
Roxy merasa ada yang aneh dengan Tuan Giorgio. Biasanya kalau ia tidak bekerja dengan alasan membawa nama Geraldine pun pasti atasannya tersebut selalu biasa saja. Bahkan terlihat sangat mendukung hubungannya. Tapi, sekarang mendadak bagaikan secara sengaja membuatnya sibuk terus setiap hari. Ketika hari libur juga. Sampai membuatnya tidak ada waktu untuk mencari sang wanita yang teramat dicintai.
“Roxy, di mana kau? Ada tugas mengawal putri presiden.” Suara Tuan Giorgio menyeru tepat di telinga, dikeluarkan dari ponsel yang sedang digenggam olehnya.
“Ini bukan jam kerja, Tuan. Aku sedang menyelesaikan urusan pribadi,” jelas Roxy. Saat ini ia tengah melihat ke sebuah rekaman CCTV jalanan di Helsinki. Tentu mencari titik terakhir Geraldine menghilang.
“Cepat kau berangkat, atau ku kirim kembali ke Italia!” ancam Tuan Giorgio.
“Baik.” Roxy berdecak. Ancaman itu selalu berhasil membuatnya mengikuti perintah. Bukan dia tidak bisa melawan. Tapi tahu diri sajalah kalau Tuan Giorgio dan Dominique adalah orang yang sangat berpengaruh. Pasti serius kalau hendak mengembalikan ke orang tuanya.
Setiap kali mendapatkan perintah, Roxy berhenti sejenak mencari keberadaan Geraldine. Dia tidak ada yang membantu. Mike, tangan kanannya pun tidak mau direpotkan. Jadi, dilakukan sendiri semua peretasan dan pengumpulan informasi.
Ditambah setiap hari Roxy selalu mendapatkan telepon dari Tuan Giorgio untuk melakukan tugas ini itu yang bukan merupakan bagiannya. Jadilah satu bulan ini belum mendapatkan hasil apa pun karena waktunya habis untuk bekerja.
Bagaimana Roxy semakin tak curiga dengan kondisi Geraldine, kalau keluarga wanita itu saja sampai turun tangan dan ikut campur. Membuatnya semakin pusing dan tentu saja sulit menemukan keberadaan sang wanita. Sebab, menurut pemikirannya, Tuan Giorgio dan Dominique sudah ikut andil.
Meskipun lelah karena waktunya habis untuk tugas, tapi Roxy tetap melakukan pencarian Geraldine. Rela mengurangi jam tidur. Anggaplah sebagai pengorbanan untuk membuktikan seberapa besar dan serius cintanya.
“Sejauh apa pun kau pergi, pasti akan ku temukan. Sepintar apa pun kau beralasan, aku bisa mengetahui yang kau sembunyikan,” ucap Roxy ketika ia berhasil secara sembunyi-sembunyi mengcopy riwayat perjalanan mobil Geraldine yang ada di mansion Giorgio.
Mata tajam Roxy melihat secara seksama, tempat terakhir yang didatangi oleh wanitanya. “Rumah sakit? Untuk apa? Jangan-jangan dia memiliki kondisi kesehatan yang buruk,” gumamnya.
Helaan napas Roxy keluar sangat kasar. “Maaf Tuan, kali ini aku membangkang sebentar,” ucapnya dan tidak berniat mengangkat telepon.
Kaki Roxy pun terayun keluar ruangan, lalu ia menuju lift. Tepat sekali ketika pintu stainless terbuka, muncullah sosok Tuan Giorgio.
“Kau sengaja tidak mengangkat teleponku?” tanya Tuan Giorgio dengan tatapan tajam.
“Ya.” Memang Roxy ini tidak bisa beralasan sedikit pun. “Tolong bebas tugaskan untuk hari ini karena aku ingin ke rumah sakit,” pintanya.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, tak ada kata libur.”
Untuk saat itu Roxy merutuki mulutnya yang tidak bisa berbohong. Andai saja ia berkata sakit, pasti diberi izin pergi ke hospital.
“Kau harus membantu tim porche untuk melakukan tugas ke Denmark, mereka kekurangan orang.” Ada saja perintah yang diberikan oleh Tuan Giorgio setiap harinya. Memang tidak ada kaitan dengan tugas Roxy sebagai pemimpin. Semua hanya akal-akalannya saja agar menyibukkan pria itu dan menyukseskan rencana putrinya.
Roxy menghela napas dengan tangan terkepal erat. ‘Ingin memperjuangkan cinta, ada saja rintangannya, sialan!’ umpatnya dalam hati.