
Usia kandungan Geraldine sudah masuk delapan bulan. Roxy rutin setiap cek ke dokter selalu ikut, menemani istrinya. Awalnya, ia pikir akan mendapatkan anak kembar karena ada gen itu dari keluarga Giorgio, tapi ternyata hanya satu. Tapi, tidak masalah, berapapun itu yang penting merupakan anugerah dari Tuhan yang dipercayakan pada mereka.
Baik janin maupun ibunya, semua sehat. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Roxy selalu memberi makan tiga kali sehari. Tapi, makan sungguhan, bukan istilah yang lainnya. Kalau yang satu itu, dia membatasi karena dokter menyarankan supaya jangan melakukan setiap hari.
Walaupun pada akhirnya Geraldine pasti akan berakhir cemberut. Luar biasa memang hasrat wanita itu saat hamil. Lebih bergairah padahal perut sudah sangat buncit. Roxy yang melihat saja sampai bergeleng kepala karena sang istri sering seperti cacing kepanasan.
“Besok, ya, kemarin sudah. Harus ditahan,” bujuk Roxy. Dia memeluk Geraldine yang tidur membelakanginya. Tangan mengusap perut yang langsung mendapatkan tendangan dari dalam hingga membuat Geraldine sedikit meringis karena terlalu kuat.
Wanita itu baru saja merengek ingin bercinta. Padahal, baru kemarin malam keduanya melakukan penyatuan. Jadi, Roxy tetap harus menolak.
“Anakmu benar-benar menyiksaku,” gerutu Geraldine. Dia menjadi seperti ini sejak hamil, maka semua salah janin dalam perutnya.
Membuat Roxy terkekeh pelan sembari merubah posisi. “Maaf, ya ... jangan nakal pada Mommy. Kasian, dia sudah membawamu kemanapun ia pergi selama delapan bulan ini. Jadi, bersahabatlah.” Dia berdesis sembari mengoceh di depan perut Geraldine.
“Ku rasa dia sedang menghukumku karena membuat daddynya harus melakukan banyak ujian,” keluh Geraldine lagi.
“Mereka belum tahu apa pun, jangan disalahkan.” Bibir Roxy lalu mencium perut buncit, tepat sekali ada tendangan yang melayang. “Wah ... ditolak cium oleh anak sendiri.”
Geraldine menertawakan saat Roxy mengusap bibir. “Pro dengan mommynya dia.”
“Jangan harap kau mendapatkan ciumanku. Jika berani lakukan itu, akan ku paksa kau untuk bercumbu sekarang juga,” ancam Geraldine. Dia tentu tak akan bisa menahan diri kalau sampai mendapatkan serangan mendadak.
Senyum hingga memperlihatkan gigi rapi nan putih itu tercetak jelas di wajah Roxy, dia sangat tampan. Memang sialan! Begitu kiranya umpatan di dalam hati Geraldine.
“Kalau begitu, ku kecup kening saja.” Pria itu benar-benar menurut. Dia hanya meraih kepala bagian belakang, dan mendekatkan bibir untuk mendaratkan kecupan selama lima detik. “I love you,” ujarnya kemudian sembari jempol mengusap pipi wanitanya.
Geraldine hanya tersenyum tanpa membalas. Ingat, dia adalah spesies Giorgio, mengungkapkan cinta tidak perlu berkali-kali.
“Diam saja? Memangnya kau tidak mencintaiku?” tanya Roxy sembari memposisikan kepala Geraldine agar berbantal lengannya.
“Cinta, kalau tidak, mana mungkin aku mengandung anakmu dan menikah denganmu? Buang-buang waktu jika menghabiskan hidup bersama orang yang tidak berarti apa pun untukku.” Geraldine mulai memejamkan mata saat hidungnya bergesekan dengan dada bidang Roxy, wangi yang sangat menenangkan dan begitu disukai hingga membuatnya kecanduan setiap hari.
“Sekarang tidurlah, besok kau harus bekerja lagi, kan?” Sebanyak apa pun Roxy meminta Geraldine cuti persiapan melahirkan, maka sebanyak itu juga terus ditolak. Istrinya selalu merasa bosan kalau tidak melakukan apa-apa. Jadi, lebih baik ke kantor saja.
“Boleh aku tanya sesuatu.” Dari sejak pernikahan sampai detik ini, Geraldine baru teringat sekarang, sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.
“Apa?”