
Geraldine menyentak paksa tangan Roxy hingga berhenti menggam dirinya. “Tak ada cara apa pun, kita sudah berakhir dan aku tidak mencintaimu, apakah kurang paham dengan maksud ucapanku itu?”
“Bibirmu mengatakan tidak mencintaiku, tapi tindakanmu berbeda. Kau bahkan berniat membesarkan anakku seorang diri, bukan? Jika memang tak ada cinta untukku, mana mungkin kau rela hamil milikku?”
“Kata siapa? Memangnya kau ada bukti kalau aku hamil?” Geraldine menarik sebelah sudut bibir. Aman, pakaiannya longgar jadi tidak akan terlihat kalau ada yang sudah sedikit buncit walau belum nampak jelas.
“Aku mencari tahu sendiri.”
“Sok tahu!” Geraldine mengibaskan tangan mengusir. “Pergi sana! Aku malas melihat wajahmu.”
Roxy terdiam, dia terus dicampakkan padahal sudah berusaha keras menunjukkan seluruh rasa yang dimiliki, kesungguhan dan keseriusannya masih belum dipandang oleh Geraldine. Dia menghela napas. “Mungkin memang salahku pernah mengatakan kalau ingin balas dendam denganmu hingga membuat kau tak percaya lagi dengan apa pun usaha yang sudah ku tempuh.”
“Memang.”
“Ku tanya sekali lagi dan untuk yang terakhir kalinya. Apa kau ingin aku tetap tinggal di sini menemanimu? Atau pergi? Aku juga manusia yang memiliki harga diri, ketika tak dipandang lagi, juga direndahkan, diremehkan, akan melakukan hal sama sepertimu.” Roxy berhenti sejenak. Kali ini dia sedang marah sehingga kalimat sepanjang itu diucapkan menggunakan nada tegas penuh penekanan. “Jadi, apa keputusanmu?”
“Pergi saja, aku tidak butuh kau!” Geraldine meninggalkan Roxy begitu saja dan langsung masuk ke dalam kamar. Pintu juga ditutup dengan kasar.
Helaan napas kasar keluar dari bibir Roxy. “Resiko mencintai wanita keras kepala, harus mengalah dan bersabar.”
Daripada terus bertengkar dan membuat kesehatan pikiran wanita yang tengah mengandung anaknya itu terganggu, maka Roxy pun memilih keluar saja dari apartemen. Tapi, dia tak pergi dari Los Angeles. Pria itu duduk di sebuah sofa yang ada di lobby.
“Aku akan mencari cara agar bibir wanita itu berkata jujur jika mencintaiku,” gumam Roxy.
Setelah melamun beberapa saat, akhirnya pria itu pun berdiri karena sudah mendapatkan ide. Dia akan segera melakukan rencana tersebut meski sedikit beresiko.
...........
Sejak ia mengusir Roxy, pria itu terus mencoba menelepon. Tapi, tidak diangkat setelah tahu nomor yang terus mengganggunya adalah Daddy dari anak yang sedang dikandung. “Dasar keras kepala,” gerutunya. Padahal mereka sama-sama memiliki sifat mirip.
Tengah malam begini Geraldine justru memikirkan pria itu, dasar wanita munafik. Dia keluar kamar untuk melihat apakah Roxy kembali atau tidak, ternyata tak ada batang hidung yang dicari.
Tubuh tinggi dengan wajah galak itu berdiri di balkon, melihat ke bawah di mana banyak kendaraan berlalu lalang. “Dimanapun kau berada, semoga baik-baik saja,” harapnya.
“Jika sekarang kau menghubungiku, maka akan ku angkat dan persilahkan untuk menemani tidur di sini.”
Sedang melamun, tiba-tiba Geraldine terkejut karena ponsel di genggaman berbunyi. “Roxy?” Dia sudah senang karena berpikir bahwa itu adalah pria yang sedang ditunggu.
Tapi nyatanya adalah nomor baru tapi telepon nirkabel, bukan ponsel. Tentu membuat Geraldine mengernyit. “Aku tak kenal,” dia mengabaikan.
Kembali berbunyi lagi sebanyak tiga kali, Geraldine baru penasaran kenapa orang itu menghubunginya terus. “Mungkin ini Roxy yang kehabisan baterai.”
“Halo?” Akhirnya diangkat juga oleh Geraldine.
“Apakah benar ini dengan Nona Geraldine?”
“Iya, ini siapa?”
“Saya dari Dignity Health California Hospital.”
“Ya, apa apa?” Geraldine tidak merasa memiliki urusan dengan rumah sakit itu. Dia juga tak kontrol kehamilan di sana.
“Apakah Anda memiliki kerabat bernama Abelard Roxy Alphonse?
“Dia Daddy dari anak yang sedang ku kandung.”
“Pria itu sedang ditangani di rumah sakit karena mengalami kecelakaan.”