Pretty Devil

Pretty Devil
Part 63



Tak butuh waktu lama untuk Roxy mengesahkan pernikahan bersama Geraldine. Wanita itu tidak menuntut pesta yang membutuhkan banyak persiapan. Jadi, mereka langsung mendaftarkan ke Badan Kependudukan, membawa seluruh berkas yang diperlukan. Kebetulan sekali memang hari itu ada petugas yang bisa melayani keduanya.


Dengan pakaian yang teramat sederhana, bahkan alakadarnya. Roxy dengan celana jeans, kaos, dan dibalut oleh jaket. Kemudian Geraldine mengenakan celana abu-abu yang tak ketat di bagian perut, ditambah atasan crop yang memperlihatkan area pusarnya. Mereka menikah dengan gaya seperti itu.


Tidak ada gaun maupun setelan jas, apa lagi dekorasi. Hanya saksi yang mereka perlukan. Jadilah memanggil keluarga Giorgio untuk menyusul ke Badan Kependudukan, dan Roxy meminta Tuan Dominique sebagai saksinya.


Sungguh pernikahan keluarga konglomerat yang tidak menunjukkan seberapa kaya mereka. Bahkan terlampau sederhana.


Roxy tidak masalah, asalkan Geraldine senang dengan pilihan yang diambil. Toh, makna pernikahan bukanlah dari gaun, dekorasi, banyaknya tamu undangan, atau pesta yang diadakan. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain andai saja ada yang menggunjing caranya menikahi wanita dicintai. Yang tahu kehidupannya adalah orang-orang disekitarnya. Peduli apa dengan ocehan di luar sana.


Paling utama adalah Roxy dan Geraldine akan mengikrarkan janji suci yang tak akan pernah ia nodai, sesulit apa pun rintangan yang akan di hadapi. Dan keduanya saat ini sedang duduk di dalam sebuah ruangan, menanti keluarga datang.


“Yakin kalian mau menikah dengan pakaian seperti itu?” Komentar pertama yang keluar dari mulut seorang Nyonya Giorgio setelah menyaksikan outfit sepasang calon pengantin yang tidak normal.


“Memangnya kenapa? Ada yang salah?” Geraldine menaikkan sebelah alis. Melihat penampilannya dari atas sampai bawah. Padahal, menurutnya itu biasa saja. Dibandingkan memakai gaun, dia lebih suka seperti itu. “Yang penting aku tak telanjang.”


“Jika tahu kalau kalian langsung menikah hari ini juga, aku akan bawakan dress dan setelan jas supaya lebih terlihat rapi dan normal,” sahut Mommy Gabby.


“Ini normal menurutku.” Roxy akhirnya ikut menanggapi. Memang cocok sudah mereka berdua, masa bodo dengan penampilan. Toh wajah tetap tampan dan cantik, walau alakadarnya dan sang wanita tak memoles make up, bahkan lipstik pun tidak.


“Sudahlah, terserah mereka.” Daddy George merangkul pundak sang istri dan diajak duduk ke kursi.


“Ikhlas sedikit datang ke pernikahan kembaranmu,” balas Geraldine dengan bibirnya berakhir mencebik.


“Aunty ....” Faydor dan Galtero menghampiri Geraldine.


“Ya, Sayang?” Tangan Geraldine terulur membelai lembut rambut dua keponakannya.


“Katanya Aunty benci Uncle Roxy, kenapa menikah dengannya?” tanya Faydor begitu polosnya.


Membuat Roxy melirik ke arah Geraldine. “Benarkah kau membenciku?” Matanya menyelidik.


Geraldine mengeram kesal dalam hati. Ingin mengumpat, tapi yang menyeletuk adalah anak kecil. Sehingga hanya helaan napas kasar untuk memunculkan kesabaran menghadapi si kembar yang terlampau membuatnya malu di depan Roxy lagi.


“Menurutmu?” Geraldine balas bertanya dengan alis dinaikkan sebelah. Ia selalu bisa membuat Roxy mendapatkan jawaban sendiri. “Jika aku membencimu, apakah kita akan berakhir di sini?”


“Tapi Aunty mengatakan kalau Uncle Roxy itu menyebalkan.” Galtero menambah membakar suasana. Mereka hanya mengatakan apa yang sempat didengar saja, tidak bermaksud merusak suasana.


Kedua bola mata Geraldine melotot ke arah keponakannya, bahkan sepertin nyaris ingin keluar. Sudah tadi ditelanjangi oleh mommynya dengan mengatakan kelakuannya yang seperti cacing kepanasan, sekarang ditambah dua bocah itu. “Uncle Roxy memang menyebalkan, Sayang, tapi aku mencintainya.”