
Jika Roxy sering menjaga dan menyayanginya sepenuh dan setulus hati, maka sekarang saatnya Geraldine yang melakukan hal tersebut untuk suami tercinta. Dia akan memastikan apakah kedatangan Alesha sungguh mencari tempat aman dari jangkauan mertuanya yang gila, atau justru bersekongkol.
“Kalian berdua.” Geraldine menunjuk Mike dan Roxy menggunakan sorot mata. “Keluar sebentar, aku ingin berbicara dengan Alesha,” titahnya kemudian.
“Oke.” Roxy tidak perlu basa-basi menanyakan tujuan, dia tahu apa pun yang dilakukan oleh Geraldine pasti memiliki maksud. “Mike, ayo.”
Roxy menyempatkan untuk mengusap puncak kepala dan meninggalkan kecupan di sana. “Jangan terlalu emosi, ingat kalau sedang hamil,” bisiknya kemudian.
“Iya.” Geraldine mengangguk.
Pandangan Roxy beralih pada adiknya untuk memberikan peringatan juga. “Kau, jangan membuat istriku kesal, juga tidak boleh melukainya. Dia sedang hamil anakku. Jadi, kalau sampai—” Belum sempat selesai ucapannya, sudah dipotong oleh Alesha.
“Iya, iya, berisik sekali.” Bibir Alesha mencebik sebal. “Memang benar ya di mana-mana perebut pasti diutamakan, bahkan merebut kakak orang pun sekarang adiknya yang disisihkan.”
“Kau sering keterlaluan kalau sudah berbicara, aku tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi,” jelas Roxy.
“Iya, sana keluar.” Alesha mengibaskan tangan agar kakaknya lekas meninggalkan ruangan. Cukup penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh iparnya. Mengajak bertengkar atau berdebat? Oke saja akan dilayani.
Kini, tersisa mereka berdua. Geraldine memastikan kalau pintu benar-benar tertutup rapat, barulah ia bisa melakukan apa tindakan yang diambil.
“Mau apa kau? Sekarang hanya ada kita berdua,” tanya Alesha dengan suara ketus.
“Buka bajumu, semuanya!” titah Geraldine, tangannya bersidekap, angkuh sekali wanita itu.
Geraldine berdecak malas, mengurai kedua tangan untuk dijadikan tumpuan ke atas meja. Ia berdiri tegap tanpa menjawab tuduhan yang tidak penting. Sudah jelas normal sampai hamil, bisa-bisanya berpikir bahwa pecinta sesama jenis. Konyol.
Kaki Geraldine terayun menuju sebuah almari kecil yang di atasnya terdapat berbagai benda yang biasa dibutuhkan secara dadakan. “Mau buka sendiri atau ku robek menggunakan gunting?” ancamnya. Saat berbalik, ada benda tajam tersebut di tangannya.
Kedua bola mata Alesha membulat sempurna. Kakaknya buruk sekali dalam memilih pasangan. “Gila!” umpatnya. Mau tak mau ia berdiri. “Ku buka sendiri.” Daripada disobek yang artinya keluar dengan telanjang.
“Oke, cepat!” Memang Geraldine si iblis cantik tak pernah gagal jika mengintimidasi.
“Sudah, jangan iri dengan tubuhku yang seksi.” Alesha berkacak pinggang, memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya.
Geraldine tak menanggapi, tapi semakin mendekat. Pandangan terus meneliti dari atas sampai bawah. Mulai dari wajah Alesha banyak lebam, lalu berangsur ke tubuh yang memiliki bekas cambuk, sepertinya dari sabuk atau tali.
Semakin ingin memastikan, Geraldine menyentuh wajah sang ipar dan sengaja menekan.
“Shit! Sakit, bodoh!” umpat Alesha seraya menepis tangan istri kakaknya.
Geraldine hanya menyunggingkan senyum. Dia beralih memutar tubuh Alesha, lalu melakukan hal sama di luka cambuk.
“Geraldine Brengsek ...!” teriak Alesha. “Kalau kau tidak percaya dengan lukaku, jangan ditekan juga, sialan!”
“Sorry, aku hanya ingin memastikan kalau kau benar-benar terluka, bukan sandiwara untuk mencari simpati suamiku.” Geraldine sudah puas, ternyata bukan buatan. “Pakai lagi bajumu, dan buah dadamu terlalu turun, kau keseringan tak memakai bra, jadi kendur.” Masih sempat saja dia untuk balas menghina.