Pretty Devil

Pretty Devil
Part 53



Rasanya bagaikan banyak bunga bermekaran di dalam hati. Geraldine seperti memiliki pelangi saat ini. Kalimat yang diucapkan oleh Roxy sangatlah romantis.


Geraldine sejak tadi menatap mata sang pria. Melihat bagaimana keseriusan yang dipancarkan. Ternyata memang tak ada keraguan sedikit pun. Jujur, dia ingin sekali langsung menerjang Roxy saat ini juga.


Berada di dekat Roxy, begitu cepat membuatnya mengaktifkan radar sensitif. Entahlah, pesona pria itu memang tidak perlu diragukan lagi. Sangat memancarkan karisma yang begitu kuat. Hingga menggoyahkan seluruh ego yang selama ini dibangun atas dasar tidak ingin terlihat bagaikan wanita murahan.


Geraldine mengakui bahwa keseriusan Roxy tak perlu diragukan lagi. Beribu kali ia tolak, pasti selalu berusaha yang terbaik untuknya. Jadi, apa lagi yang diragukan? Nampaknya tidak ada.


Melihat Geraldine hendak membalas ajakan menikah, Roxy sudah menempelkan telunjuk kanan di bibir wanita itu untuk memberikan peringatan. “Aku tidak menerima penolakan apa pun, hanya kata ya yang ingin ku dengar.”


Geraldine menepis tangan kekar tersebut supaya memberikan kesempatan ia berbicara. “Memangnya siapa yang mau menolak?” decaknya.


Jangan harap keromantisan pasangan aneh itu berlangsung layaknya manusia normal pada umumnya. Roxy yang memiliki mimik wajah dingin dipadukan dengan Geraldine yang galak. Meskipun saat ini mereka tengah berada di dalam jarak dekat tanpa jarak sedikit pun, juga pandangan saling beradu. Tapi, kalau orang yang tak paham pasti berpikir kalau mereka sedang melayangkan gencatan senjata alias perang. Padahal, begitulah love language yang ditampilkan, sentuhan secara fisik dan kata-kata, bukan digambarkan dari ekspresi wajah.


“Jadi, kau mau menikah denganku?” Roxy menegaskan sekali lagi maksud jawaban sang wanita supaya tidak salah menyimpulkan.


Geraldine mengangguk. “Ya.”


Begitu juga dengan Geraldine yang menikmati sentuhan di bibir, lama sekali merindukan Roxy yang sangat lembut dalam memperlakukan dirinya. Pada akhirnya, tidak ada ego yang bisa membuat seseorang bahagia, yang ada justru menderita. Namun dengan cinta, kini terasa lebih sempurna.


“Aku sangat senang, akhirnya kau tidak menolakku lagi,” ucap Roxy ketika menyudahi ciuman dan ia menyatukan kening dengan dahi wanita pujaan hati.


Ada seutas senyum menghiasi wajah dingin seorang Roxy, Geraldine bisa melihat karena ada di depan matanya. “Andai ku tolak, apakah kau akan berjuang mengejarku lagi?”


“Tentu saja, tidak ada kata menyerah di kamusku, kecuali kau memilih untuk menikah dengan orang lain, maka disitulah saatnya aku menyerah karena ku anggap perjuangan sudah berakhir.”


“Untung selama ini aku tak pernah berhubungan dengan pria selain kau. Jadi, kau tidak ada saingan,” kelakar Geraldine.


“Itu yang aku suka darimu, tak sembarangan bermain bersama pria lain.”


Roxy berangsur merendahkan tubuh, berjongkok di depan perut Geraldine yang belum terlihat buncit sekali. Dia mengusap bagian tersebut, lalu mengecup berkali-kali. “Kau akan memiliki orang tua lengkap, Sayang, mommymu sudah berhasil daddy takhlukkan.”


Kepala Geraldine jadi ikut menunduk melihat interaksi Roxy pada janin yang belum tahu apa pun. Tangannya terulur untuk mengusap rambut tebal milik sosok pria yang baru saja diterima lamarannya. “Kau terlihat sangat senang, berapa besar rasa cintamu? Mana yang lebih kau prioritaskan? Apakah aku atau karena di dalam perutku sedang ada anakmu?”