
Kalau sudah kepalang rindu setengah mati dan terbayang-bayang tubuh Roxy sepanjang hari, Geraldine sungguh tersiksa. Padahal, sebelum tahu hamil pun tidak pernah ia resah seperti sekarang.
Sudah lima minggu lamanya ia di benua yang jauh dari Eropa. Tapi, semakin hari sangat tersiksa dan rasanya ingin sekali tidur dipeluk.
“Manja sekali kau, Geraldine!” Dia sampai mengumpati diri sendiri karena sejak tadi tak kunjung terlelap padahal sudah ingin istirahat.
Geraldine menghela napas kasar seraya merubah posisi menjadi duduk. “Sialan! Jika tahu seperti ini, lebih baik aku tak perlu mengetahui kalau sedang hamil. Pasti tidak akan terbayang-bayang terus.”
Kali ini Geraldine menyesal memeriksakan diri ketika sakit. Bukannya menjadi semakin mandiri, justru dia ingin sekali di manja. Jelas membuat wanita itu geram, pada Roxy tentunya.
“Roxy memang keparat! Kalau bukan karena dia, sudah pasti aku tidak akan hamil seperti sekarang!” Namanya juga ibu hamil yang sedang mengalami perubahan suasana hati sesukanya, Geraldine marah-marah sendiri akibat dihantui terus oleh rasa dekapan dan hujaman dari pria yang sengaja ia campakkan.
Andai Roxy tahu wajah kesal Geraldine sekarang, pasti pria itu akan senang karena berhasil membuat sang wanita menggerutu, bahkan merah bagaikan kepiting rebus. Juga sukses mengikat dengan adanya anak. Walaupun keturunan keluarga Giorgio itu masih tidak mau menurunkan ego untuk kembali ke Helsinki.
Mendengar teriakan Geraldine yang begitu nyaring di dalam apartemen, Mommy Gabby pun membuka pintu kamar sang anak. Dia lalu menyahut gerutuan Geraldine. “Sekarang saja menyalahkan Roxy karena membuatmu hamil, ketika membuatnya pun kau senang setengah mati sampai ketagihan dua tahun.”
Geraldine mencebikkan bibir. Mommynya itu sekarang terdengar bawel di telinganya. Mungkin efek hamil membuat sensitif. “Ya memang enak buatnya, tapi tak terbayang sampai mengandung juga.”
Ibu dan anak itu jadi berdebat kecil. Peneman suasana apartemen supaya tidak sepi.
“Salahkan saja terus putrimu ... bela Roxy, angkat sekalian jadi anak Mommy dan Daddy,” sahut Geraldine dengan nada penuh sindiran.
Mommy Gabby duduk di sofa, matanya tertuju pada Geraldine yang ada di tepi ranjang. “Main aman kalau tidak mau hamil, salahmu tak belajar tentang reproduksi.”
Geraldine mencebikkan bibir untuk kesekian kali. Wajahnya ditekuk kesal. Mommynya di pihak Roxy terus sejak tadi. Bukannya membuat anak sendiri lebih tenang, justru sebaliknya. Memang dasar orang tua bagaikan teman ya seperti itu.
“Aku sudah sedia obat kontrasepsi, tapi ditukar oleh Roxy jadi penyubur kandungan. Bukankah pria itu sialan? Licik sekali jadi manusia,” adu Geraldine.
Bukannya mendapatkan tatapan iba dari Mommy Gabby, justru wanita berusia lima puluh tahunan itu tertawa. “Putri Giorgio bisa kalah cerdas dengan orang lain? Mungkin kau mau pensiun saja jadi keturunan daddymu?” Kepalanya menggeleng ketika berhenti berbicara untuk sejenak. Maksud kalimatnya hanyalah candaan. “Salahmu tidak mengecek dulu sebelum konsumsi obat. Seharusnya kau lihat kemasan dan baca nama obatnya. Sekalipun bukan ahli farmasi, tapi kau bisa mencari tahu melalui internet.”
Geraldine mengepalkan tangan. Sudahlah, berdebat dengan mommynya terus hanya membuat kesal. Ada saja yang dianggap kesalahannya. Dia pun berdiri dan menyambar ponselnya.
“Mau ke mana kau?” tanya Mommy Gabby dengan berteriak.
“Memancing keributan,” kelakar Geraldine seraya menutup pintu kamar dan membiarkan orang tuanya di dalam sendiri.