluruh latar belakang Roxy, bahkan alasan pria itu memilih menjadi gelandangan sejak remaja.


Roxy menaikkan kedua alis seakan sedikit terusik dengan permintaan itu. Tapi, jika jalan satu-satunya adalah melakukan semuanya, maka dia siap. “Oke.” Ia langsung menyetujui dan tak perlu banyak beralasan ini itu.


“Yakin?”


“Sangat yakin.” Tidak ada keraguan sedikit saja. “Sekarang juga aku akan terbang ke Milan untuk menemuinya.” Ia lekas berdiri, bukankah lebih cepat justru semakin baik? Itu yang dijunjung tinggi saat ini.


Roxy hendak mengayunkan kaki keluar dari sana. Tapi, suara Daddy George mencegah. “Tidak perlu, aku sudah memberimu izin untuk menikah dengan putriku. Tak butuh pembuktian apa pun, kau orang kepercayaanku yang ku didik sejak remaja. Jadi, tidak ada keraguan sedikit pun.”


Roxy berbalik badan lagi tapi tidak kembali duduk di sofa. Masih berdiri tegak. “Anda yakin?”


“Ya, aku tahu kau sangat tak suka dengan daddymu, daripada pernikahan kalian menjadi kacau kalau dia datang, lebih baik tidak perlu ada keluargamu.” Daddy George memberikan kode pada Roxy supaya kembali duduk di sofa dan melanjutkan pembicaraan.


Sedangkan Geraldine, dia tidak terlalu paham dengan konflik keluarga Roxy. Meski ia sudah dua tahun menjalin hubungan bersama pria itu, tapi tak terlalu mengulik masalah pribadi satu sama lain. Mungkin, nanti setelah mereka menikah akan ditanyakan. Sebab, ditangkap dari informasi daddynya, Roxy terlihat tidak senang jika menyangkut orang tua aslinya.


“Bagus, semakin cepat kalian menikah, maka lebih baik, supaya Geraldine berhenti uring-uringan setiap hari, meneleponku dengan suara yang kesal karena tidak segera disentuh oleh Roxy,” ungkap Mommy Gabby. Dia seperti sedang menelanjangi putri sendiri di depan calon menantu.


“Mom ...!” Mata Geraldine melotot, memberikan peringatan supaya menjaga mulut. Walau apa yang dikatakan adalah fakta. Padahal Roxy biasa saja mendengar informasi itu.


Tapi, namanya juga keluarga tak kenal takut. Mommy Gabby hanya mengedikkan bahu. “Aku ingin supaya Roxy segera menyeretmu ke Badan Kependudukan.”


“Aku bisa melakukan sekarang, tapi semua kembali lagi pada Geraldine. Jika dia mau pernikahan sederhana dan cukup nama kami tertera secara resmi, secepatnya pasti bisa, bahkan detik ini sekali pun. Tapi, kalau ingin mengadakan pesta, aku butuh waktu setidaknya seminggu untuk mempersiapkan,” terang Roxy. Gerak cepat sekali dia.


“Bagaimana, Briella?” tanya Tuan dan Nyonya Giorgio. Kalau sedang serius, mereka pasti memanggil dengan nama tengah sang putri.


“Aku tak butuh pesta.”


Roxy melihat jam di pergelangan tangannya. “Oke, masih ada waktu, kita ke Badan Kependudukan sekarang.” Ia berdiri seraya mengulurkan tangan agar Geraldine ikut melakukan hal yang sama.