
“Kau tidak perlu tahu, dan jangan pernah mencari tahu penyebab aku memutuskan untuk pergi dari keluarga Alphonse,” ucap Roxy. Cukup dirinya saja yang suka membangkang, adiknya jangan sampai. Kasian juga Daddynya kalau semua anak kabur. Meskipun sangat membenci orang tua kandungnya yang tersisa satu di dunia, tapi ia masih memiliki secuil hati nurani, walaupun sangat dikit persentasenya, bahkan nol koma.
Alesha mencebikkan bibir. “Terus, hanya kau yang boleh tahu? Namanya tidak adil! Kau enak bisa hidup bebas, sedangkan aku harus mengikuti aturan Daddy yang suka mengatur,” gerutunya.
Roxy mulai pusing mendengarkan ocehan sang adik yang terlalu banyak bicara. Ia mengambil sepotong pizza, lalu dimasukkan ke dalam mulut Alesha. “Diam dan habiskan makananmu!” titahnya.
Mengingat sifat Alesha yang ingin seenaknya sendiri tapi terhalang banyak aturan, tentu saja membuat wanita itu justru ingin tahu alasan di balik keputusan kakaknya yang memilih pergi. Pasti bukan sekedar karena sifat Daddy mereka yang otoriter. ‘Baiklah jika kau tak mau memberi tahu padaku, maka akan ku cari tahu sendiri,’ gumamnya dalam hati sembari mulut mengunyah pizza.
Roxy sudah menghabiskan spaghetti dalam dua kali suap. Ia tidak mau terlalu lama di Italia. Pria itu pun segera berdiri dan menuju kasir untuk membayar. Lalu kembali lagi ke meja tanpa duduk.
“Ini ponselmu.” Roxy meletakkan benda milik Alesha ke atas meja. “Makanan sudah ku bayar, tapi aku tak bisa mengantarmu kembali. Jadi, pulanglah dengan taksi.” Ia juga meninggalkan uang sebanyak seribu euro untuk sang adik.
Alesha yang masih menikmati makanan pun mendongak sampai bisa menatap Roxy. “Memangnya kau mau ke mana?”
“Pesawatku dua jam lagi terbang ke Finlandia,” jawab Roxy. Ia menepuk puncak kepala sang adik dengan lembut. “Kau bisa datang ke Helsinki kalau merindukan aku, rumahku selalu terbuka untukmu.”
Untuk sekian lama, akhirnya Alesha mendengarkan ungkapan kalimat dari seorang kakak yang membuat hatinya tersentuh. Apa lagi merasakan kalau Roxy mencium puncak kepalanya ketika berpamitan. Sosok saudara yang sangat ia inginkan.
“Jangan ulangi lagi menghina wanitaku, kau juga seorang wanita.” Begitulah kiranya penutup dari Roxy.
...........
Urusan di Milan selesai, Roxy juga sudah mendapatkan jawaban di balik Geraldine memilih meninggalkan dirinya walaupun benar atau tidak. Tapi, akan dipastikan pada wanitanya sekarang juga. Ia pun langsung kembali ke Helsinki.
“Aku harus menjelaskan pada Geraldine,” ucap Roxy ketika kaki memijak di aspal kota tempat tinggalnya sekarang.
Pria itu tidak pulang ke Cosa Nostra ataupun rumah sederhananya. Tapi, justru menuju perusahaan Geraldine untuk mencari keberadaan wanitanya. Seakan tak memiliki lelah kalau berhubungan dengan orang yang dicintai.
Roxy tidak bertanya terlebih dahulu pada resepsionis. Dia langsung menyelonong saja naik ke atas dan menuju ruang CEO. Tanpa mengetuk, mendorong pintu dan mendapati di dalam sana kosong. Barulah ia menemui sekretaris Geraldine yang duduk di dekat sana.
“Geraldine di mana?” tanya Roxy tak sabaran.
“Nona Geraldine cuti selama satu tahun, Tuan.”
Roxy menaikkan sebelah alis. Tumben sekali wanita itu cuti dalam kurun waktu lama, biasanya juga gila kerja. “Alasannya?”
“Kurang tahu, beliau adalah CEO di perusahaan ini. Jadi, kalau izin cuti langsung ke Tuan Giorgio. Kalau Anda ingin tahu, tanya saja ke yang bersangkutan.”