
Geraldine tidak memancing keributan di luar dengan orang yang random tak dikenal. Tapi, wanita itu duduk di balkon, melihat ke arah luar. Langit masih terlihat cerah. Tentu saja karena ia ingin tidur siang tapi tak bisa.
Tangan Geraldine bermain ponsel, menghubungi seseorang. Jelas bukan Roxy. Untuk apa ia jauh-jauh pergi kalau pada akhirnya menghubungi pria itu dan bisa terlacak. Siapa lagi yang ditelepon kalau bukan Daddy George. Orang tuanya yang siaga di Helsinki demi melancarkan segala rencananya.
“Ck! Lama sekali Daddy ini, sok sibuk.” Menggerutu lagi manusia satu itu. Apa tidak sadar dia kalau yang membuat daddynya banyak pekerjaan juga Geraldine? Ya ... ibu hamil yang ini memang sedikit menyebalkan ketika mengandung. Jauh berbeda dari saat tak ada janin di perut. Mungkinkah efek hormon? Anggap saja begitu.
Geraldine terus menghubungi daddynya berulang kali tanpa ampun. Harus sampai di angkat, dia tidak mau tahu.
Dan pada akhirnya, setelah percobaan ke sepuluh, barulah ada suara sapaan dari seorang pria nan jauh di sana. “Apa?” tanya Daddy Geroge dengan ketus. Memang begitu nada bicaranya.
“Bantu aku, Dad,” pinta Geraldine dengan suara yang tidak ada layaknya seseorang sedang memohon.
“Apa lagi?”
“Aku rindu Roxy, ingin melihat wajahnya sekarang.”
“Oh ... sudah bosan bersembunyi? Pulanglah kalau begitu!”
“Ck! Tidak mau, aku hanya ingin menyaksikan wajahnya saat ini, cukup dengan video call saja.”
“Ya ... kau telepon dia, begitu saja dibuat susah.”
“Yang ada keberadaanku bisa terlacak oleh Roxy.”
“Lalu, maumu apa?”
“Daddy datanglah secara diam-diam ke Cosa Nostra, ajak Roxy rapat, lalu nanti video call aku. Saat itu, arahkan kamera belakangmu ke pria itu. Biarkan aku melihatnya tanpa dia mengetahui,” jelas Geraldine memberikan ide.
“Tidak bisa.”
“Pelit sekali membantu anak sendiri.”
“Masalahnya kau terlambat, Roxy sedang ku beri tugas ke Denmark.”
“Berikan saja perintah lagi untuk dia kembali.”
Wah ... luar biasa memang hormon kehamilan Geraldine itu. Membuat Daddy George yang jarang kesal dengan anak sendiri pun sekarang menjadi gemas pada permintaan putrinya yang aneh-aneh.
“Cucumu ini yang minta, bukan aku,” sanggah Geraldine.
“Alasanmu saja!”
“Ya memang.”
Seketika hening karena tidak ada yang berbicara lagi antara Geraldine atau Daddy George.
“Dad? Apa kau pingsan?” tanya Geraldine.
“Tidak.”
“Kenapa kau diam saja?”
“Aku sedang bekerja, urusan kantormu sedang banyak.”
“Oh ... jadi bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Mau membantuku?”
“Ck! Iya, besok kalau Roxy sudah kembali dari tugas. Tapi, ini yang terakhir, ya? Jika kau masih merindungan pria itu, ku seret pulang!” Daddy George mengancam karena sejak putrinya hamil, membuatnya yang direpotkan dengan permintaan ini itu.
“Iya ... i love you, Daddy.”
“Hm.”
Panggilan pun terputus, Geraldine tersenyum sendirian sembari mengusap perut. “Sabar baby, tunggu Daddymu pulang bertugas, nanti kalian bisa melihatnya.”
...........
Namanya juga Daddy sayang anak, walaupun ketika di telepon menggerutu kesal dengan permintaan putrinya yang sedang hamil, tapi tetap saja Tuan Giorgio mengusahakan untuk memenuhi. Ia ke Cosa Nostra ketika mendapatkan kabar kalau tim porche yang berangkat ke Denmark sudah pulang.
“Roxy, jangan langsung kembali ke ruangan kalian, ke ruang meeting sekarang juga, aku ingin mendengar laporan!” titah Daddy George pada seorang pria yang baru berjalan masuk dengan tubuh tegap.