Pretty Devil

Pretty Devil
Part 23



Geraldine mengedikkan bahu. “Aku tak bisa menjanjikan akan hal itu.” Dia enggan memberikan jawaban pasti, setidaknya setelah Roxy bisa tahu sendiri alasan sesungguhnya, pria itu dapat memahami keputusannya dan mengatasi semua masalah hati dan lingkungan eksternal mereka.


“Aku akan mencari tahu sendiri. Tapi, kau harus berjanji tak akan menghindariku lagi dan hubungan kita tetap berlangsung seperti biasanya, bagaimana?” pinta Roxy seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.


“Kau tahu kalau aku paling anti dengan kata janji,” jawab Geraldine. Matanya mulai terpejam karena ia mengantuk setelah kelelahan bercinta.


“Ku anggap itu adalah jawaban sepakat darimu.” Roxy kembali memeluk Geraldine tanpa memberikan jarak sedikit pun. Dia tak akan mengingatkan sang wanita perihal obat kontrasepsi, biarlah lupa dan mulai ada proses pembuahan di dalam rahim supaya mereka bisa lebih terikat lagi.


Baru juga ingin tidur, tapi Roxy yang ada di balik punggungnya berisik terus, membuat kelopaknya kembali terbuka dan berbalik badan hingga bisa menatap sosok tampan di depan matanya.


“Berikan aku alasan kenapa harus menyetujui permintaanmu?” tanya Geraldine. Sorot matanya begitu tajam. Seharusnya pria itu membencinya setelah apa yang ia lakukan, mencampakkan, mempermalukan di depan umum dengan menolak lamaran. “Apa kau tak ada rasa ingin balas dendam sedikit pun terhadap perbuatanku yang menyakiti hatimu?”


“Ada, aku sangat ingin balas dendam denganmu, menyakiti hatimu sebagaimana kau torehkan luka untukku.” Roxy si manusia yang begitu terang-terangan menjawab. Bahkan ia adalah orang yang berani membalas tatapan tajam Geraldine tanpa rasa takut sedikit pun.


Geraldine menarik sebelah sudut bibir sinis. “Jadi, kau sengaja mengikuti sampai ke club malam, lalu memperingatkan ada orang yang memberikan aku obat perangsang, karena niatmu ingin mengambil hatiku, begitu? Agar kau terlihat seperti pahlawan?”


“Setelah kau berhasil mengambil hatiku, apa yang akan dilakukan lagi untuk rencana balas dendammu?”


“Mencampakkanmu sebagaimana yang kau lakukan padaku.” Mungkin hanya Roxy manusia paling santai mengucapkan rencana balas dendamnya pada orang yang bersangkutan secara langsung. Sedikit aneh, tapi begitulah pria dingin itu. Memang awal rencananya seperti apa yang ia katakan, walaupun pada akhirnya entah sesuai rencana atau tidak.


Geraldine justru tertawa mengejek dan terkesan sinis. “Percaya diri sekali kau bisa membuatku patah hati.” Tangannya menepuk pipi Roxy hingga menimbulkan suara, tapi bukan berupa tamparan keras. “Mari kita buktikan apakah kau berhasil membalaskan dendam sakit hatimu itu padaku,” tantangnya kemudian.


Masih saja tak berekspresi, Roxy merengkuh pinggul Geraldine dan tatapan matanya mulai memancarkan perasaan yang sesungguhnya. “Aku sedang tak berkompetisi denganmu,” tegasnya diakhiri sebuah senyuman khas. “Tapi, keyakinanku membawa tekad untuk membuatmu jatuh cinta bagaimana pun caranya.”


“Jangan terlalu percaya diri, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta pada seorang pria,” tegas Geraldine. Dia hanya pandai menutupi perasaan saja, bukan berarti tidak memiliki hati.


“Oh, ya? Bagus, aku menyukai tantangan.” Roxy menggenggam tangan yang tadi digunakan untuk menepuk pipinya, justru ia membalas dengan meninggalkan kecupan di permukaan kulit sang wanita. “Suatu saat, bibirmu itu pasti akan mengatakan cinta untukku,” ucapnya, lalu mencium sang wanita dengan lembut supaya menyalurkan debaran di dada.


Biasanya setelah bercinta pasti akan menjadi mesra, tapi berbeda dengan Roxy dan Geraldine justru memperdebatkan masalah balas dendam dan saling menantang satu sama lain. Memang sedikit aneh pillow talk dari pasangan itu.