
Mendengar suara Roxy langsung membuat Geraldine berhenti menangis. Dia yang sedang memeluk pria itu dengan kepala ditempelkan pada perut pun otomatis mendongak. Sudah ada tangan kekar yang mengusap rambutnya.
Mata wanita itu melotot kesal ke arah Roxy yang tersenyum tanpa rasa berdosa. “Kau mengerjai aku?” tanyanya seraya mengusap kasar jejak basah di wajah.
“Sedikit, kau selalu tak berkata jujur padaku, jadi aku terpaksa melakukan ini,” jelas Roxy seraya perlahan merubah posisi menjadi duduk.
“Bisa-bisanya kau melakukan ini padaku!” Geraldine mencubit lengan Roxy untuk meluapkan rasa kesal. “Kau tahu? Jantungku rasanya ingin keluar ketika melihatmu tidak bernapas, menyebalkan!” geramnya. Dia tidak ada ampun mencubit pria itu terus. “Bahkan kau berpura-pura mati? Bagaimana bisa jantungmu tak terdengar?”
Roxy menarik tangan Geraldine agar wanita itu berhenti marah dengannya. Membawa tubuh yang begitu dirindukan itu duduk ke pangkuannya. “Aku itu anggota Cosa Nostra yang paling unggul, tentu berpura-pura mati sudah terlatih.”
Geraldine masih kesal, dia terus memberontak, enggan dipeluk oleh Roxy. “Menyesal aku menangis dan buru-buru datang ke rumah sakit, ternyata kau tak sakit sungguhan.” Dia beranjak berdiri lagi.
Roxy terkekeh, wanita itu masih saja jual mahal padahal tadi sudah jelas mengungkapkan cinta untuknya. Tapi, dia tidak pernah menyerah begitu saja.
Tubuh kekar tersebut turun dari brankar, semakin melotot saja Geraldine saat melihat tidak ada luka satu pun yang dimiliki Roxy.
“Jadi, semua hanya sandiwara?” tanya Geraldine memastikan.
“Ya, aku ingin mendengar semua kejujuran darimu, mau memastikan apakah kau sungguh tidak peduli padaku. Ternyata, yang kau katakan selama ini hanyalah kebohongan.” Roxy menggenggam dua tangan wanita pujaan hati dan menatap lekat Geraldine. “Kau tadi sudah berjanji kalau aku membuka mata tak akan mengusir dan kita akan membesarkan anak berdua, aku menagih itu.”
Tapi, namanya juga iblis cantik, dia menghempas tangan tersebut. “Aku masih kesal denganmu karena membohongiku!”
Geraldine merotasikan tubuh sebesar seratus delapan puluh derajat. Dia hendak pergi meninggalkan sang pria. Ada rasa malu karena ketahuan kalau ternyata memiliki perasaan pada Roxy.
Akan tetapi, Roxy bergerak cepat. Dia langsung sigap memeluk sang wanita dari belakang, menahan Geraldine supaya tak pergi begitu saja. Juga menyandarkan dagu di pundak si iblis cantik nan galak.
“Geraldine Gabriella Girogio, kau tidak perlu mengelak lagi, aku sudah mendengar kata hatimu yang sesungguhnya bahwa kita memang saling cinta,” ucap Roxy sembari mengecup pundak yang terbalut piyama.
“Lantas kenapa kalau aku mencintaimu?”
Masih ada nada kesal terdengar di telinga Roxy. “Apakah kau masih takut terlihat murahan?”
“Ya!”
Roxy melepas rengkuhan, lalu berpidah menjadi di hadapan Geraldine. Mengusap wajah yang sangat cantik meski tanpa senyum. “Sejak awal, aku tak pernah menilaimu murahan atau bagaikan wanita pemuas napsu. Di mataku, kau adalah wanita yang ku cintai. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau, rumah, uang, kendaraan, atau silahkan request padaku.”
Pria itu berhenti berbicara untuk sejenak, mengecup kening Geraldine begitu lama. Roxy sedang menyalurkan betapa dalam rasanya pada wanita itu. “Ku bayar apa yang sudah kau berikan padaku dengan cinta serta kasih sayang. Menikahlah denganku, di mataku kau sangat berharga,” pintanya.