
Alesha bukannya menunjukkan wajah penyesalan karena sudah merusak hubungan cinta kakaknya, tapi ia justru cengengesan. Sungguh adik yang menyebalkan. Bahkan Roxy sangat ingin menendang kalau saja biang kerok itu bukan seorang wanita.
“Katakan, Alesha! Aku tidak memiliki kesabaran!” sentak Roxy menggunakan intonasi tinggi. Bahkan hingga seluruh pengunjung restoran pun menatap ke arah mejanya.
“Sht ... kau itu jangan mempermalukan di sini, aku sangat terkenal di Milan.” Alesha membekap mulut kakaknya agar berhenti berteriak.
Tapi, Roxy langsung menghempas paksa tangan sang adik. “Sejak tadi aku mencoba menurutimu, minta traktir makan ku ajak ke restoran, hanya menjawab pertanyaan secara jujur dan detail saja kau tak bisa!” Dia tidak peduli kalau dijadikan bahan tontonan orang-orang di sekitar. Toh tempat tinggalnya bukan lagi di Italia, tapi Finlandia.
Bahkan Roxy yang terlihat marah pun sampai membuat waiters yang hendak mengantarkan pesanan di mejanya pun berhenti bergerak. “Maaf mengganggu sebentar.” Ia baru meletakkan dua piring dan dua minuman di atas meja setelah perdebatan antara kakak beradik itu terjeda.
“Jawab sekarang atau lebih ku permalukan lagi? Aku tidak peduli kau adikku, siapa pun yang mengusik wanitaku, akan berhadapan denganku.” Wajah Roxy semakin mendelik ditambah nada bicara terkesan dingin tapi mengintimidasi.
“Makan dululah, aku lapar.” Alesha seperti sedang menghindar dan mengulur waktu. Dia meraih pizza yang dipesan.
Tapi, Roxy langsung mencekal pergelangan adiknya dan secara sengaja menekan agar lemas. “Aku sedang tak bisa diajak basa-basi, Alesha!” tegasnya.
“Aw ... sakit! Lepaskan! Aku ini adik kandungmu.” Alesha hendak menarik tangannya tapi tidak bisa karena Roxy terlalu kuat.
“Oke, oke, aku juga sedikit menghinanya.” Tak ada pilihan lain, Alesha akahirnya mengaku.
“Kalimat apa yang kau gunakan untuk merendahkan wanitaku?” Roxy masih terus mencecar sampai ia puas dan mendapatkan jawaban. Setidaknya tak sia-sia sudah jauh sampai ke Italia.
“Wanita murahan, tak ada harganya, bahkan pelacurr pun dibayar setelah memuaskan kliennya, sedangkan dia tidak mendapatkan sepeser pun darimu.” Alesha berdesis karena tangan terasa lemas sekali. “Aku sudah menjawab jujur. Lagi pula hinaan itu juga sesuai kenyataan, sekarang lepaskan tanganku!” pintanya.
Roxy baru melepaskan tangan adiknya. Sekarang dia tahu kenapa Geraldine menjauh darinya. Pria itu kesal bukan main dengan Alesha yang berbicara tajam dan pasti menyakitkan hati. Bahkan ia yang mendengarkan pun kesal, apa lagi wanitanya.
“Kenapa kau menghinanya? Memangnya ada masalah apa dengan Geraldine?”
Alesha mengedikkan bahu sembari mengibaskan tangannya supaya tak terlalu sakit. “Aku hanya ingin saja melakukan itu. Salahmu sendiri tak pernah menengokku di sini. Gara-gara kau kabur dari mansion, sekarang aku yang menanggung semuanya, harus bekerja. Padahal enak hanya rebahan di ranjang, bermain ponsel seharian tapi selalu dapat uang atau menjadi model terkenal memanfaatkan bodyku yang seksi. Tapi, karena kau, aku jadi dituntut ini itu oleh Daddy!” Ia justru balas mengomel dan mengeluarkan semua hal yang mengganjal di hati. Bahkan dada sampai naik turun.
Roxy diam sejenak, membiarkan Alesha lebih reda emosinya. “Kau tidak perlu menurut dengan Daddy kalau tak ingin, carilah pekerjaan sesuai keinginanmu. Biarkan perusahaan Alphonse hancur dengan sendirinya karena tidak memiliki penerus.”
Alesha sampai menaikkan sebelah alis mendengar jawaban kakaknya. “Kau gila? Perusahaan keluargamu sendiri disumpahi hancur? Sebenarnya ada masalah apa kau dengan Daddy sampai sebenci itu?”