Pretty Devil

Pretty Devil
Part 48



Seharusnya jika rindu langsung saling memeluk. Bagi pasangan yang normal. Tapi, berhubung Geraldine dan Roxy adalah manusia saling cinta yang memiliki gengsi melebihi tinggi Burj Khalifa—bangunan tertinggi di dunia, jadilah dua insan itu terlihat layaknya orang yang sedang bermusuhan. Padahal, di hati masing-masing sangatlah senang bisa melihat wajah satu sama lain lagi. Terutama si wanita yang masih belum mau menurunkan ego, kalau prianya tentu memang pembawaannya sejak dahulu terlihat dingin di luar tapi hangat di dalam.


“Jika aku menyebutkan semuanya, apakah kau yakin tidak akan mengelak?” tanya Roxy. Pria itu terus berusaha mendempel pada sang wanita meskipun Geraldine terus bergeser tempat duduk. Mari lihat siapa yang lebih kuat bertahan.


Geraldine masih tetap angkuh, mata yang memancarkan kilatan sinis itu menatap remeh Roxy. Padahal sekarang ingin sekali langsung menerjang tubuh kekar yang selama ini begitu didambakan dan membuatnya gila sepanjang hari karena terus berputar dalam benaknya. “Memangnya wajahku terlihat seperti orang yang memiliki sifat suka mengelak?” Dia bertanya balik diakhiri suara decakan karena pria itu meremehkannya.


“Ya, bisa jadi kau tidak akan mengakui dan memilih menghindar lagi, seperti pengecut yang membuat keputusan pergi ke Los Angeles dibandingkan menghadapiku secara langsung.”


“Bilang saja jika kau belum tahu alasanku mencampakkanmu! Jangan menghinaku seorang pengecut!” Geraldine mendorong dada bidang Roxy dengan kekuatan hingga pria itu menyingkir dan ada jarak diantara keduanya. Langsung berdiri supaya tidak dipeluk kembali. “Bedakan mana pengecut untuk menghindar dan mana sedang menguji.”


Kaki Geraldine melangkah menuju kamar. Sialan memang pesona Roxy itu, membuat dadanya berdebar. Padahal pria itu hanya berpakaian alakadarnya, kaos abu-abu yang dibalut dengan jaket denim lengan digulung hingga tato kelihatan. Melihat itu saja membuat dirinya begitu ingin melakukan seperti malam-malam yang biasanya, apa lagi kalau bukan bercinta. ‘Tahan, Geraldine! Ingat harga dirimu!’ Dia sampai mengumpat diri sendiri dalam hati karena mudah sekali terbakar hasrat ketika berdua.


“Beberapa bulan yang lalu kau bertemu dengan adikku di Milan, setelah dari sana, semua perilakumu mulai berubah,” ucap Roxy yang saat ini masih duduk dan menatap punggung Geraldine.


“Lawan bicaramu di sini, untuk apa kau melihat ke arah lain?” tegur Roxy. “Berbaliklah dan tatap mataku! Kecuali kau memang pengecut seperti yang ku katakan tadi, maka silahkan kita berkomunikasi tanpa saling memandang satu sama lain.”


Geraldine mengepalkan tangan, pria itu sungguh tahu apa yang sangat dibenci, yaitu diremehkan. Jadilah ia berbalik. “Memangnya kau pikir hanya dengan bertemu adikmu bisa membuatku mencampakkanmu?” Wajahnya sengaja menarik sebelah sudut bibir.


“Tidak, tapi kau tersinggung dengan kata-kata yang diucapkan oleh adikku. Aku yakin kalau ancaman yang dia berikan padamu tidak cukup membuatmu takut dan memilih menjauh dariku.”


“Langsung saja pada intinya!”


Baiklah, nampaknya Geraldine sudah tidak sabar. “Tapi hinaan dari Alesha yang membuatmu menjadi berpikir hingga memilih jalan serumit ini. Adikku membuatmu tersinggung dengan kata-kata yang merendahkanmu. Kau tidak ingin seperti apa yang dikatakan, tak mau terlihat bagaikan wanita murahan yang tidak ada harga dirinya, bahkan pelacur pun masih dibayar sedangkan kau tidak. Benar bukan apa yang ku katakan?”