Pretty Devil

Pretty Devil
Part 41



Daddy George tidak membenarkan ataupun menyalahkan pernyataan dari Roxy. Dia hanya diam dengan bibir ditarik sebelah. Biarlah membuat orang kepercayaannya itu berasumsi sendiri.


“Anda tidak bisa mengelak karena aku bisa melihat dari pantulan pada kaca mata,” tegas Roxy.


“Jika kau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi,” sindir Daddy George seraya mendorong kursi ke belakang. Dia hendak pergi, tidak ada yang mau dilakukan lagi.


“Kenapa Geradine pergi? Dan di mana keberadaannya sekarang? Aku tahu kalau Anda mengetahui tentang hal itu.” Roxy langsung mengajukan pertanyaan ini. Daripada mencari info terlalu lama, siapa tahu bisa mendengar dari bibir Tuan Giorgio.


Daddy George yang hendak meraih handle pintu pun melihat ke arah Roxy. “Cari sendiri jika kau penasaran.”


Kalimat tadi terdengar seperti tantangan di telinga Roxy. “Sejak lima minggu yang lalu pun aku sedang melakukan pencarian keberadaan putrimu. Tapi, selalu dihalangi dengan berbagai tugas tak masuk akal.”


“Kau kesal?”


“Jelas, tandanya Anda belum sepenuhnya percaya padaku untuk mengelola Cosa Nostra, jika pada akhirnya masih mengatur seluruh tugasku.”


“Seorang pemimpin harus siap melakukan apa saja, anggaplah itu sebagai ujian kelayakanmu.”


Roxy tidak bisa membantah tentang hal tersebut karena memang benar. “Jika Anda sungguh memintaku untuk mencari keberadaan Geraldine sendiri, maka jangan halangi dengan memberikan tugas yang seharusnya bisa dilakukan oleh anggota lain. Anda sengaja, bukan? Karena ingin membuatku semakin sulit mendapatkan informasi tentang putrimu?”


“Memang, carilah jika kau bisa, maka akan ku akui kehebatanmu,” tutur Daddy George. Dia lalu meninggalkan Roxy seorang diri di dalam sana.


“Akan ku cari dan dapatkan semua informasi. Jangan sebuat aku pemimpin Cosa Nostra kalau melakukan hal mudah saja tidak bisa,” ucap Roxy sembari berdiri dengan tekad penuh.


Tak masalah Tuan Giorgio tidak mau memberi tahu padanya, setidaknya ia tahu kalau Geraldine masih penasaran dan ingin melihatnya. Dari mana lagi pemikiran tersebut datang kalau bukan matanya yang menyaksikan langsung di kaca mata.


...........


Besoknya, Roxy pergi ke rumah sakit di mana lokasi terakhir yang dikunjungi oleh Geraldine. Ia bertanya baik-baik terlebih dahulu pada petugas yang menjaga di bagian pendaftaran. Dokter di tempat itu banyak, jadi tidak mungkin bertanya satu persatu untuk menanyakan mana yang pernah memeriksa wanita bernama Geraldine.


“Bisa kau carikan riwayat kunjungan pasien bernama Geraldine Gabriella Giorgio?” Biasalah, tipikal wajah Roxy yang meminta tolong tapi bagaikan sedang menodong.


Petugas itu mencarikan nama yang di maksud di dalam komputer. Tapi, tidak memberi tahu, justru menutup kembali hasil pencarian. “Maaf, Tuan, dokumen pasien adalah rahasia, hanya yang bersangkutan atau keluarga saja yang boleh tahu dan melihat. Apakah Anda adalah salah satunya?”


“Ya, aku suaminya.” Percaya diri sekali Roxy mengatakan itu dengan lantang.


“Bisa perlihatkan bukti yang menunjukkan bahwa Anda dan Nona Geraldine telah menikah?” Petugas pendaftaran itu hanya melakukan tugas sesuai SOP saja.


“Kalau begitu, aku tak jadi bertanya.” Roxy pun kembali keluar rumah sakit. Dia tidak bisa menunjukkan bukti karena yang diucapkan tadi hanyalah keinginannya, bukan kenyataannya.


Pria itu duduk di dalam mobil, sembari melihat ke arah gedung rumah sakit seakan sedang memperhitungkan sesuatu. “Jika ku minta secara baik-baik tak diberi, maka akan ku curi,” gumamnya setelah mendapatkan ide. Bagaimanapun caranya, tetap harus tahu kenapa Geraldine datang ke sana.